From the Street to Olympic

0
44
Pebasket Indonesia Jovita Elizabeth (kiri) mencoba melewati hadangan pebasket Thailand Kanokwan Prajuapsook (kanan) dalam pertandingan 3x3 Asia Challenge 2017 di Jakarta. Foto: Sports.Okezone.com

Oleh: M. Rifqi Arifudin

Tidak lama lagi gelaran ajang olahraga terakbar se-Asia akan dihelat. Jakarta dan Palembang, dua kota besar di Indonesia akan menjadi saksi sejarah ajang olaharaga bergengsi antar negara dilaksanakan. Dalam Asian Games tahun ini akan dipertandingkan 40 cabang olahraga, di mana di antaranya ada beberapa cabang olahraga baru.

Salah satu cabang baru yang menarik adalah bola basket 3 on 3. Dari awal kemunculannya, sebenarnya olahraga ini berangkat dari jalanan. Bahkan kini menjadi kultur olahraga di beberapa negara Eropa. Mulai mencuat sekitar tahun 2010, tidak butuh waktu yang lama olahraga ini untuk digandrungi banyak orang, terkhusus kaum milenial.

Cabang olahraga ini tentunya sudah resmi bahkan diakui oleh federasi bola basket internasional (FIBA). Delapan tahun perkembangannya yang sangat pesat inilah yang membuat pihak penyelenggara Asian Games 2018 untuk memasukan cabang olahraga basket 3 on 3.

Berbicara mengenai sejarahnya, 3 on 3 adalah sebuah cabang olahraga baru yang muncul didasari oleh dominasi Amerika dalam Basket yang normal (5 on 5). Hal ini selaras dengan yang dituturkan oleh salah satu mantan pemain Aspac Jakarta, Antony, dalam sebuah tayangan youtube menjelaskan bahwa 3 on 3 merupakan alternatif sekaligus untuk meruntuhkan dominasi Amerika yang selama ini menguasai.

Hampir setiap olimpiade atau ajang apapun digelar dan menyertakan cabang olahraga basket, sudah jelas jika Amerika ikut tentunya negara tersebutlah yang akan menjadi juaranya. Ada beberapa hal unik dalam cabang olahraga ini yang menarik untuk diketahui. Pada basket 3 on 3 ini hanya menggunakan separuh lapangan, di mana tentunya terlihat lebih simpel. Selanjutnya, dalam 3 on 3 menggunakan bola dengan ukuran “6” namun dengan berat “7”, di mana pada basket umumnya, untuk laki-laki menggunakan ukuran “7” dan perempuan menggunakan ukuran “6”.

Terkahir, walapun basket 3 on 3 ini menggunakan separuh lapangan justru menguras lebih banyak energi dibandingkan basket umunya. Pejelasannya adalah, pada basket umumnya apabila bola “in”, menghasilkan angka, maka akan dilakukan lemparan dari luar. Berbeda dengan 3 on 3 apabila terjadi angka (red: tambah poin, masuk) maka permainan terus berlanjut, wasit hanya akan meniup peluit di mana bola keluar, pelanggaran saja.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa salah satu dasar munculnya 3 on 3 ini adalah untuk meruntuhkan dominasi Amerika dalam cabang olahraga basket, dan benar saja mengutip dari peringkat yang dikeluarkan oleh FIBA pada suntingan terkahirnya saat ini peringkat pertama untuk juara dunia basket 3 on 3 justru dipegang oleh Russia yang notabenya tidak terlalu dominan dalam cabang olahraga basket. Kebanyakan masyarakat mafhum benar-benar bahwa Russia merupakan salah satu basis olahrga sepakbola yang terbesar di eropa.

Tidak ketinggalan pula jika membahas mengenai sebuah cabang olahraga tentunya menarik pula untuk membahas salah satu atlit yang menjadi ikonnya. Seperti sepakbola ada CR7, dalam ajang balap motor ada Valentino Rossi, kemudian dalam ajang golf ada Tiger wood. Hal ini pula tentunya juga terjadi pada basket 3 on 3, dimana salah satu atlit yang menjadi magnet sekaligus ikonnya adalah Dusan Bulut. Bahkan atlit yang menjadi idola dikalangan pecinta 3 on 3 ini bukan berasal dari Amerika, melainkan Serbia. Uniknya jika melihat daftar peringkat dunia 3 on 3 yang dikeluarkan oleh FIBA, Amerika hanya menempati posisi 18 di mana negara kecil seperti Mongolia justru menempati peringkat 3 untuk dunia dan peringkat 2 untuk zona Asia.