Nyanyian dan Harapan

0
152
Foto : tabloidbintang.com

Oleh: Afif Maulana AK.

Dua kesebelasan yang masih dalam kekecewaan dipaksa bertemu untuk berebut predikat top three (tiga terbaik), sabtu malam (14/07) waktu Indonesia. “Kamu kecewa kalah di semi final. Sulit untuk melihat kesempatan bermain di pertandingan lain sebagai hal positif,” kata Martinez menanggapi pertandingan perebutan juara 3.

Senada dengan Martinez, di edisi 2014 Louis van Gaal yang saat itu masih menangani timnas Belanda juga berkata demikian, bahwa perebutan juara ketiga kiranya tidak perlu diadakan karena pada intinya hanya untuk mengisi waktu jeda sebelum laga final digelar.

Bahkan, pembahasan peniadaan pertandingan perebutan tempat ketiga ini kembali mencul sebelum pembukaan Piala Dunia tahun ini, namun, seperti tahun-tahun sebelumnya, edisi Russia akhirnya tetap menggelar laga perebutan tempat ketiga.

Lazimnya, kejuaraan bertipe jangka pendek seperti Piala Dunia dan Liga Champions menggunakan sistem knockout atau KO. Di mana ketika partisipan mengalami kekalahan maka ia gugur dan harus pulang. Lain ceritanya jika suatu tim meraih kemenangan maka ia akan maju ke babak selanjutnya, dan jika kemenangan itu didapat secara kontinu sampai kompetisi berakhir maka tim tersebutlah juaranya.

Sama halnya dengan partisipan yang kalah di babak semi final, ia harus pulang juga. Mengingat ketentuan kompetisi jangka pendek yang memang demikian. Maka, ada benarnya jika pertandingan perebutan juara ketiga disebut sebagai “laga seremonial” belaka untuk mengisi waktu luang sebelum diadakannya laga final.

Namun, salah seorang legenda hidup Kroasia, Davor Suker menanggapi baik diadakannya perebutan juara ketiga di ajang Piala Dunia. “Bagi kami itu luar biasa bisa ada di peringkat ketiga di atas banyak tim hebat dunia. Akhir yang bagus,” ucapnya ketika mengantar Kroasia meraih peringkat ketiga di Piala Dunia 1998, Prancis, setelah harus kandas dari tuan rumah Prancis, 4-2 di babak semi final.

Kiranya kedua kesebelasan yang bertemu, Inggris dan Belgia harus mengambil baiknya. Bagaimanapun, kedua tim ini telah sampai di babak 4 besar, dan setidaknya mereka lebih baik dari kesebelasan lain yang sudah tersingkir jauh-jauh hari. Mau bagaimanapun, juara tiga tetaplah juara.

Its Coming Home

Sore langit Russia tetaplah indah, meski di sana masih tersimpan sisa-sisa luka. Suara teriakan lagu Its coming home masih terus bergema mencoba mengumpulkan segenap asa untuk setidaknya mengantar sang pangeran tiga singa meraih “titel pengobat luka”.

Harapan untuk kembali bangkit masih ada di hati para suporter Inggris, pun tentunya Belgia. Terkhusus bagi publik Britania momen ini adalah momen yang sangat langka dan sudah dinanti-nantikan oleh penduduk sejagat Britania raya sejak 1966 lamanya. Momen di mana tim kebanggaan mereka bisa tampil di babak puncak, sekalipun hanya perebutan juara tiga.

Memang sejak menjadi kampiun tahun 1966 Inggris belum pernah kembali merasakan panggung final di edisi-edisi setelahnya. Prestasi terbaik adalah ketika Piala Dunia tahun 1990, Italia, dan tahun ini saat mencapai babak semi final. Di tahun ’90 itu pun mereka harus mengakhiri kompetisi dengan predikat juara empat setelah dipaksa menyerah dari tim tuan rumah saat perebutan juara ketiga.

Pertandingan baru berjalan empat menit, lagu harapan itu seakan menghilang oleh kegembiraan suporter The Reds, Belgia, seiring gol dini Thomas Muenier. Pergerakan Muenier begitu cepat. Ia datang dari belakang menyongsong bola hasil umpan tarik Nacer Chadli dari sisi kanan pertahanan Inggris. Maguire yang tidak melihat pergerakan Muenier mengira bola akan diambil oleh rekannya, Rose. Nasib sial, Rose terlambat menyadari pergerakan Muenier dari belakangnya. 1-0 Belgia unggul sementara.

