Acara launching dan peresmian Center for Disability Studies UIN Walisongo, di Hall American Corner UIN Walisongo, Senin 25 September 2017. Foto: Danil

Justisia.com – Berbicara tentang penyandang disabilitas tentu tidak akan lepas dari hak yang melekat pada dirinya. Seperti non-difabel pada umumnya, penyandang disabilitas senantiasa perlu mendapat perlakuan yang sama serta pemenuhan hak tanpa kecuali. Salah satu diantara haknya ialah mendapat aksesibilitas dalam pendidikan.

Termasuk di UIN Walisongo Semarang tercatat oleh Center for Disability Studies UIN Walisongo terdapat enam mahasiswa berkebutuhan khusus. Paling banyak terdapat di Fakultas Dakwah dan Komunikasi sebanyak empat mahasiswa, satu mahasiwa di Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan serta satunya lagi mahasiswa di Fakultas Psikologi dan Kesehatan.

Beberapa bulan, diakhir penghujung 2017, Reporter Justisia berhasil mewawancarai beberapa dekan Fakultas UIN Walisongo Semarang, mereka angkat bicara mengenai cita-cita UIN Walisongo sebagai kampus inklusi.

UIN Walisongo Semarang sampai saat ini belum memberikan pelayanan terhadap mahasiswa difabel. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Imam Yahya menjelaskan, saat ini UIN Walisongo telah menerima beberapa mahasiswa difabel yang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

“Saat ini UIN Walisongo telah menerima mahasiswa difabel yang sudah sesuai dengan syarat untuk menjadi mahasiswa. Hal tersebut berpijakan pada amanat Undang-Undang. Adapun mahasiswa tersebut tengah menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan serta Fakultas Dakwah dan Komunikasi,” tutur Imam, sapaan akrabnya, (30/10/17).

Ia menambahkan, bahwa gedung-gedung di UIN Walisongo belum memberikan fasilitas yang memadai untuk difabel. Alasannya gedung yang berdiri sekarang ini merupakan gedung lama dan belum dirancang untuk ramah difabel.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Mukhyar Fanani pun mengungkapkan alasan yang berbeda. Ia mengatakan, keterbatasan fasilitas bagi mahasiswa difabel disebabkan minimnya dana serta letak geografis kampus UIN Walisongo yang tidak memungkinkan.

“Sampai saat ini UIN Walisongo masih dibilang terbatas dalam memfasilitasi mahasiswa difabel. Alasannya pendanaan yang masih kurang serta letak geografis kampus UIN yang tidak memungkinkan. Sehingga ini menjadi PR sendiri bagi kampus,” jelas Mukhyar saat ditemui reporter Justisia, (1/11/17).

Pertengahan November reporter Justisia berhasil bertemu Dekan Fakultas Syariah dan Hukum, Akhmad Arif Junaidi, mengungkapkan bahwa gedung-gedung yang saat ini berdiri pada dasarnya merupakan gedung lama yang dibangun sekitar tahun 1990, yang mana kala itu belum ada mahasiswa berkebutuhan khusus serta kesadaran dari pihak kampus terhadap mereka. Rencananya tahun 2018 UIN akan membangun gedung yang ramah terhadap difabel, sedang pendanaannya berasal dari Islamic Development Bank(IsDB).

Pernyataan tersebut diperkuat lagi oleh dekan Fakultas Psikologi dan Kesehatan, Darmuin. Menurutnya anak difabel harus diterima di perguruan tinggi serta diperhatikan kebutuhannya. Infrastruktur yang terkait penyandang disabilitas rencananya akan di bangun dalam kurun waktu 2 tahun, yakni tahun 2018-2019.

“UIN Walisongo sudah merancang pembangunan gedung baru yang ramah difabel. Rencananya gedung baru tersebut akan mulai direalisasikan pada tahun 2018-2019. Sedangkan untuk buku-buku penunjang bagi kalangan difabel masih diupayakan,” Ujar pria berusia 54 tahun tersebut, (3/11/17).

Ia meyakini, penerimaan mahasiswa difabel di lingkungan kampus tidaklah sulit. Pasalnya, UIN Walisongo sendiri telah mendasarkan segalanya secara teologis, sehingga mereka mampu memahami kekurangan fisik bukanlah kehendak manusia melainkan hak merekalah yang harus diterima.

