Seorang mahasiswa sedang menunggu palang parkir otomatis terbuka. Palang parkir otomatis (barier gate), yang terpasang di gerbang masuk Kampus 1, Kamis (15/3). Foto: afif.doc

Justisia.com – “Gak usah tanya (dana) ke bawahan saya, mereka sudah saya suruh tutup mulut, pada intinya ini tidak menggunakan uang mahasiswa,” kata Wakil Rektor II Bagian Keuangan dan Administrasi, Imam Taufik saat di temui reporter justisia.com di kantornya, Jumat (16/3).

Pengadaan kartu barier gate (palang parkir otomatis) membuat banyak mahasiswa resah. Simpang siur pembayaran parkir menjadi persoalannya.

Dibeberapa tempat tertempel edaran dari kampus mengenai biaya parkir yang akan di berlakukan. Untuk roda empat dikenakan tarif tiga ribu rupiah, dan roda dua seribu rupiah.

“Bagi mahasiswa yang tak punya uang dilarang masuk kampus, kampus elegant, kampus berbayar,” ujar Wawan, salah satu mahasiswa asal Jepara kepada justisia.com.

Kepala Sub Bidang (KASUBAG) Rumah Tangga, Mahin Aryanto menyatakan bahwa untuk saat ini barier gate memang tidak berbayar tapi entah suatu saat nanti dikenakan tarif atau tidak. “Untuk saat ini memang tidak bayar, gratis. Tapi tidak tahu suatu saat nanti,” jelasnya saat di temui di kantornya, Kamis (15/3).

Dia menambahkan, pengadaan alat barier gate ini menghabiskan dana sekitar dua ratus juta. Namun tidak diambil dari UKT mahasiswa melainkan dari dana BLU UIN Walisongo.

“Dana yang dikeluarkan memang banyak, kisaran 200 juta lah kurang lebih. Tapi tak apa asal keamanan dan kenyamanan di kampus terjaga,” imbuhnya.

Saat di konfirmasi Wakil Rektor II, Imam Taufiq, menegaskan bahwa tidak di berlakukan pembayaran bagi keluraga UIN Walisongo untuk non kampus dikenakan tarif sesuai edaran.

“Pengadaan barier gate tidak mengambil dana mahasiswa sedikitpun, melainkan adanya kerjasama (kampus) dengan Bank BRI Syariah untuk pengadaan kartunya,” imbuh pengasuh PonPes Dafa Be-Songo tersebut.

Sehingga mahasiswa tidak perlu khawatir soal pembiayaan dan tarif parkir.

“Mahasiswa tidak perlu khawatir, tidak dikenakan biaya sepeserpun dari mahasiswa. Nanti tinggal menggunakan kartu parkir yang beberapa hari mendatang akan dibagikan,”pungkas pria asal Jombang itu. pada Jumat (16/3)

Imam Taufiq beralasan bahwa pengadaan barrier gate dikarenakan faktor keamanan. Selain adanya teguran dari pihak Badan Pengelolaan Keuangan (BPK) PTKIN menjadi sebab diadakannya sistem tersebut.

“Diadakannya barier gate ini selain didesak oleh faktor keamanan, yang pada akhir-akhir ini marak terjadi pencurian, juga karena untuk menjaga kewibawaan UIN atau Marwahnya UIN. Karena UIN sendiri sudah mendapat peringatan dari BPK sejak 2016 silam untuk mengadak sistem parkir berbayar, namun kita kan masih berfikir matang untuk hal tersebut,” jelasnya.

Senada dengan Wakil Rektor II, Ketua Biro AUPK, Priyono menyatakan pembiyayaan barrier gate tidak menggunakan UKT, melainkan dana operasional.

“Tiak ada sangkut paut uang mahasiswa (UKT) deangan ini, uang mahasiswa untuk PPL, KKL, KKN, saja sudah cukup. Ini berasal dari dana operasional UIN sendiri, RM (rupiah murni) ataupun BLU (Badan Layanan Umum),” ungkapnya saat ditemui justisia.com di kantornya, Kamis (22/3).

“Untuk pengelolaan keungan UIN itu mempunyai dua sumber, yang pertama RM atau Rupiah Murni dari pemerintah sedangkan yang kedua adalah BLU,” timpalnya kembali.

