Goncangan Para Tuhan Digital

0
308
foto: Inungk.doc

Judul : Dunia Yang Berlari

Penulis : Yasraf Amir Piliang

Penerbit :PT Grasindo

Tebal :372 halaman

Resentator : Hasan Ainul Yaqin

Pesatnya ilmu pengetahuan seiring lajunya tekhnologi yang begitu canggih cepat dan liar berkembang di abad sekarang, memberikan banyak harapan mengais berkah dari keberadaan tekhnologi yang tidak bisa diabaikan begitu saja, selain keberkahan yang ditawarkan, namun ada petaka yang begitu memilukan menyeret manusia dari kubangan identitasnya sebagai makhluq sosial, makhluq bermoral, dan makhluq pemilik akal sehat yang berbeda dengan makhluq lainnya. Hal ini dikarenakan manusia mengalami kegagalan atas dunianya sediri yang disebabkan kematian nalar akal sehatnya, sehingga dunia yang dinamis tidak diimbangi dengan pola pikir yang jernih dan etika yang santun menyejukkan akan mengalami kehancuran. Agama yang dijadikan patokan sekalugus refleksi penganutnya seakan lapuk termakan oleh bimbingan tuhan cyberpace, kapitalisme, dan post modernisme yang ketiganya merupakan fokus kajian dalam buku karya Yasraf Amir Piliang tersebut.

Indonesia sebagai negara yang mayoritasnya pemeluknya makhluk agama, perkembangan cyeberpace dapat digunakan sebagai sarana efektif dalam penyebaran agama dalam masyarakat secara luas dengan menawarkan kemudahan untuk berintraksi menyampaikan petuah pada jamaahnya. Kehadiran cyeberpace pula tidak perlu repot repot memberi siraman rohani bertandang dari tempat ibadah satu ke tempat lain, semua hanya tinggal menulis dilayar kaca akan tersebar menyusuri layar kaca yang ada digenggaman jamaahnya asal mereka tidak puasa dari tekhnologi.

Dari perkembangan ini pula penyampaian ajaran bukan dari mereka yang ditokohkan sebagai kaum agamawan, melainkan semua kalangan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi agamawan, maka tak heran jika siraman keagamaan kadangkala kehilangan relevansinya yang salah satu penyebabnya disampaikan bukan oleh ahlinya. Tentu ini merupakan sikap perubahan yang disebabkan kedinamisan dunia itu sendiri yang ditandai akan kehadiran cyeberpace seperti sekarang dengan mengatasnamakan semua orang punya kesempatan dan kebebasan.

Meskupun demikian, menurut penulis buku ini, ada berbagai aspek mengkhawatirkan bahkan menakutkan dari cyeberpace yang dapat merusak tatanan spritualitas dan keagamaan itu sendiri. Menurut penulis kelahiran Sumatra Barat tersebut dalam mengantisipasi mara bahaya yang akan ditanggung diperlukan sikap analitis dan kritis (hal 5). Sepertinya melihat realita yang ada saat ini, solusi yang diberikan oleh Yasraf hanya diterima oleh kalangan khusus, sedangkan terabaikan bagi masyarakat awam yang memang susah untuk bersikap analitis maupun kritis, mengingat suguhan tekhnologi sudah dimiliki tidak mengenal kelas tertentu. Selain Yasraf, ada pendukung cyeberpace bernama Barlow, ia mengatakan bahwa tekhnologi merupakan keniscayaan yang tidak bisa dihindari, dari pada tergilas oleh keniscayaan cyberpace lebih baik dinikmati saja.

Demi menguasai ruang publik, katakanlah demi tujuan politis, cyeberpace mampu dihandalkan menjadi senjata ampuh untuk mendominasi massa melalui kehebatan tekhnoogi oleh pemilik kepentingan bergerak secara totalitas tanpa melihat benar salahnya, merugikan orang lain atau tidak. Sehingga upaya berekpresi tanpa batas melalui cyeberpace sering kali menjerumuskan peraturan yang dilanggar, aspek moralpun tidak direspon alias dihiraukan, sehingga yang ada bukan tatanan demokratis yang dibangun berdasar aturan main yang dibuat secara konsesnsus, melainkan sebaliknya adalah anti demokrasi. (hal 48).

