Vespa dan Makna Sebuah Kehidupan

0
530
Kontest Vespa Ekstrim dalam event bertajuk Java Ekstremist ke-4 di Lapangan Tembak Tembalang Kota Semarang, Sabtu (21/7). foto: Mufti/justisia

Justisia – Udara dingin terasa menusuk ke dalam tulang. Dengan beralaskan rumput yang mengering pemandangan Kota Semarang terlihat jelas begitu indah. Berhias gemerlapnya lampu di malam hari. Waktu sudah menunjukan sepertiga malam, Sabtu (21/7). Sayup-sayup suara ayam berkokok satu dua kali mulai terdengar. Bertempat di Lapangan Tembak Tembalang Kota Semarang, deru mesin dua tak asal Italia itu mulai terdengar di gelapnya malam. Malam yang cukup dingin itu tak menghalangi beberapa anak muda memasuki lokasi acara diselenggarakannya Java Extremist (J.E) ke-4 tahun ini.

Hajat akbar tahunan komunitas vespa itu sesuai jadwal Sabtu-Minggu 21-22 Juli 2018. Merupakan salah satu event besar para penggemar vespa di Tanah Jawa. Sejak malam, satu persatu secooterist dari berbagai penjuru daerah mulai hadir di lokasi dengan berbagai jenis vespa yang telah dimodifikasi. Suara khas knalpot legendaris nan ikonik yang sudah cukup berumur masih terdengar dengan keras akan menghiasi lokasi ini hingga Minggu lusa.

Tak jarang, mereka telah melakukan perjalanan beberapa malam sebelumnya untuk sampai dilokasi tepat waktu. Salah satunya Akii. Pria yang mempunyai nama asli Gusti Setya Darma, ia berasal dari Depok Jawa Barat. Di usianya yang ke-64 ia masih bugar untuk menerjang debu jalanan Pantura. Ia berangkat dari Depok sejak malam Jumat kemarin lusa demi pertemu kawan-kawannya dari berbagai daerah saat acara vespa nanti. Mengendarai Vespa Super lansiran tahun 1974 dengan seorang diri, ia sempat beberapa kali singgah di rumah teman sebelum sampai di Semarang untuk sekedar melepas lelah. “Ya saya berangkat sendiri, sudah biasa touring dengan vespa, tanpa ada kendala,” Ujar pria asli kelahiran Kalimantan itu.

Akii sudah sering melakukan perjalanan dengan vespanya sejak 30 tahun silam, ke barbagai daerah di Indonesia. “Pernah saya touring mengendarai vespa sampai Aceh, Medan, Madura, juga Pulau Bali,”. Ucap bapak lima anak itu.

Baginya bermain vespa bukan hobi semata. Namun lebih banyak mengajarkan banyak makna kehidupan dibaliknya. “Saya tidak pernah khawatir, karena akan selalu banyak teman dan kawan yang peduli, sepanjang jalan yang saya lewati, ha .. ha.. “. Guraunya.

Kang Maman (depan) saat berfoto di rumah bersama sahabatnya. Foto: FB Kang Maman

Persatuan dan Kesetaraan

Panas terik diakhir pekan tak menjadi persoalan. Kehangatan komunitas vespa sering terdengar slogan “Satu Vespa Sejuta Saudara”dapat kita rasakan. Terlihat di tengah keriuhan event yang sedang berlangsung para anak-anak vespa saling berkumpul di sudut-sudut lapangan. Ngobrol ngalor-ngidul dengan ditemani kopi, serta beberapa makanan, dan tak lupa asap rokok yang selalu terkepul di tengahnya. Berbagai obrolan mengalir mulai dari membahas soal vespa, cerita mereka selama perjalanan menuju acara dan guyonan yang tak ada hentnya. Namun dibalik itu semua mereka seakan tidak pernah membedakan sekat perbedaan siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Muhammad Ainur Rohman, pria asal Magelang, atau biasa disapa Kang Maman usianya 43 tahun. Sudah dikenal oleh banyak scooterist di Indonesia. Dengan gaya khas, berambut sebahu yang dibiarkan terjuntai kebawah, ia selalu mengenakan pakaian khas berwarna hijau Army lengkap dengan spatu booth yang dikenakannya. Dijaketnya sudah banyak tertempel nama-nama club vespa dari berbagai daerah, menunjukan ia telah lama malang melintang didunia ini.

“Sebagai ajang silaturahmi untuk menjalin ukhuwah persaudaraan, mengingat vespa itu sudah me-nusantara, Bhineka Tunggal Ika, kita juga punya semangat Bhineka Tunggal Vespa,” Seloroh Kang Maman, sambil menghisap rokok di tangan kirinya, saat ditemui disalah satu stand acara.

Dalam menjaga persaudaraan Kang Maman selalu berpegang apa yang disabdakan Roshulullah SAW, bahwa kita harus menjaga silaturahmi kepada sipa saja. “Yang utama bukan Ukhuwah Islamiyah, tapi Ukhuwah Wathoniyyah. Sebagai ajang silaturahmi sesama warga NKRI yang kita cintai ini,” Imbuh pria kelahiran Magelang 43 tahun silam ini.

