Amanatus Sholihah Dinobatkan Wisudawan Terbaik Fakultas Syariah dan Hukum

0
80
Penganugerahan wisudawan terbaik oleh Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Muhibbin, M.Ag. Foto : Dok. Justisia

Justisia.com – Hasil Sidang Senat terbuka wisuda Sarjana (S.1) ke-73, Magister (S.2) ke-40, Doktor (S.3) ke-16, dan Diploma 3 (D.3) Perbankan Syariah ke-22 memutuskan Amanatus Sholihah dari jurusan Hukum Pidana Islam sebagai wisudawan terbaik Fakultas Syariah dan Hukum dari total 208 mahasiswa yang diwisuda dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3.89, Kamis (06/08).

Di peringkat kedua diikuti Khoirun Nisa (Ilmu Falak) dengan IPK 3.89, Tri Mamik (Hukum Ekonomi Syariah) dengan IPK 3.88 di peringkat ketiga, dan Yulia Putri (Hukum Keluarga Islam) dengan IPK 3.86 di peringkat keempat. Masing-masing mewakili jurusan sebagai wisudawan terbaik di jurusan.

Untuk menjadi wisudawan terbaik Amanatus tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah, ia selalu melakukan yang terbaik. Kegagalan di semester lalu yang membuatnya bangkit untuk memperbaiki nilai studi di semester-semester berikutnya.

“Yang menjadi targetku adalah IP (indeks prestasi) harus lebih baik dari semester lalu. Gitu terus,” ungkap wanita asal Tuban via pesan daring, Kamis (06/08).

Mahasiswa dengan judul skripsi “Retraction of the Corruptor’s Political Right in Islamic Criminal Law Perspektive” tersebut mengungkapkan halang dan rintang akan selalu hadir menemani perjalanan menuju tangga kesuksesan. “Alhamdulillah kendala selalu ada. Tapi kendala terbesar adalah diri sendiri”.

Sedang, di urutan kedua sekaligus wisudawan terbaik jurusan Ilmu Falak, Khoirun Nisa dinyatakan lulus di semester 8 dengan IPK yang sama dengan peraih predikat terbaik fakultas, 3.89. Skripsinya berjudul “Analisis Hisab Awal Bulan Kamariah Ali Mustofa dalam Buku Al-Natijah al-Mahsunah”.

Ia tidak pernah memiliki target untuk menjadi salah satu wisudawan terbaik, namun berkat usaha dan doa yang mengantarkannya meraih predikat terbaik jurusan. “Usaha dek, semua berasal dari usaha kita, tentu diimbangi dengan doa,” ucap wanita asal Jepara.

Pencapaian ini tidak sepenuhnya yang ia harapkan, hanya diberikan yang terbaik atas segala usahanya. “Aku gak berdoa untuk menjadi yang terbaik, hanya selalu berharap diberikan yang terbaik dari Allah,” jelasnya saat dihubungi via aplikasi pesan berbalas, Whatsapp, Rabu (05/08).

Ia menambahkan, dukungan kedua orang tua dan orang-orang di sekitarnya adalah pelejit semangat utamanya. “Kalau sudah inget orang tua, pasti tancapan semangatnya menggebu”.

Pihaknya sangat bersyukur atas penghargaan yang dianugerahkan kepadanya.

“Bagi saya, yang terbaik dari Allah tidak harus menjadi yang terbaik, kalaupun kebetulan menjadi yang terbaik jadikan itu sebagai reward atas usaha yang telah kita lakukan”.

Setelah wisuda, Nisa berencana untuk melanjutkan studinya ke jenjang magister. “Kalau rencana kuliah ada, tapi mau ngabdi dulu di pondok asal dulu”.

Sama dengan Nisa, wisudawan terbaik jurusan Hukum Keluarga Islam, Yulia juga berencana untuk melanjutkan studi di jenjang magister jika ada beasiswa.

Wisudawan dengan judul skripsi “Keabsahan Saksi Perempuan dalam Penetapan Radhaah (studi analisis pendapat Imam al-Syarkhasi dan Ibn Qudamah)” menyatakan kedisiplinan adalah modal utama.

Menurutnya, keberhasilan yang didapat tak lepas dari peran doa kedua orang tua dan seluruh dosen yang membantu proses pendidikan hingga pembuatan karya ilmiahnya (skripsi).

“Ucapan terimakasih pada segenap dosen UIN Walisongo Semarang khususnya dosen FSH yang senantiasa memberikan ilmu dan barokahnya kepada kami semua,” ucapnya saat diwawancarai lewat media pesan daring, Whatsapp, Selasa (04/08).

Kisah menarik datang dari Tri Mamik, wisudawan terbaik jurusan Hukum Ekonomi Syariah. Meski belum pernah mengenyam pendidikan pesantren, ia membuktikan bisa menjadi wisudawan terbaik di tingkat jurusan. Ia menunjukkan bahwa tidak hanya lulusan pesantren atau Madrasah Aliyah yang bisa berpresatasi di Perguruan Tinggi Islam, lulusan SMK pun bisa.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa menjadi wisudawan terbaik Hukum Eonomi Syariah. Sebenarnya saya tidak menyangka bisa mencapai titik ini, karena sejak semester awal sebenarnya saya kesulitan untuk mengikuti mata kuliah yang ada di Hukum Ekonomi Syariah terutama mata kuliah yang Islami,” ungkap mahasiswa asal Blora.

Ia berpesan untuk tetap semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi segala hal. “Jangan pernah menyerah, tetap semangat, selalu khusnudzan dengan rencana Allah,” pungkasnya. (rep. sasti, afif)