Dari kebebasan secara total itulah maka penyebaran berita palsu /hoax yang begitu gencar terjadi di negara berkembang akhir ini,(Indonesia) demi memenuhi kepentingan tertentu sangat terbuka lebar tersebar merembet ke segala lini. Disinilah letak negatif cyberpace yang menghancurkan tatanan sosial masyarakat. Inilah yang terjadi kedistorsian dari fungsi utamanya yang Leary menyebutnya diciptakan cyeberpace adalah manusia yang berfikir untuk dirinya sendiri, yaitu manusia yang cerdas yang mempunyai akses luas pada informasi yang memiliki kecakapan komonikasi dan tidak tergantung pada otoritas apapun. (hal 49). Tapi yang ada malah sebaliknya jika tidak disikapi secara bijaksana dan kritis.

Cyeberpace banyak mempengaruhi kehidupan manusia, mulai dari aspek politis dalam rangka memenuhi kepentingannya, aspek ekonomi sebagai sarana mengejar keuntungan dengan cara memanfaatkan tekhnogi yang mudah pengaplikasiannya, lebih parah lagi yang tak perlu disembunyikan bahwa cyberpace berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. setidaknya ada 3 tingkat pengaruh tersebut, yaitu, tingkat individual (personal), antar individu (inter personal), tingkat masyarakat (sosial). (hal 65)

Pada tingkatan pertama, cyeberpace telah mengalami perubahan makna atas apa yang disebut identitas, didalamnya seseorang bisa menjadi orang lain, bahkan dapat menjadi lebih banyak orang dalam satu dimensi waktu dan tempat, sehingga penilaian tentang identitas dirinya dari orang lain mengalami kekaburan pandangan. Selain itu, pada tingkat individu, cyeberpace dapat menciptakan kecanduan komonikasi.

Internet sebagai media perselancaran pengguna media sosial menghipnotis pemiliknya duduk terlarut berjam jam seakan tak mengenal lelah, tak mengenal batas waktu untuk terus bertatap muka dengan genggaman handphone ditangan dalam berkomonikasi, semua hanyut berkelindan didunia maya tanpa lelah, batas, dan tak menimbang seberapa manfaat yang dibutuhkan.

Kedua, tingkatan antar individu, hubungan sosial antar person yang dipupuk oleh semrotan cyberpace telah menciptakan deteritorialisasi sosial, artinya intraksi antar teman, sahabat, dan orang sekitar tidak lagi didunia nyata, tetapi didalam sebuah halunisasi teritorial. diwilayah ini seseorang lebih akrab berkomonikasi dan lebih mengenal identitas temanya yang jaraknya jauh ketimbang teman disebelahnya. Pepatah bilang seakan menjauhkan yang dekat, mendektakkan yang jauh.

Terakhir, pada tingkat komonitas, dorongan cyeberpace telah menciptakan apa yang namanya komonitas virtual. Komonitas ini berbeda dengan komonitas tradisonal menurut istilah Emel Durkheim yang didalamnya saling gotong royong dan bahu membahu satu sama lain secara langsung. Yang namanya sebuah komonitas agar tidak ada yang dirugikan dintara yang lain, maka dibutuhkanlah sang leader untuk menyusun norma sosial bersama masyarakatnya, namun pada komonitas virtual pemimpin tidak ditemukan, semua ingin menjadi pemimpin atas kekuasanya sendiri. Hingga akhirnya yang berkembang adalah demokrasi radikal. Ide, gagasan, usulan, keinginan, dan segala tindakan sosial yang datang dari komonitas seakan lenyap tidak ada yang mengatur dan mengontrolnya hingga mensulap dirinya menjadi makhluq anarki yang bergerak bebas tanpa batas.

Mengingat indonesia yang berideologikan pancasila, dijelaskan dalam sila kedua, bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab. Menuju manusia beradab pada masyarakat post modernisme seakan sulit mengukur mana batasan baik yang harus dilalui, mana batasan buruk yang perlu dibaikan. Sebab semuanya bercampur berpadu jadi satu, tidak ada kepastian yang jelas. Inilah gambaran dari wacana post modernisme, dimana batas antara baik dan buruk diambangkan, batas antara benar dan salah direlatifkan, moral dan amoral dijungkir balikkan. (144) keberadaban moralitas dari post modernisme adalah ketidakpastian moralitas itu sendiri. Kita tidak bisa lagi memprediksi orang berpenampilan agamis lantas berbudi perangainya, orang bergumam dimedia sosial dengan gaya bahasa yang bijaksana bukan lantas menjadi identitasnya. Itulah yang peresensi sebutkan diatas, moralitas terpuing puing di era post modernisme yang telah didekontruksi dan dibongkar menjadi dunia ketelanjangan.

