Meluruskan Arti Tatto

0
255
sumber ilustrasi: https://4.bp.blogspot.com

Oleh : Rifqi Arifudin

Sang maha kuasa menciptakan manusia untuk hidup saling berdampingan. Membentuk sebuah insteraksi berfungsi untuk saling memudahkan satu sama lain. Kontruksi sosial adalah buah dari kesepakatan masyarakat yang ada di dalamnya. Tumbuh beriringan dengan sejarah , ada untuk masa kini dan diharapkan masih ada masa depan.

Seiring menuanya zaman, seiring itu pula pemikiran manusia kian berubah. Banyak hal-hal paradok mencuat. Suatu hal yang pada zaman dahulu dianggap tabu mungkin sekarang dianggap biasa, dan sebaliknya. Banyak faktor yang mempengaruhi pola perubahan pikiran manusia. mulai dari pengaruh luar maupun sebuah pemberontakan dari dalam.

Salah satu hal yang dahulu dianggap tabu (red : negative) oleh masayarakat dan sekarang dianggap biasa adalah tato. Secara etimologi tato berasal dari bahasa Tahiti yang memiliki arti penanda sesuatu, sedangkan menurut KBBI tato berarti gambar atau lukisan pada bagian (anggota) tubuh.[1] Keberadaan tato dalam kehidupan manusia sudah sangat lama. Sejarah mengatakan bahwa tato pertama kali ditemukan 3000 tahun SM. Pada awal kemunculannya tato merupakan lambang sebuah setatus sosial seseorang sekaligus ritual kepercayaan.

Di pedalaman Kalimantan terdapat sebuah suku yang memiliki budaya tato sebagai penanda derajat sosial sekaligus ritual kepercaayaan. Suku Iban namanya, Merupakan salah satu rumpun suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei dan Tawau Sabah.[2] Berdasarkan artikel yang ditulis Kompas.com dengan Judul Tato,Simbol Dari Orang Dayak Iban menjelaskan, bahwa tato dalam Suku Dayak Iban menjadi ciri khas.

Tato adalah simbol keberanian masyarakat Iban. Selain sebagai simbol keberanian, Tato Dayak Iban juga berarti sebagai tanda pengenal dalam peperangan. Setelah tidak adanya peperangan makna tato mengalami pergeseran, salah satu contohnya adalah jika laki-laki dalam Suku Dayak Iban sudah pernah merantau maka akan mendapatkan tato dengan motif tertentu yang menandakan hal tersebut.

Pada era kepemimpinan Presiden Soeharto, tato memiliki sisi tersendiri dalam benak masyarakat. Seseorang dengan guratan hasil rajah di tubuhnya sudah pasti dianggap sebagai gali, tukang kriminal dan pelaku kejahatan. Dengan mudahnya menstigma sesorang yang memiliki tato sebagai kriminal, memunculkan adanya petrus (Pembunuhan misterius). Walapaun pada saat itu ada klarifikasi bahwa petrus bertujuan untuk kestabilan keamanan negara.

Pada zaman itu siapapun yang memiliki tato dan diketahui oleh pasukan petrus, bisa dipastikan hidupnya tidak akan lama lagi. Mungkin esok pagi kita akan menemukan mayatnya di samping pos ronda, perempatan atau tegalan sawah. Saking banyaknya orang yang dianggap gali (Gabungan Anak liar) masyarakat pada era itu sangat terbiasa melihat mayat tergeletak tidak bertuan (red: tidak diketahui identitasnya).

Pada penjelasan sebelumnya sudah Gamblang bahwa tato pada awal kemunculannya adalah sebagai lambang identitas, keberanian dan ritual kepercayaan. Namun cap negatif sudah terlanjur melekat sehingga sulit untuk dihapuskan. Namun seiring dengan moderintas serta arus budaya pop yang semakin kencang, sedikit demi sedikit merubah pola pemikiran masyarakat luas mengenai tato.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Endang Murdaningih dengan judul Makna Tato Sebagai Representasi Pesan Komunikasi pada Komunitas Black Cat Tato memaparkan kurang lebih ada tiga alasan mengapa sesorangan memenuhi tubuhnya dengan tato. Pertama karena agar tubuh terlihat indah, kedua sebab meniru idola, ketiga sebab pergaulan. Dari ketiga latar belakang tersebut dapat diatarik benang merahnya bahwa pada era sekarang seseorang merajah tubuhnya adalah dengan alasan ekspresi dan keindahan. Hal ini bisa dikatakan sebagai counter culture, dimana sesuatu ada disebabkan karena adanya penolakan terhadap sesuatu lain yang dominan.

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Rajah

[2] https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Iban