“Mahasiswa difabel pun pada dasarnya tidak menghendaki kondisinya yang demikian, melainkan hal tersebut merupakan sesuatu yang harus diterima. Hak merekapun sama dengan lainnya yakni mengenai pendidikan dan perlakuan yang sama,” Pungkasnya

Pada 3 November 2017 reporter Justisia berhasil menemui Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyyah dan Keguruan, Raharjo, ia menyadari adanya kekurangan infrastruktur terhadap mahasiswa penyandang disabilitas. Ia pun memandang kondisi ini dengan tragis. Alasannya mahasiswa penyandang disabilitas harus rela menggunakan fasilitas seadanya. Dengan kondisi yang demikian pihak fakultas berharap education for all mampu menginspirasi berbagai lembaga pendidikan. Di lain sisi, fakultas yang meluluskan para sarjana pendidikan ini menghendaki masuknya pendidikan inklusi dalam kurikulum untuk kedepannya.

Keluh Kesah Mahasiswa Penyandang Disabilitas

Dilansir dalam koran AMANAT edisi 129 yang terbit pada 8 Desember 2017, salah seorang mahasiswi jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) penyandang tuna daksa bernama Fitriyah Ayu Citra Sari mengaku harus bersusah payah untuk menaiki jalan kampus II UIN Walisongo. Ia selalu merasa lelah saat berjalan menaiki tanjakan di jalan kampus II, belum lagi ketika di kelas dia merasakan tidak nyaman dengan kursi yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Rutinitas seperti itu ia terima begitu saja dengan menyadari bahwa akses untuk penyandang disabilitas di kampus memang belum ada.

“Tidak ada orang yang ingin lahir dengan kondisi yang berbeda, tapi apapun keadaannya memang harus diterima dengan lapang dada,” tukas Citra

Selain problem berupa fisik, Citra pun merasakan problem dalam psikisnya. Maksudnya, ia seringkali merasa minder dengan lingkungannya. Kondisinya yang berbeda dengan orang lain menumbuhkan rasa kecil hati dalam dirinya. Ia pun berharap ada seminar-seminar khusus mahasiswa difabel. Alasannya hal itu merupakan salah satu cara untuk memotivasi orang-orang berkebutuhan khusus.

“Orang-orang seperti saya membutuhkan banyak dukungan, tidak hanya secara fisik pun juga secara mental,” katanya

Selaras dengan Citra, mahasiswa penyandang difabel law vision (kemampuan mata melihat hanya sebagian) bernama Satrio merasakan hal yang hampir sama pula. Dengan pengelihatannya yang terbatas, ia mengalami banyak kendala saat berada di kampus. Struktur jalan kampus yang tidak rata alias berlubang membuatnya harus ekstra hati-hati kala berjalan.

“Jalan-jalan yang berlubang perlu segera ditambal dan parkiran yang semrawut dibereskan. Saya susah ketika berjalan,” keluh Satrio dalam wawancara yang dimuat koran AMANAT edisi 129 (8/12/17).

Lanjutnya, ia juga menyayangkan pihak kampus yang belum memberikan perlakuan khusus bagi mahasiswa difabel. Hal ini dirasa sangat perlu mengingat dirinya yang berstatus mahasiswa selalu mendapat kendala dalam memenuhi kewajibannya sebagai mahasiswa. Seperti pengisian KRS, ia membutuhkan orang lain untuk membantunya. Selain itu, ia juga pernah mengalami kesulitan tes bahasa sehingga menyewa pendamping dengan biaya sendiri.

Mahasiswa dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi tersebut berharap kampus mampu memberikan pelayanan khusus bagi penyandang disabilitas sebagaimana yang telah diberlakukan UIN Sunan Kalijaga.

Landasan Persamaan Hak atas Penyandang Disabilitas

Berpijakan pada amanat undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas pasal 10 poin a menyatakan, penyandang disabilitas berhak mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus. Dalam poin terakhir juga disebutkan bahwa penyandang disabilitas berhak mendapat akomodasi yang layak sebagai peserta didik.

Undang-undang tersebut berimplikasi pada penyediaan akses di sekolah ataupun kampus baik fisik maupun non-fisik terhadap penyandang disabilitas. Tujuannya untuk mendapatkan hak pendidikan yang layak dengan dasar persamaan hak memperoleh pendidikan.

Mengutip dari jurnal Justisia yang berjudul “Islam dan Disabilitas” edisi 45 th. xxx 2015, Pendidikan yang dikehendaki untuk memenuhi hak penyandang disabilitas disebut Pendidikan inklusi. Masykur Rozi salah satu penulis dalam jurnal tersebut menjelaskan, inklusi memiliki arti bagaimana lembaga pendidikan tampak sejajar dan layak untuk semua murid. Dengan begitu yang dimaksud pendidikan inklusi ialah suatu penyediaan akses yang memadai untuk murid atau mahasiswa disabilitas maupun penyandang disabilitas. Ia juga menjelaskan model pendidikan ini adalah upaya untuk mengimplementasikan persamaan hak pendidikan bagi kedua kutub yang berlawanan. Dimana penyandang disabilitas yang cenderung dipandang sebagai kelas kedua tidak terpisahkan dari “non-difabel”.