Menjaga persatuan adalah kewajiban semua warga negara, komunitas semacam ini juga menjadi medio yang bisa berkontribusi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini. Selain juga untuk menghargai para jasa-jasa pejuang yang penuh pengorbanan dalam memperjuangkan Indonesia ini. “NKRI itu harga mati. Atas perjuangan para pejuang-pejuang kita yang telah gugur. Tentu sebagai warga Indonesia yang baik yang tinggal menkmati hasil jerih payah perjuangan ini kita hasrus mensyukuri hal-hal yang positif, terutama dengan acara seperti ini sebagi ajang untuk mempersatukan NKRI baik dari Sabang sampai Merauke, kan pesertanya dari seluruh penjuru tanah air,” ungkapnya.

“Kalau moto saya secara Jawanya sedulur sewu ijeh kurang, musuh siji wes kakehan, (seribu kelompok masih kurang, satu musuh sudah kebanyakan),” Seloroh Kang Maman.

Vespa sebuah karya

Tak jarang para scooterist memodifikasi vespanya dengan berbagai model. Dari sekedar memberi pernak-pernik untuk menambah kecantin vespanya, menambah kereta penumpang di samping kirinya (sespan) hingga merubah total bentuk vespa dengan menjadi ala-ala army scooter.

Menurut Kang Maman kretifitas anak-anak muda dalam memodifikasi vespa perlu di dorong menjadi sebuah kebanggan. Mereka dengan kreatif memanfaatkan barang-barang bekas dari rongsokan untuk diubah menjadi sebuah karya seni yang bernilai. Mereka juga bisa menyalurkan kretifitasnya dalam membangun vespa melalui kontes vespa yang dilombakan.

“Ini sebagai ajang menampilkan kretifitas anak bangsa. Meski kadang sedikit melanggar aturan lalu lintas namun saya yakin dari pihak kepolisian masih ada toleransi, selama modifikasi secara rapi, sefty, dan nyaman enak di pandang mata, bagi si pengendara maupun pengguna jalan lain dan tidak lupa mematuhi rambu-rambu lalu lintas,” Kekeh Kang Maman diiringi senyumnya.

Sebagai seorang yang telah lama malang melintang di dunia vespa Kang Maman sendiri pernah melakukan perjalanan jauh ke tugu titik nol kilometer di Pulau Weh Sabang Aceh dengan vespanya. “Kalo perjalanan ke barat, saya sudah pernah sampai ke Aceh, tepatnya di titik nol kilometer,” Kata kang Maman yang datang ke acara J.E dengan vespa yang telah dimodifikasi dengan acesoris ala army scooter.

Menghibur masyarakat

Bagi pribadi Kang Maman, selain menjadi hobi dalam berman vespa kita juga dapat menghibur masyarakat luas, memperkenalkan karya seni kretifitas untuk masyarakat. “Memodifikasi vespa itu boleh. Tapi harus enak di pandang mata. Bisa menghibur mereka yang menggunakan jalanan, dan menghibur masyarakat atas kejenuhan-kejenuhan yang ada di Indonesia, karena faktor ekonomi, politik yang gak karuan. Mungkin menjadi warga Indonesia itu jenuh, dengan seperti ini mereka dapat terhibur,” Terang Kang Maman sambil sedikit tertawa.

Dengan terselenggaranya event vespa semacam ini, juga banyak manfaat untuk masyarakat sekitar. Karena juga membantu perekonomian yang ada di sekitar lokasi acara. “Di tengah acara semacam ini tidak sedikit uang yang berputar di dalamnya. Bahkan hingga ratusan juta rupiah, dengan mereka yang ada disekitar turut menjemput rezeki dengan berjualan makanan, minuman, dan hal-hal yang lain,” Terang Kang Maman.

Mengembalikan Pandangan Masyarakat

Tidak jarang, masyarakat memandang sedikit kurang positif terhadap komunitas atau para penggemar vespa. Menurut kang Maman hai ini perilu disikapi bersama. Kita semua wajib mengembalikan citra vespa yang baik seperti sedia kala. Lantaran citra miring vespa dikarenakan oknum-oknum tertentu yang tidak bertanggung jawab.

“Sebagai warga scooter kita kembalikan vespa seperti dulu lagi. Yang selama ini citra vespa ini sudah tercoreng oleh oknmum tertentu, dan saat ini slogan Satu Vespa Sejuta Saudara, sebagai senjata ampuh hanya saat keadaan terjepit. Tapi ketika mereka bermain vespa tidak merasa ataupun menjaga nama baik vespa. Kita yakin, mari benahi bersama, semua akan butuh poses menjadi yang lebih baik,” Tegas kang Maman dengan cepat.

Selain itu, banyak kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan oleh komunitas vespa. Salah satunya mereka memberikan santunan kepada puluhan anak yatim piatu dari salah satu Yayasan yang ada di kota Semarang dan melakuka kegiatan donor darah.

“Kita dapat menyalurkan terutama untuk komunitas vespa itu berbuat kebaikan dengan acara seperti ini ada rasa positif dalam artian kita saling berbagi. Seperti kemarin kita melakukan bakti sosial santunan kepada anak yatim mereka yang sudah ditinggalkan orang tuanya membutuhkan belas kasih sayang, butuh uluran tangan kita, bisa juga dengan bakti sosial yang lain seerti donor darah, karena masih banyak teman-teman kita yang membutuhkan kepedulian kita,” Ungkap Kang Maman di ujung perbincangannya. (Rep: Mufti/Yaqn)