BLU sendiri merupakan wewenang kampus untuk mencari dana pembiyaan sendiri, selain dana dari pemerintah.

“Jadi, semisal kampus itu mendapatkan dana 100 juta, umpamanya. Maka pemerintah tidak akan memberikan dana utuh 100 juta karena UIN sudah mempunyai BLU. Pemerintah akan memberikan dana di akhir tahun sesuai dengan perbandinagn BLU yang di dapat. Semisal dapat pada tahun ini dapat 35 juta BLUnya, maka di akhir tahun pemerintah memberikan 65 juta. Maka dari itu sistem parkir berbayar ini uangnya nggak akan lari keman-mana melainkan untuk menutup kekurangan tersebut,” ungkapnya seraya menejelaskan.

DEMA UIN Walisongo, Syarifudin Fahmi, tidak merasa keberatan terkait adanya barier gate tersebut selama gratis untuk mahasiswa. “Barier gate gratis. Jadi, oke-oke saja. Kalo memang parkir bayar 1000 dema siap aksi,” terang Fahmi, saat diwawancarai via whatsaap (24/3)

PENGADAAN KARTU

Batas uji coba sesuai surat edaran sampai tanggal 26 Maret mendatang. Namun, hingga kini seluruh mahasiswa belum menerima kartu parkir seperti yang telah dijanjikan.”Kalau belum ada kartu mahasiswa tinggal menunjukan KTM kan juga bisa,” tutur Priyono, menanggapi hal tersebut.

Kepala Unit Layanan dan Pengadaan (ULP), Munir, mengatakan bahwa saat ini kartu sedang dalam proses percetakan. “Saat ini kartu yang sudah diedarkan adalah untuk 2017, sedangkan untuk mahasiswa sebelum angkatan 2017 diharap sabar dulu,” jelasnya, Kamis (22/3), dari mahasiswa angkatan 2014 semuanya akan mendapatkannya.

Sayangnnya mahasiswa angkatan 2017 belum mengetahui bahwa KTM yang mereka miliki berfungsi juga sebgaai kartu parkir. Mereka mengira hanya sebagai ATM saja.

“Belum tahu. Bukannya itu bersamaan dengan ATM ya? Bukannya KTM dibuat jauh sebelum sistem barier gate ini diberlakukan ya? Tapi kok tidak ada barecodenya,” Jelas Mahasiswi Prodi Hukum Ekonomi Syariah, Semester II, Nisfi.

“Terkait hal tersebut, bagian kemahasiswaan yang bisa menjawab karena tugas saya hanya menyediakan terkait sosialisasi beliau-beliau yang lebih paham,” jawab Munir, soal ketidak tahuan mahasiswa 2017.

Satpam akan di tambah

Satuan Pengamanan (Satpam) yang sudah ada, setelah pemasangan barrier gate masih tetap ada. Jumlah mereka tidak aakan dikurangi apalagi ditambah. “Tidak, kami tidak akan mengurangi jumlah satpam, akan tambah repot nanti kalo jumlahnya kita kurangi,” unkap WR II, Imam Taufiq.

Menurut Imam, nantinya tugas satpam tidak hanya menata parkir ataupun mengawasi jalannya sistem barier gate melainkan menjaga keamanan di malam haripun adalah tugas satpam

Dia menambahkan dana yang dikeluarkan untuk pembiayaan satpam juga tidak akan berkurang ataupun bertambah. Karena ini sudah menjadi kerjasama dengan pihak luar yang memagangkan satpamnya di kampus UIN Walisongo.

Berbeda dengan Imam Taufiq, Ketua Biro AUPK, Priyono, menmbahkan, jumlah satpam justru akan ditambah 3 staff lagi untuk mengoprasikan sistem barier gate. “Kemungkinan kita nanti akan menambahkan 3 staff lagi untuk pengoperasian,” Pungkas Priyono.

Menurut penuturan beberapa pihak untuk saat ini mahasiswa tidaka akan di kenakan tarif parkir. Namun kedepan tidak di pungkiri kampus akan memberlakukan tarif parkir kepada siapapun yang memasuki kampus. Mengingat posisi kampus sebagai BLU, setiap saat membutuhkan tambahan biaya untun dana operasional. Seperti demikian yang menjadi pembicaraan mahasiswa pserihal barrier gate. (rep: Dera, Faiz, Robit/ ed: Muft)