Pendidikan Gaya Bank

0
75
ilustrasi : alkhoirot / seorang guru sedang menyampaikan materi di hadapan murid-muridnya.

Oleh: Adetya Pramandira

Konsep pendidikan di bangku sekolah yang berkembang saat ini pada umumnya beranak
dari konsep pendidikan Akademi Plato yang didirikan pada tahun 387 sebelum masehi. Pada mulanya Akademi Plato hanyalah sebuah kelompok belajar yang hanya terdiri dari beberapa orang yang berdialektika dan berdiskusi bertukar pengetahuan. Namun lama-kelaman Akademi tersebut menggunakan format satu guru dengan banyak murid dan kewajiban para murid untuk membayar biaya keanggotaan.

Di zaman modern ini, sekolah menjadi hal yang amat lumrah. Sekolah dapat melahirkan kaum intelektual, cendekiawan, sarjana-sarjana dan juga ilmuwan. Melalui pemikiran mereka, berbagai teori dan ilmu pengetahuan dihasilkan demi kemaslahatan umat. Namun pada realitanya, kebanyakan ilmuwan menyibukan diri dengan institusi-institusi dan teori-teorinya yang tidak berkaitan dengan kehidupaan riil, yang sedemikianlah oleh pemikir neo-marxis, Antonio Gramsci, disebut sebagai kelompok intelektual tradisional. Mereka mempunyai segudang pengetahuan dan pemikiran, namun bungkam dengan berbagai permasalahan sosial yang terjadi di masyarakat.

Tak ubahnya di negeri Khatulistiwa, pendidikan di bangku sekolah yang didesain semacam gaya Akademi Plato yang terdapat guru dengan banyak murid dan rentetan pembayaran-pembayaran, hanya menghasilkan kaum terpelajar yang buta dengan permasalahan sosial dan manusia pandai yang suka memperkaya diri. Lantas, apakah ada yang salah dengan konsep pendidikan yang ditawarkan, ataukah kesadaran dari para cendekiawan yang rendah?

Dalam pandangan Antonio Gramsci, pendidikan adalah suatu hal penting dalam gerakan revolusioner untuk membebaskan masyarakat dari belenggu permasalahan, dengan hadirnya cendekiawan yang dilahirkan. Gramsci mula-mula mempertanyakan peran intelektual di dalam masyarakat. Menurutnya, semua orang pada dasarnya adalah intelektual yang mampu berpikirsecara rasional. Namun, tidak semua orang memanfaatkan intelektualitasnya untuk memajukan masyarakat. Berdasar hal tersebut ia mengkategorikan kaum intelektual menjadi dua, yaitu intelektual tradisional seperti yang telah disinggung sebelumnya dan juga kaum intelektual organik.

Gerakan dari kaum Intelektual organik inilah yang menurutnya dapat menyelesaikan persoalan-persoalan sosial. Intelektual organik tidak memisahkan diri dari masyarakat, mereka menghilangkan sekat yang muncul karena anggapan bahwa orang terpelajar adalah kelas atas. Mereka tidak hanya berkutat kepada hal-hal yang bersifat saintifik semata. Melainkan mengaplikasikan semua pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan guna mengentaskan penderitaan. Singkatnya, kaum intelektual organik adalah mereka yang mau terjun ke dalam masyarakat dan merangkul, mengajak maju bersama menuju perubahan.

Pendidikan Gaya Bank

Tulisan ini akan menjadi berat sebelah ketika hanya membahas orang atau kaum
terpelajarnya saja tanpa mengulas bagaimana model atau bentuk yang digunakan untuk mendidik mereka agar menjadi kaum intelektual.

Sering kali saya mendengar keluh kesah adik saya yang tengah duduk di bangku kelas dua SMA. Setiap hari ia hanya dijejali dengan hafalan-hafalan teori, bagaikan mantra kelanggengan hidup. Modul belajar atau lembar kerja siswa hanya berisi soal-soal yang berkutat pada teori-teori pendahulu. Jarang sekali pertanyaan berisi persoalan masyarakat dan bagaimana cara memecahkannya. Guru hanya bertindak sebagai penyalur informasi dan siswa hanyalah orang yang harus siap menerima semua pengetahuan tanpa diajarkan bagaimana cara mengatasi persoalan-peroalan yang ada dalam kehidupan. Alhasil, siswa hanya dapat menghitung berapa tinggi berapa tinggi Monumen Nasional, tidak ada kepekaan terhadap kehidupan sosial di sekelilingnya.

Jika dihubungkan dengan konsep pendidikan menurut Paulo Freire. Pendidikan semacam inilah yang dinamakan pendidikan gaya bank. Guru sebagai pemberi, mengarahkan kepada murid-murid untuk menghafal secara mekanis apa isi pelajaran yang diceritakan. Otak murid dipandang sebagai safe deposit box, di mana pengetahuan dari guru ditransfer ke dalam otak murid dan bila sewaktu-waktu diperlukan, pengetahuan tersebut tinggal diambil saja. Murid hanya menampung apa saja yang disampaikan guru. Di sinilah ditemukan pendidikan yang tidak humanis. Secara tidak sadar, terjadilah proses penindasan. Guru sebagai subyek yang serba tahu tidak memberikan kebebasan karena murid dianggap sebagai obyek yang tidak tahu apa-apa harus menerima semua apa yang diberi oleh guru.

Sejak awal pembentukan karakter, murid sudah dididik menjadi mental pesuruh. Maka, manusia yang dihasilkan dari model pendidikan ini hanya siap untuk memenuhi kebutuhan zaman, bukannya bersikap kritis terhadap zamannya. Alhasil, banyak murid yang menganggur selepas lulus dari bangku pendidikan. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya jumah pengangguran pada Agustus 2017 dari 30 ribu jiwa menjadi 7,04 juta jiwa dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,5 persen dari total angkatan kerja. (Sumber: databoks.katadata.co.id)

Meningkatnya jumlah pengangguran menjadi bukti bahwa pendidikan Indonesia belum mampu menyiapkan generasinya untuk terjun ke dalam masyarakat dan dalam dunia kerja. Inilah hal yang harus diubah dalam pendidikan Indonesia. Pendidikan yang semula hanya menjadikan murid sebagai obyek berubah menjadi keaadan sama. Di mana antara murid dan guru ada keseimbangan dalam proses belajar, tanpa menanggalkan status guru yang wajib dihormati. Pola pembelajaran yang menjadikan guru sekedar sebagai pemberi informasi hanya akan menciptakan generasi robot yang tidak mempunyai kepekaan sosial dalam mengentaskan berbagai permasalahan.