Menjadi Korban Kesadisan Negara

0
121
Foto: Inunk

Judul : Ronggeng Dukuh Paruk

Penulis : Ahmad Tohari

Tahun Terbit : 2011

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 408 halaman

Resentator : Hasan Ainul Yaqin

Ahmad Tohari sastrawan desa asal Tinggarjaya kabupaten Banyumas yang mencoba mengabadikan dirinya dalam sebuah karya. Ronggeng Dukuh paruk merupakan salah satu karya monomentalnya yang ditulis sekian tahun lalu. Terbitan pertama 1981, namun tetap relevan dalam konteks saat ini siapapun nahkoda pengendali kekuasaan pemerintahan.

Selama pembunuhan orang tidak bersalah tidak diadili secara hukum, penjeblosan orang tanpa peradilan yang sah belum diusut tuntas sampai saat ini, dan pelanggaran HAM oleh negara belum berani diungkit kembali. Maka selama itu juga novel ini senantiasa memberi angin segar sepanjang massa bagi siapa yang ingin membacanya guna membuka memori gejolak politik kejahatan masa lalu yang dilakukan oleh negara itu sendiri.

Perlakuan negara terhadap pihak tidak bersalah, tetapi memberi rasa amat pedih yang memilukan diri korban dan menyesakkan dada keluarga pastinya. Sebagai negara hukum sudah seharusnya menindak prilaku kejahatan atas hak asasi manusia yang tidak berdasar hukum diusut kembali supaya hukum yang ada bertujuan memang untuk membahagiakan masyarakatnya. Bukan sebaliknya, negara mengandalkan power bermain spekulasi dengan cara berbuat semaunya.

Seperti pembunuhan orang yang diduga terlibat PKI pada pristiwa G30S, dan penjemblosan penjara tanpa peradilan yang sudah diatur. sebenarnya inilah intisari dalam karya Ahmad Tohari. Dia menceritakan sejarah pilu yang dialami bangsa Indonesia melalui jalan produk sastra berupa novel. Sehingga para pembaca budiman jika ingin bernostalgia membaca sejarah lembar demi lembar tidak membosankan terhadap peristiwa sejarah yang dibalut dalam karya sastra Ahmad Tohari.

Menyinggung poweritas negara dalam kisah tersebut adalah berbicara hukum dan politik. Salah satunya tidak bisa berdiri sendiri. Hukum dan politik harus saling seimbang dan saling membutuhkan satu sama lain. Namun masalahnya, apabila politik lebih mendominasi lebih liar, maka akan melahirkan hukum liar pula, ialah hukum yang tidak menghargai hak hak masyarakat.

Seperti yang terjadi pada kisah tersebut, Negara telah berbuat di luar hukum. Menumpahkan darah dan nyawa yang diduga bersalah namun tidak dibuktikan secara sah oleh peradilan seperti tokoh utama novel ini, Srintil. ia harus mengelus dada merasakan penderitaan pahit mendekap di balik jeruji besi selama 2 tahun lebih tanpa diadili dan tanpa diberi tahu kesalahan apa yang diperbuat.

Aparatur negara tiba tiba menyiret perempuan itu, memanggil paksa kemudian menjebloskan ke dalam penjara. Tanpa ada kejelasan kejahatan apa yang dilakukan gadis bernama srintil. Bahkan tidak boleh orang lain maupun keluarga menyambangi selama di penjara. Sebagian yang lain mengira Srintilpun menghilang diculik.

Kejahatan yang dilakukan negara terhadapnya dan orang lain dalam novel ini, yang dibunuh, dihancurkan gubuk rumah adalah sekelumit kisah puncak gunung es yang tidak menafikan orang orang lain di luar karya ini. Detik ini pula keluarga diri korban atas peristiwa serupa tentu masih sedih hati, sulit menerima keadaan yang menimpa salah satu keluarganya hilang begitu saja dan belum ditemukan hingga saat ini akibat kesengajaan negara yang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan orang terlibat G30S dan kejahatan HAM lain. Seperti dialami Wiji tukul dan Munir saat ini pula belum dipastikan dimana jasad mereka.

Kejahatan negara diceritakan novel ini bermula ketika Srintil meronggeng di pentas yang digelar. Ia diundang oleh orang bernama Bakar dan kawan kawan tokoh PKI yang membawa paham komunis dengan cara mengumpulkan massa untuk melawan penguasa dan tuan tanah dengan jalan pemberontakan pada masa itu.

Padahal Srintil dan penduduk desa setempat yang bernasib sama dijebloskan penjara, dihancurkan rumahnya, dibunuh secara sia sia tidak mengerti apa itu PKI. siapa itu bakar dan kawan kawanya dalam tokoh novel ini. Srintil hanya memenuhi permintaan bagi siapa mengundang yang sudah terbiasa ia lakukan sebelumnya. Akibatnya ia harus menyambung hidup di bawah atap penjara dengan dugaan sebagai bagian dari orang PKI.

Karena keronggengan dan kekenesannya, nama Srintil membuming baik di desa dimana ia dibesarkan bernama Dukuh Paruk. Maupun di luar wilayah. Sekali mendengar srintil meronggeng, orang dan segenap sanak familinya berbondong-bondong tanpa di pinta menyaksikan Srintil tampil. Begitu tahu Srintil dapat menarik massa sebegitu banyaknya berkumpul bersatu padu, kemudian dijadikan alat politik oleh Bakar dan kawan kawan sebagai tokoh PKI untuk melancarkan agenda politiknya.

