Sastra dan Perihal Pancasila

0
50
Ilustrasi: Artikelsiana.com

Oleh: Alhilyatuz Zakiyah Fillaily*

Berawal dari semangat menulis yang hendak menyatukan ikatan kepada seluruh kalangan pembaca, judul itu tercipta. Saya agak gegabah mengakui, tetapi itulah sebuah rasa yang menghantarkan. Ketika menulis ini saya mengingat bagaimana Bung Karno dapat menyatukan masyarakat dalam merumuskan dasar negara di Jalan Pejambon nomor 06, pada 1 Juni 1945. Negara sedang bekerja menciptakan ruh Pancasila ketika itu. Saya mengagumi posisi Bung Karno dan tertarik menyebutnya sebagai pemikir juga penggerak politik Indonesia, memiliki ilmu juga kerja nyata. Tetapi ada sebuah catatan yang belum terwujud dan hal ini sangat memengaruhi Pancasila, yaitu harapan Bung Karno terhadap sikap keagamaan yang terbuka.

Pancasila mengikatkan kita semua sebagai bangsa Indonesia. Sebuah penduduk yang menjadi bagian dari unsur negara itu berdiri. Prof. Miriam Budiardjo menjelaskan dalam buku Dasar-Dasar Ilmu Politik (2013: 51-54) bahwa unsur negara harus terdiri dari wilayah, penduduk, pemerintah, dan kedaulatan. Akibat lahirnya Pancasila, dialog terjadi antar orang yang baru saja menyebut dirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia, nampak semakin serius. Segala bidang pembangunan mencari tempat untuk berdiri kokoh. Termasuk budaya dan sastra yang melahirkan; Surat Kepercayaan Gelanggang, Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat, dan Manifest Kebudayaan.

Pada abad ke-21 sekarang ini, sastra tidak hidup untuk mengikuti salah satu dari ketiga dikotomi kubu. Seperti halnya pendapat Baudrillard tentang konsumsi kopi yang bukan lagi bersifat use or exchange value (nilai guna) dan berubah kebutuhannya menjadi symbolic value (nilai yang telah dikonstruksi lingkungan). Begitu pula dengan dunia sastra.

Pancasila sebagai dasar negara, dan sastra sebagai proses kreatifitas penciptaan karya sangat terkait. Sastra mengandung khazanah peradaban bangsa, dimana cara menjalankan kehidupan terikat pada Pancasila. Bergesernya fungsi sastra selalu disebabkan dengan kondisi masyarakat yang ada. Saya sebenarnya sulit menjelaskan bahwa sastra benar-benar berubah dalam merespon Pancasila. Tetapi satu hal yang terjadi bahwa sastra dipercaya sebagai pemersatu.

Kita menanggapi peristiwa akhir-akhir ini yang menorehkan cemas dan keluh kesah ketika menyebutkan Pancasila. Sastrawan hadir seumpama tukang batu. Kuntowijoyo menjelaskan dalam Pengantar Sosiologi Sastra (Faruk, 2012: 51) sebagai tukang batu yang dihadapannya terdapat batu bata, pasir, dan sebagainya, mereka harus mempunyai imajinasi bangunan untuk merakit menjadi satu kesatuan. Sastra fiktif imajinatif tidak bertentangan dengan realistis dan sosial. Tetapi menjawab kenyataan masa depan yang tidak dialami langsung dan menjadi harapan. Setiap saat Pancasila dikhawatirkan, maka sastra membantu mencipta keyakinan-keyakinan dan memelihara.

CCTKUM

Sebuah buku puisi CCTKUM (cara-cara tidak kreatif untuk mencintai: 2018) adalah buku kumpulan puisi dari sepasang kekasih Theoresia Rumthe dan Wessly Johannes. Saya ingin bercerita bagaimana sebuah puisi turut merawat dasar negara. Simaklah kutipan puisi ciuman Yang Menjaga Sebuah Bangsa dengan bahagia: “seumpama sebuah rumah saja dibangun oleh ciuman-ciuman, bayangkan jika sebuah kota sebuah bangsa, sebuah negara-oh kekasih, aku punya sebuah tanya: adakah bangsa yang akan binasa, jika dibangun oleh berjuta-juta ciuman rakyatnya?” (hal. 14). Puisi ini menyikapi risiko perpecahan dalam setiap gerak langkah bangsa. Meskipun tidak lagi pada tahap permulaan dibentuknya negara.

“Suka kubayangkan setiap mulut berdiam diri dan hanya membunyikan ciuman di pipi sesama, baik itu saudara seagama maupun yang berbeda atau suka kubayangkan setiap mulut lebih menahan diri untuk setiap kata-kata kotor dan hanya saling meruntuhkan ciuman kepada pipi para pembunuh, mengecup setiap air mata”. (Hal. 15). Theo menjelaskan puisi ciuman yang menjaga sebuah bangsa adalah titik tenang untuk memandang dan memahami diri sendiri juga hubungan-hubungan manusia dalam kehidupan bersama sebagai sebuah bangsa, sedangkan Wessly memaknai ciuman dalam puisi ini adalah usaha menyeberangi keterasingan yang terbentang antara manusia yang satu dengan manusia lainnya (baca lengkapnya di blog Theo: (perempuansore.blogspot.com)).

Puisi Theo dan Wessly mengabarkan kebahagiaan dapat dimiliki setiap saat, di setiap keinginan itu ada. Umpama membuat ciuman bukanlah hal yang sulit. Barangkali menjadi mahal karena merelakan adanya pemberian hal mewah secara ikhlas. Sesuatu yang sebenarnya mewah itu tak lain adalah rasa kasih sayang, kepedulian, dan saling tolong menolong antar sesama.

Ya, mula-mula puisi mampu mengobati serangan luka yang mengendap di dalam personal kemudian merata kepada masyarakat. Oleh karena itu, sampai sekarang puisi-puisi terus ditulis, didengungkan dan dibacakan. Ia terkadang hadir menjadi bukti, obat, pelajaran yang tidak jauh dari ke-Indonesiaan. Sebuah negara Pancasila. Barangkali terbatas pada pengalaman dan bacaan saya tak mampu menjelaskan betapa sastra dan Pancasila memiliki tempat untuk saling mengisi.

*) Pegiat di Komunitas Sastra Silang Pertemuan, dan Kelas Sastra Kang Putu Semarang