Eko Sulistyo: Pemahaman Hoax dan Radikalisme Sebagai Pengantar Masuk Dunia Kampus

0
37

Semarang, justisia.com – Eko Sulistyo berpesan kepada mahasiswa baru agar tetap memahami wacana hoax dan radikalisme. Itu merupakan hal yang penting dalam memasuki dunia kampus.

Hal tersebut disampaikan dalam pembukaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) UIN Walisongo Semarang yang dilaksanakan di Lapangan Kampus III, Senin (27/8).

Sebelum itu, ia juga menanggapi bahwa kreatifitas parade budaya, dan pesan dari kakak tingkat merupakan suatu hal yang penting. Itu sebagai modal awal dalam menghadapi segala informasi dan ilmu di kampus.

“Awal mereka masuk dunia pendidikan tidak hanya diberikan semacam uraian akademik. Tetapi juga ada peragaan budaya,” tutur Eko Sulistyo.

Dia mengatakan dengan mengundang pembicara dari pihak luar, seperti dari kami (pihak kantor staf Presiden) untuk memberikan pengantar wacana hoax dan radikalisme merupakan sesuatu yang bagus.

“Ini merupakan sesuatu yang penting untuk kegiatan mahasiswa baru (maba) sebagai pengantar mereka dalam memasuki dunia kampus. Dengan segala informasi dan ilmu yang akan didapat tentunya,” beber Deputi IV KSP tersebut.

Kemudian dalam rangka menanggulangi maraknya wabah ideologi radikalisme, dilakukan kerjasama antar lembaga pemerintah dan badan swasta.

“Saya kira sudah banyak penelitian dari badan pemerintah maupun badan swasta, seperti Wahid Institute. Mereka sudah memberi informasi tentang wabah radikalisme yang semakin mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Dia meyakini dengan adanya forum Rektor, warning dari Presiden dan kerjasama antar lembaga pemerintah. Misalnya BNPT dengan pendidikan seperti Kemenristekdikti dan sebagainya, akan dapat menanggulangi persoalan radikalisme secara pelan-pelan.

Mahasiswa Harus Tingkatkan Kompetensi untuk Menghadapi MEA

Selain menyampaikan persoalan hoax dan radikalisme. Eko juga berpesan untuk mahasiwa baru untuk meningkatkan daya-saing dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Kemudian di tengah era masyarakat ekonomi internasional dan MEA, mereka harus bisa mengambil wawasan, dan kompetensi juga harus ditingkatkan,” ujarnya saat diwawancarai reporter justisia.com.

Ketika MEA resmi dibuka, maka persaingan bukan lagi dengan tetangga ataupun teman sejawatnya, melainkan masyarakat ASEAN.

“Mulai 2016 setelah resmi dibuka MEA, sehingga kami memberikan semangat agar orientasi mereka tidak hanya ke dalam negeri utamanya bangsa ASEAN,” tukasnya. (Rep. Ruri)