Biseksual Sebagai Akibat dari Pelecehan Seksual

0
800
sumber ilustrasi: www.matanaga.com

Oleh: Adetya Pramandira

Dewasa ini, fenomena biseksual nampaknya menjadi sebuah kasus yang dikesampingkan dan dianggap tidak terlalu penting untuk dibicarakan. Biseksualitas merupakan sebuah orientasi seksual yang tidak lazim dan menyimpang. Oleh sebagian orang, biseksual dianggap sebagai perilaku yang abnormal dan cenderung negatif.

Tidak boleh dilupakan, bahwa keturunan bukan menjadi faktor utama penyebab biseksual. Melainkan faktor lingkungan, hormonal dan psikologis. Seperti yang diungkapkan Nugraha dalam buku Menengenal Biseksualitas bahwa, biseksual bisa terbentuk karena adanya faktor pendorong dari luar individu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan faktor keturunan, bisa jadi karena lingkungan, tempat tinggal, pola asuh, pengalaman masa lalu yang kelam, yaitu pelecehan seksual.

Pengaruh dari luar tersebut bergerak secara perlahan dan dapat menimbulkan dampak yang cukup parah pada masa yang akan datang. Sebagian besar penyandang biseksual mempunyai pengalaman yang buruk semisal, deilecehkan, diperkosa dan menjadi korban kekerasan seksual bahkan pada masa kecilnya.

Sama halnya dengan kaum lesbian dan gay, kaum biseksual juga sulit dikenali keberadaanya. Seorang laki-laki yang terlihat maskulin dengan banyak perempuan sebagai kekasihpun juga dapat mempunyai kecenderungan untuk suka terhadap sesama jenis, dan juga sebaliknya perempuan pun demikian. Hal ini sejalan dengan ungkapan Sigmun Freud yang menyatakan bahwa pada dasarnya manusia mempunyai sifat biseksual bawaan. Dengan demikian hal ini tidak menutup kemungkinan bahwa setiap individu bisa saja berorientasi seksual dengan lawan jenis, berorientasi seksual dengan sesama jenis atau bahkan berorientasi seksual terhadap sesama jenis dan lawan jenis.

Namun demikian, biseksual tidak tumbuh begitu saja tanpa adanya pengaruh dari luar seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam sebuah kasus, seorang perempuan yang berusia 27 tahun mengaku telah dipaksa berhubungan intim dengan ayahnya semenjak ia berusia 12 tahun. Selain itu, perempuan tersebut juga mengaku bahwa ia pernah dan bahkan sering berhubungan dengan sesama jenis. Hal ini ia lakukan sebagai pemenuh hasrat seksualnya yang tidak bisa terpenuhi dengan lawan jenis.

Selama rentang waktu lima belas tahun tersebut, tentunya menimbulkan beban mental yang mendalam bagi si perempuan. Perasaan terkekang, sedih, tidak berguna tentunya tidak bisa terelakan. Namun demkian, bersamaan dengan rasa sakit yang dialaminya kenikmatan secara perlahan juga diperolehnya sebagai pemenuh kebutuhan seksualnya. Sehingga ketika hasrat seksualnya tidak bisa dipenuhi oleh ayahnya, ia berusaha memenuhi dengan siapa saja termasuk sesama jenisnya.

Dalam sebuah kasus tersebut dengan menggunakan konsep id, ego dan superego Sigmund Freud, perempuan tersebut lebih mengedapankan id yang ditunjukan dengan lebih mengedepankan hasrat untuk memenuhi kebutuhan seksualnya tanpa memikirkan akibat yang ditimbulkan setelahnya. Id atau nafsu kaitanya dengan hal ini bisa dikatakan sebagai keinginan jauh lebih besar daripada superego sebagai sebuah nilai normatif yang seharusnya ia peroleh sejak masa kecilnya dari orang tua, termasuk nilai-nilai seksualitas yang sehat.

Berkaitan dengan hal tersebut, pertahanan ego juga dilakukan untuk menghadapi pandangam buruk masyarakat terhadap perilaku menyimpang yang dilakukan. Pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayahnya dapat menjadi tameng. Dengan berlaku Sebagai korban pelecehan, masyarakat akan lebih simpati daripada memandang sebelah mata atas perbuatan tersebut, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat akan bertindak acuh dan justru mengecam.

Hemat penulis, perbuatan pelecehan seksual tidak hanya menimbulkan depresi, perilaku agresif dan semangat hidup menurun, bahkan dapat menimbukan perilaku menyimpang seksual. Dalam hal ini adalah promiscuity atau melakukan hubungan seksual dengan siapa saja dan juga biseksual.