Manusia Kloning dan Kaum Revolusioner vis a vis Kaum Borjuis

0
112
Deretan manusia kloning yang diciptakan Ilmuwan / Foto: m.infospesial.net

Judul : Kersik Luai
Penulis : LM Cendana
Tahun Terbit : 2017
Penerbit : Histeria
Tebal : 508 halaman
ISBN : 978-602-6380-98-2
Resentator : Dwi Prasasti

Lovita Martavabella Cendana, seorang penulis yang telah terjun dalam dunia penerbitan sejak tahun 2012. LM Cendana sebagai nama penanya telah memiliki banyak karya, salah satunya adalah novel yang berjudul Kersik Luai. Novel ini berjenis genre dystopia yang dicampur dengan romance. Genre dystopia adalah jenis sastra yang menceritakan tentang keadaan dunia maupun negara yang mengalami kemunduran ataupun kekacauan.

Dalam novel ini, menceritakan keadaan tanah air yang mengalami kemunduran, kekacaubalauan yang di mana sistem pemerintahannya berubah menjadi sistem oligarkis. Kaum borjuis berkuasa atas kaum buruh (ploretar). Novel ini sangat unik bahkan menarik, karena dalam cerita ini tidak hanya romance saja, namun rasa kemanusiaan dan rasa nasionalisme pun ikut serta mewarnai cerita ini.

Manusia di era sinting yang disebut postmodern mengembangkan sanis dan teknologi yang luar biasa, bahkan menciptakan manusia genetika yang diambil dari sel somatik manusia lainnya untuk diklon. Kloning alternatif yang didambakan oleh masyarakat
yang tidak bisa memiliki keturunan. Menurut para ilmuwan, manusia hasil kloning cenderung mendekati kata sempurna dan memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia normal.

Btari adalah salah seorang manusia hasil rekayasa genetika. Dalam hidupnya setiap sebulan sekali untuk memastikan keadaan tubuhnya tetap sehat dan sempurna. Resiko menjadi manusia rekayasa genetika, dia tidak bisa hidup bebas layaknya manusia normal.

Jikalau terdapat satu organ yang rusak maka dia akan dinyatakan sebagai produk gagal dan harus dibuang. Btari hidup di kalangan orang penguasa atau kaum borjuis di tanah air ini. Dalam novel ini menjelaskan bahwa tanah air terpecah menjadi 4 wilayah. Wilayah yang pertama adalah Waluku (Kota J), yang di mana penghuninya adalah para kaum borjuis yang memegang kekuasaan negeri ini dan tentunya pusat pemerintahan. Masyarakat ini sangat mendewakan ilmu pengetahuan, teknologi canggih dan mutakhir, kesehatan, serta kedudukan.

Wilayah ini sudah tercampur dengan pemikiran dan budaya modern secara ekstrem bahkan sangat antisipasi pada hal-hal yang berhubungan dengan nilai tradisional. Bagi pemerintah era postmodern yang telah rusak di negeri ini, untuk menjadi negara yang super power harus banyak yang dikorbankan, termasuk melupakan nilai-nilai tradisional
negeri ini yang telah dianggap ketinggalan zaman, lalu mengubahnya laksana negara Utopia.

Di sinilah para korup itu membuat kandang. Kemudian wilayah yang kedua adalah wilayah Pari (Kota L). Jika wilayah pertama Waluku melupakan nilai tradisional, maka di sinilah tempatnya pelestarian nilai-nilai tradisonal itu. Seluruh tradisi dan budaya negeri ini telah dilestarikan pada wilayah ini. Seperti tarian, musik tradisional, rumah adat, tradisi kental, dan seluruh identitas dari negara ini sangat dijaga oleh masyarakat Pari. Dalam wilayah ini juga ada para pemberontak yang disebut sebagai kaum revolusioner.

Di mana kaum ini sangat menentang pemerintahan yang berlaku pada negeri ini. Ketiga ada wilayah yang namanya Vrischika (Kota E). Wilayah ini dihuni oleh kaum proletar yang benar-benar terpuruk dan tertindas serta diperbudak oleh kaum borjuis. Sehingga dalam masyarakat ini tidak ada rasa aman dalam hidupnya. Hidupnya selalu dihantui oleh ketakutan, mereka bekerja di tanahnya sendiri juga terjajah oleh tanah airnya
sendiri.

Berontak berarti mereka memberikan nyawanya pada kaum borjuis. Wilayah yang terakhir yaitu Biduk (Kota P). Wilayah ini dihuni oleh masyarakat yang memegang teguh nilai agama. Mereka hidup damai berdampingan satu sama yang lain. Mereka juga menjunjung tinggi nilai-nilai kebhinekaan tunggal ika. Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Wilayah ini tidak seperti wilayah Pari dan Vrischika yang terkenal sebagai kaum pembelot dan dianggap sangat berbahaya bagi parlemen yang dipegang oleh kaum borjuis.

Masyarakat Biduk lebih mengedepankan perdamaian di negari ini tanpa adanya kekerasan. Sehingga di wilayah ini mereka hidup damai berdampingan meskipun keyakinan mereka berbeda-beda.

Pada suatu ketika, Btari telah jatuh tempo untuk pemeriksaan rutin kesehatannya.
Ditemani oleh ibunya Btari menuju ke GMC (Goverment Medical Center) untuk melakukan pemeriksaan. Tidak perlu ditanya keadaan di wilayah Waluku ini, semua infrastruktur yang ada disini sudah sangat maju, bahkan sudah jarang ditemui tumbuhan hijau yang tumbuh dengan alami.

