Tradisi Konflik di Indonesia

0
86

Oleh: Muhammad Rifqi

Ada tesis yang mengatakan, “Jika hubungan antar manusia disebut sosiasi, maka konflik juga wajib disebut sebagai sosiasi”. Mungkin sekilas tesis tersebut akan tampak seperti hipotesa, namun dewasa ini tesis tersebut menjelma menjadi sebuah realitas yang mengalir dalam kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, keberadaan konflik tak mungkin dapat dihindari. Apalagi di Indonesia yang multirasial ini, tentu konflik sangat mudah ditemukan. Mengingat banyaknya ras atau suku, budaya dan agama di Indonesia, rasialisme dan fanatisme seseorang yang berlebihan akan menuai sebuah konflik.

Konflik merupakan suatu bentuk pertentangan alamiah yang dihasilkan antar individu atau kelompok yang berbeda etnik (suku, bangsa, ras, agama), karena di antara mereka terdapat perbedaan dalam sikap, kepercayaan dan nilai moral. Seringkali kemunculan sebuah konflik diawali dari sebuah interaksi sosial antara individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok yang dilatarbelakangi perspektif yang berbeda.

Walaupun demikian, keberadaan konflik dalam kehidupan masyarakat tidak selamnya berimbas buruk, akan tetapi juga dapat menumbuhkan hal-hal positif. Malah dalam suatu kajian ada yang mengatakan bahwa keberadaan konflik dalam masyarakat adalah penting, karena kehidupan tak akan berjalan tanpa adanya sebuah konflik.

Jika kita mengingat sejarah konflik di Indonesia yang terkadang kalang kabut di telinga kita, maka kita akan menjumpai sebuah tradisi yang mana tradisi tersebut akan merefleksikan sikap dan tanggapan dari para pelaku konflik dalam menanggapi konflik tersebut. Secara sporadis dalam penyelesaian konflik di Indonesia terdapat refleksi moral yang begitu tinggi yang mengalir dalam diri para pelaku konflik.

Saya teringat dawuh Kyai Sofi Mubarok pengasuh Pondok Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, beliau mengatakan, Belanda terkenal akan hukum tata negaranya, Amerika terkenal akan teknologinya, Arab Saudi terkenal akan tata bahasanya, dan Indonesia terkenal akan tata kramanya.

Dari penggalan dawuh tersebut dikatakan bahwa Indonesia terkenal akan tata kramanya. Hal itu tercermin dalam perilaku masyarakat Indonesia ketika menghadapi sebuah konflik. Ketika menghadapi sebuah konflik, masyarakat Indonesia menghadapinya sesuai prosedural yang ada, misal dari Pengadilan Negeri ke Pengadilan Tinggi, tidak puas, mengajukan ke Mahkamah Agung dan seterusnya.

Sebut saja saat lengsernya Gus Dur dari jabatan kepresidenannya, kita tahu betapa bencinyakaum Nahdliyin dengan Amien Rais -yang merupakangolongan Muhammadiyah- saat itu. Namun, dalam konflik tersebut tidak sampai menimbulkan pertumpahan darah, mungkin hanya adu statement di depan wartawan, saling sindir satu sama lain. Bahkan pasca konflik tersebut usai banyak dari golongan nahdliyin mengundang Amien Rais dalam acara seminar-seminar.

Di Indonesia terdapat beberapa ormas keagamaan yang memiliki perbedaan paradigma. Mulai dari yang minoritas sampai yang mayoritas, seperti NU dan Muhammadiyah. Namun, dari sekian ormas -dengan kuantitas yang banyak-, sama sekali tidak dijumpai konflik yang berimbas kepada pertumpahan darah, apalagi sampai merusak stabilitas negara.

Hal itu tentu sangat bertolak belakang apabila konflik tersebut terjadi di Timur Tengah. Sebut saja di Irak. Irak era Shadam Husain mayoritas rakyat Irak adalah golongan Sunni, semua penganut Syiah dibantai bahkan sampai ke akar-akarnya. Selanjutnya ketika Shadam keok dan Syiah mendominasi tanah Irak, malah shadam yang dibantai.

Selanjutnya konflik Indonesia dengan Malaysia pada kasus Sipadan dan Ligitan. Dalam peta milik Hindia Belanda, Sipadan dan Ligitan masuk dalam ranah kekuasaan NKRI. Sedangkan menurut peta Negara Malaysia yang dibuat Inggris, Sipadan dan Ligitan masuk dalam ranah Negara Malaysia. Setelah kedua negara saling adu argumen untuk memperebutkan kedua pulau tersebut, hingga akhirnya muncul kata sepakat untuk membawa kasus tersebut ke Mahkamah Internasional.

Dalam penyelesaianya negara kita menyelesaikan konflik sesuai prosedural yang ada, walaupun Sipadan dan Ligitan lepas dari genggaman NKRI. Tidak dijumpai pertumpahan darah apalagi sampai menyatakan perang melawan Malaysia. Coba bandingkan konflik tersebut dengan konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina. Israel dengan yahudinya merasa lebih superior untuk menduduki Yerussalem ketimbang rakyat Palestina.

Rakyat palestina tidak terima akan hal itu, lalu terjadilah sebuah konflik yang berkepanjangan sampai berabad-abad, terhitung sejak Dinasti Ayyubiyah sampai sekarang konflik tersebut belum juga usai. Bahkan sampai PBB turun tangan sekalipun, sampai sekarang masih terjadi serangan-serangan yang dilancarkan oleh zionis Israel. Imbas dari konflik tersebut adalah rusaknya stabilitas negara Palestina, banyak warganya yang meninggal tak terhitung jumlahnya, luas negaranya mulai terkikis karena digerogoti oleh zions-zionis Israel.

Kita ketahui bahwa penyelesaian konflik di negara bagian timur tengah selalu diwarnai
pertumpahan darah. Hal itu terjadi karena tidak adanya keselarasan ideologi dan sikap moral yang tertanam dalam benak antar sesama pelaku konflik. Di Indonesia selama NU dan Muhammadiyah masih mendominasi maka konflik disertai pertumpahan darah masih bisa dihindari. Meskipun keduanya memiliki keyakinan yang berbeda, namun perbedaan antara kedua ormas tersebut terintegrasi satu sama lain, sehingga membentuk satu kesatuan yang matang.

Kita sepatutnya bersyukur bahwa negara Indonesia dikenal ramah oleh dunia. Kini mulai hadir ormas-ormas radikal yang kearaban hendak menyerukan Khilafah, mengganti sistem pemerintahan Pancasila menjadi sistem Khalifah agar keadilan dapat tercapai. Sejatinya keadilan dicapai bukan karena sebuah sistem, melainkan moral yang tertanam dalam benak masyarakat. Baik sistem Demokrasi ataupun sistem Khilafah tapi masyarakatnya tak punya moral itu sama saja