Ganjaran Bagi Mereka dan Bidah untuk Dunia

0
125
sumber ilustrasi: kompas entertainment

Oleh: M. Ainul Yaqin

 

Pada dekade 1960-an, Amerika Serikat mengalami sebuah masa yang dipenuhi dengan peristiwa dan pergolakan sosial-politik. Dekade ini juga merupakan puncak dari budaya kaum muda dimana tahun-tahun tersebut kaum muda yang menamakan dirinya sebagai flower generation yang bergaya hippies beramai-ramai melancarkan aksi protes sebagai wujud pemberontakan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan pandangan mereka. Hippies sendiri merupakan istilah yang menjadi populer pada pertengahan tahun 1960-an. Istilah ini mengacu pada kelompok muda yang berusaha untuk menjatuhkan nilai-nilai sosial yang sudah mapan, sebagai bentuk pemberontakan terhadap institusi-institusi dasar yang ada dalam masyarakat (keluarga, pemerintah, agama, sistem pendidikan, dan lainnya). Pengikut gaya hidup ini mayoritas dari keluarga kelas menengah di Amerika (Lewis Yanblonski, 1994, Hippies: 216-217).

Kelahiran Segerombolan Pemberontak

 

Ketika daratan Eropa telah mencapai puncak penemuan teknologi, sebagian penghuninya justru merasa gusar dan tersisih dari keberhasilan itu. Terutama bagi mereka yang hidup di bawah garis kemelaratan. Seperti buruh pabrik, pekerja swasta amatir, dan karyawan perusahaan kecil. Apa sebab? Karena di balik semua kesuksesan besar itu, mereka harus dipaksa menjadi korban. Mereka merasa hak-hak dasarnya tidak dipenuhi oleh raja-raja era industri. Gaji di bawah standar, sistem kerja kontrak (outscharcing), PHK, dan mekanisme kerja yang tak kenal waktu adalah diantara bukti kepincangan sistem para pemegang kendali abad industri kala itu.

 

Fenomena inilah yang akhirnya mendorong para pekerja, terutama kaum muda, untuk memberontak. Awalnya bidikan mereka hanya terbatas kepada sistem tata sosial yang timpang. Lambat laun, semua wilayah kehidupan menjadi sasaran. Tidak hanya sistem pemerintahan, tapi semuanya: budaya, sosial, politik dan bahkan agama. Mereka tabrak semua hal yang pada saat itu dianggap tabu. Cara mereka berontak pun amat beragam. Dari mulai merombak tata busana, tata fisik, sampai tata pikir.

 

Pada pertengahan tahun 1970 di Amerika Serikat muncul sebuah bentuk musik baru. Musik ini adalah musik punk. Istilah punk sendiri berasal dari kata P.U.N.K, yang berarti Public United Not Kingdom. Musik punk muncul pertama kali di New York pada tahun 1974. Musik punk pada dasarnya berkembang sebagai reaksi tandingan atas dominasi jenis-jenis musik yang populer pada saat itu seperti rock, heavy metal, dan disco. Musik ini pada perkembangannya menjadi sebuah musik yang dijadikan oleh kaum muda Amerika untuk menunjukkan perlawanan mereka terhadap keadaan masyarakat pada umumnya seperti budaya konsumtif, kehidupan mapan, pengangguran, ketimpangan sosial dan perang. Sehingga jenis musik ini mengusung minimalisasi dalam bermusik, serta mendobrak semua aturan baku dalam membuat sebuah musik pada saat itu, seperti kesulitan aransemen, teknik permainan dan lirik indah. Hal tersebut tercermin dalam alat-alat musik yang digunakan, yakni hanya drum, gitar elektrik, bas elektrik dan vokal, biasanya suara yang dihasilkan kasar dan kering (Mojo, 2016, Punk the Whole Story: 135)

 

Keterasingan

 

Maka tak heran, setiap kali ditemukan sesuatu yang menurut mereka negatif, spontan mereka kritik dan lawan. Seringnya perlawanan itu diekspresikan lewat musik, saking terbatasnya media sosialisasi yang dipunyainya. Terbukti, band-band semacam Sex Pistols, The Stooges, Dead Kennedys Rancid, Nazi Punk, The Exploited, pernah bertengger lama di jajaran musik dunia, meski tak sampai kaliber The Beatles atau Queen yang legendaris itu.