Semuanya telah dipenuh oleh pencakar langit yang menjulang tinggi. Sampainya di Goverment Medical Center ternyata Btari tervonis xenogeny (adanya cacat di bagian jantung). Sehingga sesuai undang-undang yang berlaku, setiap manusia kloning yang gagal harus dibuang dan diasingkan di wilayah Vrischika.

Persiapan untuk menuju daerah pembuangan, presiden Andromeda menyaksikan
langsung proses pemberangkatan Btari. Karena Btari anak dari salah satu pengusaha Waluku yang berpengaruh dan juga teman dekat dari adiknya Presiden Andromeda yaitu Bima salah seorang ilmuwan termuda.

Tanpa disanggaka perjalanannya menuju Vrischika terjadi kecelakaan, yaitu helikopter yang dikendarai oleh Btari mendapat serangan dari kaum revolusioner. Helikopternya ditembak dan akhirnya tepat di atas Java Sea, dekat perbatasan wilayah Pari heli itu jatuh.

Pada akhirnya Btari pun selamat karena dia memakai lampung dan tanpa sengaja dia
mendapatkan perahu kosong dan dia pun menaikinya, kemudian dia tak sadarkan diri.
Sesampainya di pesisir pantai Btari ditolong oleh pemuda yang namanya Nagara. Di sinilah perjalanan hidup Btari untuk memperjuangkan dan mengembalikan eksistensi Pancasila negeri ini kembali, bersama sang revolusioner yaitu Nagara.

Nagara adalah pemuda yang bisa dibilang cerdas. Secara diam-diam nagara dan kawan-kawannya memiliki misi besar, yaitu mengembalikan eksistensi Pancasila dan demokrasi yang merupakan ruh dari tanah air ini. Nama kelompok ini adalah revolusioner, yang dimana anggotanya terdiri dari persatuan 3 wilayah yaitu Pari, Biduk, dan Vrischika.
Nagara pernah meretas dan membobol sistem keamanan untuk mengorek informasi tentang rencana busuk dari si anggrek hitam yaitu Presiden Andromeda.

Namun seiring berjalannya waktu pun ketahuan. Sehingga Nagara menjadi buronan oleh para kaum borjuis alias pesuruhnya si anggrek hitam. Karena Btari selama ini selalu bersama Nagara dan keluarganya, sehingga rasa nasionalis itu pun muncul dalam tekat Btari. Sehingga apapun yang terjadi dia akan ikut memperjuangkan nageri tercinta ini, meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Dari wilayah satu ke wilayah lain mereka tempuh, tujuan pertamanya adalah Vrischika. Karena gelang pendeteksi yang dipakai oleh Btari, para kaum borjuis mudah mencari jejaknya. Kemudian Btari, Nagara dan kaum revolusioner lainnya menuju ke wilayah Biduk. Karena kondisi Btari yang tidak sempurna, di sana Btari hampir sekarat jika
tidak di jemput oleh Bima adik dari sang anggrek hitam. Tujuan Bima menjemput Btari untuk memperbaiki organ Btari yang rusak.

Dalam penjemputan itu, terjadi kerja sama antara Nagara dan Bima. Demi menyelamatkan sang daranya, Nagara rela ditangkap dan dieksekusi mati oleh si anggrek hitam yaitu presiden Andromeda karena telah terbukti meretas keamanan Waluku dan mengetahui rencana busuk presiden.

Sampainya di Waluku, tempatnya para tikus-tikus berdasi berleha-leha, ternyata
Candrakanti, ibunya Nagara pun di tangkap. Jangan remehkan Nagara, karena dia adalah sosok pemuda yang jenius dan cerdik. Nagara dan teman-temannya yaitu kamum revolusioner telah merencanakan misi yang besar untuk menghancurkan pemerintahan si anggrek hitam itu.

Pada hari eksekusi matinya Nagara telah tiba. Kaum revolusioner pun berhasil menyelundup masuk ke daerah pusat pemerintahan, mereka menyamar sebagai algojo
eksekusinya Nagara. Eksekusi di saksikan langsung oleh si anggrek hitam yaitu Presiden
Andromeda, karena dia ingin menyaksikan langsung eksekusi musuh kesayangannya. Namun ternyata yang ada di balik tudung hitam bukanlah Nagara, namun salah satu dari anggota penyeeksekusi asli.

Saat itulah pusat pemerintahan diserang besar-besaran oleh para kaum revolusioner (pemberontak pemerintahan). Dengan menggaungkan kata “Demokrasi Harga Mati!” “Pancasila Sampai Mati!”. Tiada seorang pun yang hidup. Mereka kaum borjuis dibantai oleh pemberontak yang berhasil menyusup dengan lihainya. Namun sang Bu Presidan tidak hanya diam, dia segera mengirim pasukan elit untuk menangkap kau pemberontak tersebut, namun gagal.

Bertahun-tahun kaum pemberontak (revolusioner) merencanakan hal ini, dan akhirnya
berhasil menghancurkan kebun kersik luainya Bu Presiden yaitu Presiden Andromeda. Tidak ada rakyat yang ingin memiliki pemerintahan yang menghilangkan identitas bangsanya sendiri. Mereka merdeka oleh jajahan negara lain, namun mereka terjajah oleh tanah kelahirannya sendiri.

Dalam novel ini, memberikan kita pelajaran bahwa rasa cinta, rasa kemanusiaan, rasa
nasionalisme itu harus dijunjung tinggi untuk mewujudkan bangsa yang aman, tentram dandamai. Tidak hanya itu, kita juga harus bangga dan menjaga identitas nasional, apalagi di era sinting yang semakin miring ini. Banyak penguasa yang berkehendak sesuka hatinya tanpa memikirkan bagaimana kehidupan rakyat yang sesungguhnya.

Rakyat adalah raja yang harus dilindungi dan diberikan kemakmuran yang nyata. Seperti kata Bung Karno bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.