Mantan Ketua KPK, Abraham Samad di dampingi moderator acara, Abdullah Ibnu Tholkhak, dalam seminar Spirit Of Indonesia, di Audit II UIN Walisongo Semarang Kamis (29/3). foto: Fadli

Justisia.com – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 2011-2014, Abraham Samad menyampaikan persoalan korupsi yang masih terjadi. Hal itu di sampaikan dalam seminar motivasi Spirit of Indoonesia, di Auditorium II UIN Waisongo Semarang, Kamis (29/3).

Kesadaran terhadap problem korupsi harus ada dalam generasi muda. Karena ini adalah persoalan yang serius di hadapi bangsa.

“Sipirit of Indonesia itu kita ingin membangkitkan gairah anak-anak muda untuk bisa peduli dengan problem kebangsaan sekarang. Problem kebangsaan kita saat ini tidak main-main, ancaman korusi,” terang Samad, seusai memberikan materi.

Bahkan saking bahayanya korupsi lambat laun mampu menghilangkan peradaban suatu negara itu sendiri.

“Korupsi adalah ancaman yang bisa meluluh lantakan sebuah peradaban, apa artinya ? Dengan korupsi peradaban sebuah negara bisa hilang, sirna, negara bisa bubar kerena sebuah korupsi,” Imbuhnya saat di wawancarai.

Masih menurut mantan ketua KPK ini, ia mengistilahkan korusi sebagai kejahatan genosida. Dan diperlukan keberanian untuk menangkalnya.

“Oleh karena itu saya mau mengistilahkan korupsi adalah genosida peradaban. Ia meluluh lantakan sebuah peradaban dan akhirnya sebuah negara akan sirna dari muka bumi, kalau kita tidak punya keberanian untuk menangkalnya,” Tandasnya lagi.

Perlunya Gerakan Sosial Masyarakat

Dalam menghadapi korupsi, tidak bisa mengandalkan penegakan hukum saja. Namun, masyarakat juga harus membuat inisiatif gerakan untuk memberantasnya.

“Kita tidak bisa mengandalkan pemberantasan korupsi hanya dengan cara pendekatan penegakan hukum saja,” Jelas pria asal Makassar ini.

Ia mencontohkan salah satu upaya yang dapat di lakukan oleh masyarakat, dengan melakukan gerakan sosial dan gerakan semesta.

“Apa yang harus kita lakukan, saya mengajak seluruh generasi muda untuk melakukan gerakan sosial dan gerakan semesta pemberantasan korupsi,”

“Apa itu gerakan sosial dan semesta ? Masyarakat harus didorong secara bersama-sama di induksi agar mereka tidak permisif (red: membolehkan, mengizinkan) dengan perilaku korupsi. Ketika mereka permisif maka korupsi akan semakin menjadi-jadi,” Tegasnya seraya berjalan keluar ruangan.

Indek korupsi yang masih stagnan, menunjukan perilaku permisif masih ada. Dan menjadi hal yang wajar di tengah masyarakat.

“Kalau kita melihat indeks korupsi sampai saat ini masih stagnan. Menunjukan masyarakat kita permisif. Karena salah satu inikator untuk mengukur adalah pada sektor pelayanan publik, namun masyarakat kita masih permisif, masih melakukan suap menyuap untuk mengurus sesuatu karena mereka menganggap itu sesuatu yang biasa dan lumrah,” tegas Samad lagi.

Waspadai Korupsi Kampus

Dunia akademik kampus/universitas juga tidak lepas dari praktik korupsi. Maka dari itu perlu dorongan kesadaran Bersama untuk menghilangkannya.

“Dunia pendidikan harus di gerakan di endors agar jauh dari perilaku-perilaku korupsi,” Imbuh bapak dua anak ini.

Ada tiga sistem yang bisa di berlakukan di kampus untuk pencegahan korupsi.

“Apa yang harus dikaukan ? Mereka harus ada unitnya, namanya pengendalian konflik kepentingan, whistle blowing system, dan unit pengendalian gratifikasi. Kalau tiga unit ada di kampus atau birokrasi lainnya di bangun secara utuh maka kemungkinan perilaku korusi akan terhidar,” jelasnya, tentang konsep penanganan korupsi di dalam lembaga.

Menurut Samad Penerapan Pendidikan anti korupsi juga harus di mulai dari dasar, secara berjenjang.

“Road map pendidikan anti korupsi tidak hanya dari perguarua tinggi saja, itu sudah terlambat. Harusnya dari bawah dan berjenjang. Mahasiswa harus di dorong supaya lebih peduli (korupsi),” Pungkasnya lulusan Universitas Hasanudin Makassar ini.

Dalam acara yang di selenggarakan oleh Kami Indonesia, selain Abrahan samad beberapa narasumber juga hadir mengisi acara. Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan, dan Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah juga menyampaikan materinya. (red; Muft)