 

Ada musik maka ada juga atribut. Atribut membutuhkan slogan. Begitu juga slogan, selalu butuh akan tulisan. Maka jadilah mereka membuat tulisan-tulisan propaganda di sembarang tempat (yang jelas tidak di papan reklame, sebab mereka sangat benci kapitalisme). Lebih dari itu, mereka juga ingin eksistensinya diakui, tidak terpojokkan. Dan, ternyata mereka berhasil. Kini hampir mayoritas masyarakat Eropa menerima mereka (beserta dengan semua kenyelenehan yang dibawanya) sebagai bagian dari warga semesta yang juga perlu diperhatikan nasibnya. Diberi ruang gerak yang luas, bila perlu difasilitasi, seperti yang belum lama ini dilakukan pemerintah Inggris. Mereka para pemberontak inilah yang dikemudian hari masyhur dengan sebutan kaum Punk/ers (secara harfiah bermakna: pemuda yang bodoh, tidak berpengalaman dan tidak berguna)

 

Reingkarnasi Total

 

Beberapa komunitas/band punk itu di antaranya ialah Dispute dan Marjinal. Satu yang masih tersimpan lekat dalam hati, yaitu beberapa patah kata yang tersimpul dalam sampul kaset Dispute: Banyak orang mengecam kami sebagai sampah. Sampah yang hanya mengotori wilayah sosial, budaya, ekonomi juga agama. Menurut mereka kami tak lebih dari sekedar beban. Padahal semua cap itu tak semua benar. Kami tetap manusia beragama, taat aturan sosial, turut berkontribusi dalam kreasi budaya, serta tak pernah turut menambah saldo utang negara. Hanya saja cara kami mengungkapkan itu semua memang sedikit berbeda dari masyarakat umumnya. Intinya, kami tetap cinta sepenuh hati terhadap negeri ini. Tapi kami benci dengan sistem yang ada. Ternyata ini tidak berhenti pada sekedar kata-kata, melainkan mereka buktikan dengan aksi nyata.

 

Terbukti, selain menciptakan band, mereka juga membuka sendiri rumah produksi rekaman partikelir (indie label) dengan cara urunan. Ini sebagai tanda komitmen mereka untuk tetap independen dalam segala hal, tanpa harus bergantung pada siapa pun. Termasuk di dalamnya adalah dalam hal pengembangan karir diri. Jadi kredo no future (tanpa masa depan) jelas sudah tak relevan lagi disematkan pada komunitas ini. Mereka kini menggaungkan konsep D.I.Y: Doityourself atau berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Sebab bagi mereka, punk adalah merayakan potensi untuk melakukan apapun dengan kemampuan sendiri.

 

Tidak ada promotor, maneger atau pun sponsor. Mereka menggarapnya sendiri secara serentak bersama masing-masing kelompoknya. Sudah demikian, penjualan kaset pun (yang kadang hanya mampu menembus pasar distro) tidak masuk ke kantong masing-masing personil. Melainkan royalti kaset tersebut dikucurkan untuk kembali mengadakan festival musik, membuat selebaran propaganda-kritik, diskusi atau sekedar untuk slametan bersama. Bahkan komunitas punk Muslim di Pulogadung, Jakarta Timur, selalu menggelar pengajian setiap malam Selasa dan malam Jumat. Isi pengajian itu tak melulu mendedah hal-ikhwal akhirat, tapi juga masalah keterampilan berwirausaha. Buktinya, saat ini komunitas mereka sudah punya warung makan bernama Warpunk dan kios pulsa bernama Punkcell.

 

Aksi Berbuah Manis

 

Sungguh mereka tipe para pemberontak yang manis dijadikan cerminan! Musikalitas di tangan mereka sudah berhasil menjadi amunisi perubahan sosial yang ampuh, tak sekedar cuma menjadi lahan eksploitasi materi yang banal dan menjadi trend saat ini. Pantas saja jika I. Bambang Sugiharto, seorang guru besar filsafat UNPAD Bandung, menaruh keyakinan bahwa, kelak bangsa ini akan menjemput pencerahannya di saat kaum Punkers (bukan praktisi atau akademisi) telah menempati posisi dominan dalam stuktur sosial. Pendapat ini juga diamini oleh M. Soffa Ihsan, seorang intelektual muda yang menempuh jalan hidup sufi. Indonesia bakal berubah maju jika yang memegang kendali adalah kaum Punkers dan para sufi (bukan oleh ustadz atau kyai), katanya menambahkan secara berani. Entah ilusi atapun halusinasi yang mereka pikirkan, kita tunggu saja sejarahnya ke depan.