Pelintiran Kebencian, dan Fenomena Masyarakat yang Memakluminya

0
258
sumber ilustrasi: http://www.pikiran-rakyat.com

Oleh: M Addib Mufti

Ramainya jagad media merupakan kesempatan yang subur untuk di manfaatkan oleh banyak kepentingan kelompok dan golongan. Hal ini tidak lepas dari moderntitas yang terus berkembang, dan menuntut seluruh manusia terseret di dalamnya. Selain hal itu, konsekuensi sistem demokrasi yang di anut di berbagai negara termasuk Indonesia menjadi pelengkap kebebasan dalam kehidupan, bernegara dan berdemokrasi.

Kehidupan yang semakin sehat, sebagai indikator demokratis dengan keterbukaan akses media. Masyarakat ditengah kondisi teknologi yanng semakin maju akan turut ambil bagian, bahkan teknologi modern mengambil masyarakat sebagai peran utama mereka dalam menjadikan sumber keuntungan bagi media yang mereka jalankan.

Perkembangan modernnitas di Indonesia sedikit banyak terbebani faktor-faktor keagamaan, hal ini tidak lepas dari Indonesia yang tidak menganut sistem negara sekuler, artinya nilai-nilai keagamaan akan selalu hadir dalam setiap wujud kehidupan masyarakat.

Modernitas yang lahir dari dunia secara umum secara independen muncul dari perkembangan ilmu pengetahuan, namun sedikit kesulitan dalam menyesuaikan apa itu perkembangan nilai-nilai agama yang ada. Artinya, semestinya modernitas yang ada harus mempu memberikan pandangan dan menjelaskan banyak hal baru untuk kesesuaiannya dalam pola nilai keagamaan yang telah berkembang dalam masyarakat.

Modernitas bisa menentang atau mendefinisikan ulang beberapa aspek praptik-praktik keagamaan, juga mereka yang memiliki wewenang di dalam komunitas keagamaan dan sebalknya. Sekalipun demikian modernitas dan agama tidak saling meniadakan satu sama lain sebagaimana anggapan banyak orang selama ini. (Ariel Heryanto 2015:48).

Menurut Asef Bayat, Modernisasi dan keagamaan pada akhirnya terus berkaitan, dengan berbagai perbedaan di setiap waktunya. Saat abad ke 19 para ilmuan sosial hanya membeda-bedakan antara yang religius dan non-religius, namun setelah modernisasi masuk sekian lama, mereka berubah menjadi membedakan antara yang religius dan yang lebih religius.

Hegemoni, Agama, dan Keuntungan

Ternyata agama dan kapitalisme bukan hanya dapat hidup berdampingan dan memiliki keterkaitan, keduanya bahkan dalam beberapa kasus bisa bersekutu hingga mampu mendukung kegiatan-kegiatan kolektif yang berjangka panjang (Rudnykyj 2009), (Ariel Heryanto 2015:48).

Rekayasa media untuk sebuah keuntungan merupakan hal yang wajar, karena media lahir ditengah berkembangnya ilmu pengetahuan yang sengaja dilahirkan untuk kepentingan ekonomi atau keuntungan. Namun, ilmu pengetahuan yang melahirkan media akan tidak dibenarkan ketika dalam melakuan roda perekonomiannya memanfaatkan agama sebagai ladang mereka untuk mendapatkan keuntungan, suatu hal yang di luar etis agama, membenturkan kesucian agama dengan perkara duniawi.

Kini banyak dijumpai media yang menjadi senjata utama oleh kelompok-kelompok untuk menebarkan kepentingan buruk, menjatuhkan seseorang maupun kelompok. Semestinya mereka harus mampu melihat bahwa pengguna media merupakan masyarakat luas se-antero belahan bumi dengan banyak keberagaman dan perbedaan. Sehingga sudah seharusnya para penguna media ini mampu menilai hal yang pantas untuk di sampaikan melalui media.

Membawa persoalan agama dalam media boleh-boleh saja, asalkan tetap proporsional dan tidak merugikan orang lain, bahkan menjatuhkan. Namun sebaliknya, ketika membawa persoalan agama dalam media dengan hal yang negatif akan menimbulkan persoalan yang dapat berbuntut panjang, selain merugikan bagi diri sendiri, akan membawa citra buruk untuk agama yang bersangkutan. Hal ini yang sering dibawakan oleh kelompok-kelompok yang sering malakukan diskriminasi, intoleransi, dan kekerasan ekstrimis dengan memanfaatkan media sosial yang ada.

