Dipeluk Malam yang Senyap

0
80

Oleh: Salwa Nida

Mataku menelisik tajam
Melirik-lirik barang yang tak berbayang
Langkahku terjeda dalam jengkal panjang
Tubuhku lemas, denyutku tetap, pandang mataku terbatas

Gelap menggulung setitik cahaya
Denting di dinding menggertakkan sunyi
Aku tersungkur di sudut gelap
Berteriak dalam jiwaku
Aku takut!

Bulir air mata mengalir tanpa henti
Pikirku kacau balau
Aku dihujam pisau ketakutanku
Takut. Menjalar di sekujur tubuh, meracuni darah

Sunyi..
Aku dikejar semakin cepat dan terperangkap
Tak tahu menahu mengapa dan bagaimana
Gelap yang menghitam, menembus pukul dua belas
Aku takut, bukan ditakuti.
Segumpal rasa merasuk masuk-menusuk

Dunia fana
Hubbuddunya, begitu para sufi menyebutnya
Sewaktu-waktu mampu tenggelam di palungnya

Hina! Semua adalah kehinaan berbungkus kemulyaan
Keji! Banyak laku tak terpuji namun diingkari oleh mata hati
Keparat.. bangsat

Aku hanya ingin selamat
Selamat dari berbagai sindikat

Persekutuan rampok
Persekutuan koruptor
Gembong narkoba
Jaringan prostitusi
Apalagi ?

Setan!
Tak ayal manusia adalah setan tak bermoral
Moral tak dikenal etika sudah sirna

Pertengahan malam aku kian menggigil
Menggenggam erat tubuhku
Melawan sendiri ketakutanku
Harus apa aku?

Tak mau kudapati pagi, jika hanya ku dengar ulah dari orang tak tahu diri
Sedang malam kutakuti mengingat realita hanya bergumul pada kemungkaran
Dimana tubuhku harus kusandarkan dan apa atau siapa yang harus kugenggam erat?

Tuhan..
Aku tak kuasa melawan
Takutku adalah racun
Tapi murka-Mu, aku tak ingin
Bagaimana dengan syariatmu Tuhan?
Sesekali ingin kususuri jalanmu
Tetaplah manusia lain ikut mencela

Tuhan..
Aku meringis diantara setumpuk ketakutanku
Tragis memang
Manusia yang disebut kholifah fil ardh
Tak lain dan tak bukan adalah persetanan yang menjelma lain wujud

Kecil dan mungkin sebesar biji dzarrah
Harapku bahwa Engkau masih menciptakan yang berhati nurani
Benar memahami syariatmu
Serta murka pada persetanan itu

Menit di tiap malamnya nan lama. Aku telah berjumpa sepertiga akhirnya
Tak lagi ku disergap ketakutan. Sekejap, kukenakan baju yang memuja-Mu