Jika melihat hitung-hitungan statistik, sebenarnya Inggris menang banyak dalam hal penguasaan bola, operan, dan percobaan tembakan ke gawang, sekalipun tidak diperkuat sejumlah pemain penting mereka. Nama-nama seperti Henderson, Walker, Young, Lingard, dan Dele Alli menghuni bangku cadangan, diganti dengan nama-nama yang belum memiliki waktu bermain cukup, seperti Fabian Delph, Dany Rose, Phil Jones, dan Eric Dier.

Sepertinya, Belgia banyak belajar dari permainan Prancis tentang permainan sepakbola negatif. Tentang cara bermain aman tanpa resiko, namun memiliki serangan balik yang cepat dan mematikan.

Pragmatis kalau boleh dibilang. Serangan seperti ini jamak menggunakan skema V. Motor serangan bermula dari sektor tengah yang kemudian dialirkan ke sayap dan diakhiri dengan umpan tarik atau diagonal ke kotak penalti. Kalau boleh kita cermati, gol-gol yang dihasilkan oleh Prancis, Belgia ataupun kontestan Piala Dunia lainnya sebagian berawal dari model skema V ini.

Menanggapi permainan yang diperagakan oleh anak asuhan Didier Deschamps selama perjalanan di Piala Dunia tahun ini Kiper Belgia, Thibaut Courtois sempat dibuat naik pitam. “Mereka (Prancis) adalah tim anti sepakbola. Mereka hanya menyerang lewat sepak pojok dan bertahan saja. Saya lebih baik kalah melawan Brasil di 8 besar,” kata Courtoissaat dikalahkan Prancis 1-0 di babak semi final.

Di 45 menit kedua, Southgate mencari alternatif untuk mengejar ketertinggalan mereka dengan memasukkan duo Manchester United, Rashford dan Lingard. Di sisi lain, Belgia justru menarik keluar juru gedor Manchester United lainnya, Lukaku, dan menggantinya dengan Dries Mertens.

Dengan masuknya Rashford dan Lingard praktis pelatih Southgate menginginkan Inggris lebih pro-aktif dalam serangan. Keluarnya Lukaku sedikit banyak memberi ruang bagi Eric Dier dan Stones berani keluar untuk membantu penyerangan. Walhasil, tiga kesempatan beruntun yang didapat Dier hampir mengembalikan asa publik Britania, andai saja salah satu peluangnya tidak dihalau Toby Alderweireld.

Namun, tetap saja akan selalu ada tantangan di balik setiap keputusan. Keputusan Inggris untuk all out attack meninggalkan celah yang cukup untuk Roberto Martinez membuat kontra strategi dengan membiarkan para pemain Inggris menguasai bola, dan melupakan pertahanan.

Benar saja, Inggris harus benar-benar mengubur asa mempersembahkan titel pengobat luka kepada publik Britania Raya setelah kapten Belgia, Eden Hazard membuat gol pengunci kemenangan di sepuluh menit akhir pertandingan, skor akhir 2-0.

Maka benarlah, jika edisi kali ini football coming home. Namun, bukan emas (gold) atau kejayaan (glory) yang diraih kembali, melainkan arti. Southgate sendiri yang berjanji, dua tiga tahun ke depan Inggris akan menjadi tim yang menjanjikan. “Kami kalah melawan tim terbaik, tetapi kami sudah menjalani petualangan yang luar biasa dan pengalaman hebat yang akan membuat kumpulan pemain dan staf ini jadi andalan di masa depan”.

Dengan hasil ini, Belgia menjadi tim yang paling produktif sepanjang gelaran Piala Dunia 2018 Russia dengan torehan 16 gol. Sekaligus memperpanjang rekor kemenangan mereka di bawah arahan pelatih Roberto Martinez sebanyak 26 kemenangan dan 1 kekalahan dari 27 pertandingan.

Bagi Inggris, hasil ini terus menjadi mitos yang belum terpecahkan sejak 1966 di mana 21 pertandingan terakhir sepanjang putaran final Piala Dunia, mereka tidak pernah menang ketika dalam posisi tertinggal. Pertandingan ini sekaligus menjadi persembahan kedua kalinya dalam sejarah Inggris gagal ke final dan kalah dalam perebutan juara ketiga.

Wallahu a’lam bisshawab