Indonesa tercatat sebagai negara dengan pengguna media yang tinggi, hal ini tidak lepas dari media memang turut dalam mengentaskan masyarakat Indonesia dari buta huruf, namun angka melek huruf yang sudah cukup baik ini belum mengarah untuk hal yang positif, seperti membaca buku untuk mengembangkan wawasan, namun lebih tertarik kepada media yang memberikan informasi, dan minim koreksi di antara yang benar dan salah.

Indonesia secara resmi memiliki tingkat melek huruf yang tinggi (di atas 90 persen). Namun di luar data statistik itu angka resmi mengacu pada kemampuan untuk mengenali ketimbang kecenderungan sebagian besar penduduk untuk menggunakan secara maksimal huruf-huruf dan angka-angka. Dalam bab ini penggambaran Indonesia sebagai masyarakat berkiblat komuniskasi lisan menyiratkan rendahnya melek hurf fungsional, yang berbeda dengan melek huruf nominal yang di ukur statistik, prioritas tinggi terhadap mode komunkasi yang cair sesaat dan kolektif (ciri menandai komunikasi lisan) ketimbang tindakan diam dan ststia individu dalam menulis dan membaca rangkaian teks yang seragam, (Cherian George 2017: 218).

Fenomena kebencian yang banyak dilakukan oleh kelompok ekstrimis radikalis terlihat begitu subur, semua mendominasi karena sedikitnya counter balik berupa respon masyarakat yang muncul di media, sehingga keadaan tidak berimbang. Masifnya penyebaran kebencian ini hingga seakan menjadi suatu hal yang benar bagi masyarakat yang acuh terhadap kritis media sosial maupun masa.

Semestinya, masyarakat sebagai insan media mampu memberikan counter terhadap segala kebencian melalui media, namun masyarakat kita cenderung diam, hanya menjadi pembaca dan pengamat saja, tanpa juga memberikan ide dan gagasan mereka melalui media untuk melawan dengan meluruskan hal-hal keliru yang sudah banyak bertebaran.

Bagaimana masyarakat merespon pelintiran kebencian tidak hanya bergantung kepada hukum namun juga norma sosial, khususnya apakah orang menganggap kebencian fanatisme dapat di maklumi atau mesti di lawan, (Cherian George 2017:212).

Segala bentuk intoleransi dari kalangan ektrim radikalis memang selalu dirancang melalui media, untuk di menjadi bahan konsusmsi publik. Semua dapat lahir dan berjalan tidak terlepas karena kerja setiap fungsi unsur media.

Peran media selain seluruh masyarakat terlibat jurnalis mempunya posisi strategis untuk mengembalikan media sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa. Namun, banyak ditemui peran jurnalis media cenderung bekerja dalam kepentingan, sehingga profesi yang seharusnya mampu untuk berbuat banyak dalam menghadapi penyalah gunaan media sering terhadang faktor kepentingan.

Jurnalis (media) juga memiliki peran pengungkapan atau pengawas. Mereka dapat mengungkap apa yang mesti diketahui publik tapi di tutup-tutupi kalangan elit yang berkepentingan. Jurnalisme pengawas (watchdog journalism) berperan mengungkap penipuan ganda pelintiran kebencian, yaitu: kebohongan propagandanya serta motif dan kepentingan tersembunyi di belakangnya, (Cherian George 2017:213).

Berbagai media yang ada, dalam menghadapi segala bentuk pelintiran kebencian berbeda-beda dalam bersikap, namun kita perlu mengingat teori deklarasi pers, bahwa tidak ada jenis media yang dapat melayani semua kebutuhan komunikasi yang sangat majemuk dalam demokrasi.

Terakhir, C Edwin Bakrem berpendapat bahwa sistem media harus di nilai berdasarkan keberagaman sekaligus kualitas bagian-bagiannya. Dengan harapan media mampu hadir ditengah warna keberagaman yang ada, dengan mempertimbangkan nilai-nilai keagamaan yang telah banyak diserap dalam berbagai aspek kehidupan seperti di Indonesia.