Dunia politik memang penuh intrik. Segala cara dilakukan demi tercapainya kekuasaan seperti Neitzsche katakan bahwa semua orang mempunyai hasrat berkuasa. Dalam novel ini Bakar dan kawanya memperagakan Srintil menari dan meronggeng agar massa terkumpul. Maka tidak perlu menggelengkan kepala menanggapi politik dewasa ini ketika sosok serupa Srintil yang mampu menghipnotis masa berkumpul itu dijadikan alat oleh calon politisi guna meraih kekuasaan seperti aroma pilkada bulan lalu. Ada Nesa Sabyan dengan lagu religinya, Nela Kharisma yang terkenal akan lagu jaran goyangnya, dan Via Vallen dengan suara emasnya. dalam politik kekuasaan, demi melancarkan agenda politik, cara apapun tidak menjadi masalah diselancarkan selama tidak melanggar hukum yang ada.

Selain menceritakan intisari dari sebuah novel ini, Ahmad Tohari menyinggung budaya masyarakat setempat, menggambarkan keadaan desa setempat yang dirundung kebodohan dan kemiskinan, dan kesenjangan ekonomi yang tidak pernah kunjung usai menjadi problematika yang dihadapi bangsa sampai saat ini.

Kemiskinan dan pengangguran yang diceritakan dalam novel ini bisa diobati apabila Srintil meronggeng. Mereka menggantungkan hidup pada diri seorang bernama Srintil. Semua soneta mulai Pemukul calung bernama Sakum, kendang, dan alat musik penggiring Srintil meronggeng bisa menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Apabila srintil libur, kekandasan yang justru mereka alami. Anak anak mereka yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang tuanya, justru harus memikul beban hidup bersama sama. Anak- anak mereka harus bekerja mencari binatang buruan untuk mengganjal perutnya. Kalau tidak ingin mati sebab kelaparan.

Desa Dukuh Paruk adalah sebuah desa yang digambarkan oleh Ahmad Tohari penduduknya mengagungkan tokoh yang menjadi dewa panutan masyarakat bernama Kacamenggala. Menghidupkan dunia peronggengan menandakan melaksanakan ajaran tokoh yang dikagumi tersebut. Kepercayaan pada hal mistis atau ghaib sangat terbaca pada masyarakat setempat. Kehidupan mereka jalani adalah kehidupan bagaikan air mengalir.

Hadirnya negara atau tidak untuk melindungi kepentingan dan kehidupan bangsanya bukan suatu hal yang mereka harapkan dan mereka tidak mengerti bahwa seharusnya mereka adalah tanggung jawab negara. Keyakinan mereka bertaut selama tidak melanggar aturan yang disepakati di wilayah setempat, dan menghomarti makam ki kacamenggala itulah ketentraman yang mereka rasa sudah cukup mengawal kehidupannya.

Benar mengagetkan mereka, ketika ada tokoh komunis mengajak masyarakat setempat untuk melawan setiap penindasan yang dilakukan oleh negara, kaum kapital, dan tuan tanah. Oleh karena itu, kejahatan yang dilakukan negara yang sudah disebutkan diatas dengan dugaan terlibat dalam bagian PKI pada Srintil dan masyarakat setempat sangatlah tidak berprikemanusiaan, apalagi tidak diadili menurut hukum dan penumpahan darah semena mena.

Seperti kebanyakan Novelis lainya, Ahmad Tohari menyelundupkan kisah romantisme cinta dalam cerita novel ini. Ialah Rasus lelaki yang menghubungkan temali hatinya pada srintil. Tidak berusia lama kisah keduanya menjadi renggang, lantaran Rasus tidak ingin mempunyai seorang kekasih yang membuka pintu pada semua orang bisa merasakan kenikmatan tubuhnya karena posisi sebagai Ronggeng. Kisah peronggengan di desa setempat adalah tradisi dimana semakin lelaki mendekatinya untuk menari atau bertayub bersama petanda ronggeng semakin hidup dan laku.

Sebagai tempat pelarian meninggalkan masa lalu yang sempat dialami, Rasus terpanggil menjalani kehidupan baru dengan diangkatnya sebagai tentara. Tugas tentara tidak lagi di kampungnya. Rasus harus keluar meninggalkan tempat kelahiran Dukuh Paruk dan meninggalkan ninik yang semenjak kecil merawatnya termasuk menghilangkan jejak bersama Srintil.

Tetapi ketika terjadi peristiwa mengenaskan menimpa tanah airnya. Hatinya tersontak mengisyaratkan untuk pulang. dalam konteks saat ini, rupanya Ahmad Tohari Menyindir, bahwa sebesar dan sehebat apapun orang ketika hidup di luar kampungnya, ia harus ingat pada tanah dimana orang itu hidup dan dibesarkan.

Novel ini disusun secara sistematis oleh pengarangnya, dengan Bahasa yang mudah difahami menjadi renyah dibaca. Karena ada banyak Bahasa jawa yang diselipkan dalam novel ini, alangkah lebih baik lagi jika tulisan berbahasa jawa diterjemahkan di bawah atau sampingnya dengan kutipan berbahasa Indonesia. Mengingat novel ini penting dibaca oleh orang indonesia yang terdiri bukan berasal dari jawa saja.