Setelah ada wacana post modernisme, tentu masyarakat yang berhimpun dinamakan masyarakat post modernisme, artinya masyarakat yang didalmnya hasrat dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu dikekang, bahkan sebaliknya harus di umbar, (hal 203). Dalam wacana ini, perjalanan hidup manusia telah kehilangan subtansinya, kehampaan makna, ketercerabutan identitasnya, yang ada hanya sebatas simbol dan penuh tanda yang pada hakikatnya tidak memberikan arti apa apa. Dari sini pula, timbul budaya membeli bagi masyarakat konsumsi memuncak hingga titik klimaks yang sulit dikendalikan, membeli bukan lagi sekedar memenuhi kebutuhan hidup, melainkan keinginan nafsu birahi sekedar meluapkan gaya hidup semata.

Pengumbaran gaya hidup sudah tidak lagi dikuasai bagi mereka yang memiliki stratifikasi sosial kelas menengah keatas, seperti artis papan atas, pemain film bergaji jutaan hingga miliaran rupiah, pejabat negara, ustadz ustadzah yang selalu berpenampilan menarik dilayar kaca, akan tetapi semuanya golongan termasuk mahasiswa yang uang sakunya masih bergantung pada orang lain(orang tua) berlomba lomba mengumbar keterpesonaan agar manarik dipandang, agar terlihat kaya dengan pakaian mewah yang menghias tubuhnya, dan handphone selalu bergonti ganti dengan spek terbaru menuruti umpan yang dipancing kaum kapitalisme masa kini dengan rayuan ekonomisnya.

Mesin ekonomi postmodernisme dinamakan mesin hasrat, karena disamping memproduksi barang- barang, ia sekaligus memproduksi hasrat.(hal 263) pihak konsumer dikondisikan untuk menginginkan sesuatu yang secara esensial tidak dibutuhkan. Pergantian dari produk satu ke produk lain merupakan realita bekerjanya mesin hasrat yang tersembunyi yang dilandasi oleh prinsip rasa kurang yang abadi, yang akhirnya kita selalu merasa kurang puas atas apa yang kita miliki saat ini. Semitsal kita saat ini memiliki handphone bertipe samsung J5, berselang kemudian produsen mengelola samsung yang spesifikasinya sedikit lebih unggul diatasnya, katakanlah J7, tawaran itu merangsang pembeli sehingga ingin ganti handphone terbaru. inilah hasrat.

Lantas yang disolusikan dalam buku ini sepanjang pembaca amati untuk menjadi obat mujarrab mengendalikan tarik ulurnya hasrat yaitu dengan kesadaran diri bersikap kritis secara bijaksana dan menyadarkan orang lain untuk bersikap yang sama. baik yang ditawarkan penulis buku itu sendiri maupun pemikiran tokoh yang dikutip di beberapa halaman didalam buku ini. Ada Alvin Toffler yang menawarkan. Bahwa agama dan spritualitas mampu mengenadilikan moralitas masyarakat. tapi sayang manusia sudah tidak mau mendengar suara moral dan spritual para Dai yang dikalahkan oleh cengkraman kapitalisme global yang berputar tiada henti.

Dari karya ini, ada nilai berharga yang patut dipetik bagi siapa yang ingin membacanya, yaitu telah menyadarkan bahwa dunia yang dihuni oleh masyarakat dewasa ini, adalah dunia yang penuh kegilaan, kehampaan makna, kemiskinan subtansi, dihinggapi ketertipuan. Seandainya tidak disikapi dengan kebijaksanaan dan kekritisan, sesungguhnya bangsa ini tidak hanya mengalami keterjajahan fisik seperti masa kolonial, tetapi keterjajahan ideologi yang perlahan lahan mengidap direlung bangsa yang tidak mengerti sampai kapan ini berakhir. Meskipun menyadarkan akan tetapi kesadaran sering kali terbuai oleh gerak cepat lahapan tuhan tuhan bernama cyebrpace, post modernisme, dan kapitalisme.