setidaknya ada empat karakteristik Pendidikan inklusi diantaranya : 1) Persamaan hasil/persamaan didalam perbedaan, 2) Heterogen, 3) Menggunakan lebih dari satu pengajar, 4) Menyadari persamaan perbedaan ini dengan: a) secara keseluruhan memiliki kemampuan yang sama walaupun melalui metode yang berbeda, b) pembagian kelas secara inklusif dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Model Pendidikan inklusi telah diterapakan di kampus-kampus, salah satunya adalah UIN Sunan Kalijaga. Berdasarkan risetnya UIN Sunan Kalijaga sedang berusaha mewujudkan kampus yang accessible terhadap mahasiswa penyandang disabilitas lewat Pusat Layanan Difabel (PLD).

Penulis juga menyatakan, keberadaan lembaga ini merupakan sebuah oase di tanah gersang di tengah persaingan dalam dunia Pendidikan yang tidak dapat dijangka oleh penyandang disabilitas. Berdasarkan hasil risetnya dalam jurnal tersebut, Rozi, sapaan akrabnya mengungkapkan, filosofi dari PLD adalah memberikan persamaan hak antara difabel dan non-difabel dalam mendapatkan akses Pendidikan. Selayaknya mahasiswa yang normal, mahasiswa difabel tidak boleh dipandang sebelah mata. Semangat tersebut menjadikan PLD sebagai penyedia akses baik didalam attitude maupun fisik untuk mengakomodasi seluruh mahasiswa tanpa memandang perbedaan.

Selain berpijak dalam wacana dan undang-undang, dalam Islam sendiri sangat mengutamakan keadilan yang diberikan Tuhan dinisbatkan kepada sesama manusia. Dalam hal ini bermaksud mencari persamaan dalam perbedaan, kelebihan di atas kekurangan, dan kekuatan di atas kelemahan. Jika itu manusia dimana pun dan kapan pun maka diperlakukan sama atas kebutuhannya.

Tuhan menciptakan manusia dalam sebuah lingkaran besar yang memiliki bagian-bagian kecil menyusunnya yang berwarna-warni. Dalam hal ini manusia diciptakan dalam fisik dan rupa yang berbeda-beda. Seperti Firman Allah QS. Al-Hujrat ayat 13:

“artinya, hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa…… (QS. Al-Hujrat ayat 13).

Dalam kitab Mafatih al-Ghoib vol 19, Ar-Razi, menafsirkan ayat ini atas perbedaan ini bukan untuk saling membanggakan satu sama lain. Syuub dan qabail dalam lafad ini secara tekstual bermakna sebagai bangsa-bangsa dan suku-suku, namun secara garis besar menerangkan perbedaan manusia. Perbedaan yang tercipta. Termasuk perbedaan difabel dan non-difabel. Mengenal disini juga termasuk atas pemahaman kebutuhan yang harus terakomodasi dalam kehidupan mereka masing-masing

Dalam Islam melarang orang untuk berbuat diskrimansi atas perbedaan fisik baik dalam bentuk tindakan, ucapan, atau pun kebijakan. Secara eksplisit disini juga terdapat landasan persamaan hak dalam Islam. Wacana keislaman persamaan hak tidak lain terdapat Nash.

Seperti dalam kitab tafsir Ibnu Katsir (Lubabut Tafsir Min Ibnu Katsir), yang dikutip oleh Jaedin dalam jurnal yang sama, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Islam sangat mencela orang yang mengolok-ngolok, menghina, merendahkan, terhadap sesama karena keadaan yang lemah, atau pakaiannya yang jelek, dan penghasilannya sedikit. Selanjutnya, Allah juga melarang untuk mencela orang lain dalam bentuk apapun karena pada dasarnya hakikat tubuh manusia adalah sama. Sehingga apabila mencela orang lain sama dengan mencela dirinya sendiri., sebagaimana menggunjingkan aib orang.

Penjelasan diatas merupakan penafsiran dari Qs. Al-Hujurat 11-12. Adapun bunyinya : (11) “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman. Dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim,”.

(12) “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang”.

Bertolak belakang dengan penjelasan dalam Al-Quran, masyarakat lebih dominan untuk berasumsi bahwa difabel merupakan produk gagal dari Tuhan. Hal tersebut disebabkan masih bercampurnya agama dengan mistis lokal dan budaya lokal. Ini sejalan dengan pemaparan Selamet Thohari dalam desertasi yang dikutip oleh penulis dalam jurnal yang sama. Selamet menyampaikan, masyarakat Jawa yang notabennya 80% Islam hampir mirip dengan masyarakat muslim Timur Tengah dalam beragama. (red: Jaedin / ed: Muft)