Resitasi Pom-Pom: Antara Sampah dan Faedah

0
200
Aksi pom-pom mahasiswa baru di PBAK 2018 UIN Walisongo Semarang Foto: Dok Justisia

Justisia.com– Resitasi pom-pom di PBAK UIN Walisongo 2018 untuk parade MOB hanya sekali pakai dan tidak bermanfaat setelahnya.

Mahasiswa baru tidak menerima intruksi bahwa resitasi pom-pom untuk disimpan dan memilih untuk membuangnya.

“Pom-pomnya mau dibuang aja, soalnya memenuhin barang di rumah dan tidak ada intruksi untuk menyimpan setelah hari terakhir oleh panitia,” ucap DA mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum.

Hal itu diamini oleh Ketua Dema Fakultas Syariah dan Hukum Ahmad Nur Fadlullah bahwa pom-pom tidak digunakan untuk kegiatan PBAK.

“Fakultas Syariah dan Hukum tidak akan lagi menggunakan pom-pom tersebut,” tutur mahasiswa asal Temanggung itu.

Namun hal ini dibantah oleh Ketua Panitia PBAK, Rakanda Muslim saat diwawancarai oleh reporter Justisia.com, Selasa (28/08).

“Sebenarnya bukan sekali pakai. Kami mewajibkan resitasi pom-pom itu yang pertama untuk konfigurasi MOB. Kedua pom-pom itu bisa dipake kapan, serta di momen apapun. Misal hari kedua ini dari fakultas masing-masing sekreatif mungkin seperti ketika di dalam ruang fakultas mereka mainkan pom-pom. Ketiga untuk penutupan maupun untuk orsenik nantinya,” ujar Muslim.

Selain itu, ia mengomentari mengenai curhatan mahasiswa baru yang mengeluh manfaat pom-pom dan terkesan kekanak-kanakan diunggah oleh Ideapers.com.

“Tidak ada sangkut-pautnya antara tag line kita “sinergi karya cerdas berkarya” dengan “pom-pom” apalagi dengan kecerdasan intelektual. Menurut kami kecerdasan itu kan tidak hanya intelektual, kreasi itu juga termasuk bagian dari sebuah kecerdasan, jadi manfaat dari pom-pom itu sendiri salah-satunya untuk menumbuhkan kecerdasan kreasi,” ungkap Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Ia menganggap apa yang disampaikan penulis hanya bersifat opini semata. Mereka tidak mengetahui keputusan pihak Dema Universitas memilih restasi pom-pom untuk para maba.

“Permasalahan tentang kekanak-kanakan itu hanya persoalan opini semata jadi ya terserah mereka, bagi kami tetap tidak kekanak-kanakan, dia tidak tahu proses yang kita lalui kenapa muncul resitasi pom-pom itu, dari pada kita resitasi yang lain semisal sebelumnya balon itu,” ungkapnya.

Saat dikonfirmasi melalui telepon, ideapers.com, mengenai tulisan berjudul “Apa yang Mencerdaskan dari Resitasi Pom-Pom ?”

“Seharusnya pihak Dema UIN Walisongo tidak menuduh begitu saja. Harus konfirmasi kepada redaksi karena itu opini bukan berita. Kami sudah melayangkan surat keberatan kepada Dema untuk meminta maaf secara tertulis,” jelas Pemimipin Umum LPM Idea, Nizar. (J/08)