Borjuis Tetapi Miskin

0
110
sumber ilustrasi: firdaus cahyadi

Oleh:Rifqi Arifudin

Raihlah ilmu walau sampai ke negri China. Idiom yang sudah sejak lama digaungkan demi memupuk semangat orang-orang dalam mencari ilmu. Tetapi perlu dikupas mendalam lagi, apa sebenarnya maksud dari idiom tersebut ?Apakah kita harus menuntut ilmu di negeri China ?. Apakah kita harus mempelajari kebudayaan China ?. Yang terakhir, apakah kita harus belajar dengan orang China ?. Ternyata bukan itu semua. Tafsirnya adalah, selagi kita memiliki kesempatan untuk meraih ilmu janganlah disia-siakan.

Derajat seseorang salah satu indikatornya adalah dengan pendidikan atau ilmunya. Berbeda kenyataanya, ilmu diraih bukan untuk melestarikan ilmu sendiri. Ekonomi adalah tujuan utamanya. Daftar sekolah-lulus-kerja-kaya raya. Rentetan fase tersebut sepertinya yang banyak tertanam pada kepala setiap insan. Menerapkan pola pikir demikian, sama saja kita menghianati kemurnian ilmu itu sendiri. Tidak adil memang, ilmu memberi kita pengetahuan, kita tidak memberi apa-apa kepada ilmu. Bahkan dalam pikiran saja kita sudah tidak adil.

Beberapa hari terkahir banyak hembusan kabar tentang sistem penerimaan siswa didik baru. Setiap tahun rasanya hampir sama yang menjadi persoalan. Sistem penerimaan yang berubah-ubah terus. Dulu ada sistem pendaftaran melalui online, kemudian sistem zonasi dan yang terakhir ini adalah setiap sekolah harus menerima 20% siswa ber-SKTM. Peraturan ini sesuai dengan Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 pasal 19. Jika kita memahami secara baik, sebenarnya sistem zonasi dengan porsi 20 % siswa tidak mampu sangatlah bagus. Mengapa demikian, sebab nantinya jika sistem ini bisa berjalan dengan baik tentunya diharapkan bisa mengikis ketimpangan antara sekolah favorit dengan sekolah pinggiran. Lebih kasarnya lagi supaya pendidikan merata antara wong ndeso dengan wong kota.

Karena sejatinya manusia adalah makhluk paling sempurna sebab diberi nafsu dan akal, apapun oleh manusia bisa diakali. Jangankan mengakali sesama manusia sendiri, setan dan malaikat-pun pernah diakali. kembali kepada pembahasan sistem penerimaan peserta didik baru, agaknya para orang tua murid jeli dalam melihat celah. Ya, besaran presentase 20% pihak sekolah harus menerima calon siswa yang memiliki SKTM adalah celah yang menggiurkan untuk dimanfaatkan. Mengutip dialog dalam film who am I no system is safe(tidak ada sistem yang aman) tidak bisa kita pungkiri memang adanya.

Sudah jelas , para orang tua murid menginginkan anaknya masuk ke sekolah yang favorit namun mereka tidak sadar bahwa jalan yang mereka ambil justru bisa jadi bumerang untuk dia sendiri atupun anaknya dikemudian hari. Demi anaknya masuk ke sekolah favorit para orang tua berbondong-bondong menerbitkan SKTM yang tidak sesuai dengan keadaan ekonominya. Borjuis tetapi memiskinkan diri. Miris memang manusia itu. Ingin dipandang kaya dengan cara pamer, ingin mendapatkan pendidikan bagus tetapi memiskinkan diri.

Disamping sekolah favorit menjanjikan kualitas pendidikan, agaknya peran rasa gengsi juga ikut andil bagian dalam persoalan ini. Walapun otak pas-pasan asalkan sekolahannya favorit, orang-orang akan beranggapan luar biasa bahkan sambil bertepuk tangan. Jangankan saat memilih sekolah, bahkan untuk mendapatkan beasiswa-pun jalan termudah adalah menerbitkan SKTM palsu. Banyak sudah buktinya, mungkin sama banyaknya dengan buih dilautan. Jadi sebenarnya yang perlu diubah adalah bahwa dimanapun tempat menimba ilmu asalkan mendapatkan support penuh, tanpa tekanan serta sesuai dengan passionpastilah akan sukses dikemudian hari. Bahkan untuk urusan sukses sebenarnya bukan kita yang mengaturnya. Sukses adalah pemberian Tuhan , kita hanya perlu ikhtiar. Satu lagi, sekolah itu tempat untuk menimba ilmu bukan untuk mendulang rupiah, dolar ataupun euro.