Spiritualisasi Perjalanan Hidup Nyai Ratu Malang dan Kyai Kanjeng Mas Dalam Motherdance Oleh Mathori Brilyan

0
226
sumber ilustrasi: http://laoblogger.com

Janur kuning melengkung. Bukit kehidupan didepan mata, lika-liku jalan kehidupan akan terarungi bersama dengan belahan jiwa. Awan tipis menyelimuti bukit makam Nyi Ratu Malang bernama Antakapura, penonton dihadapkan dengan gerbang menuju perjalanan makam Nyi Ratu Malang dengan iringan kedua pengantin yang di perankan oleh Mathori Brilyan (kreator sekaligus Aktor utama dalam Motherdance) dan seorang perempuan sebagai partner nya beserta teman-teman sebagai pengiringnya, parapenonton digiring masuk kedalam latar pementasan dengan diiringi tembang singgah-singgah. Awal dari acara yang benar-benar memberikan pertanyaan yang membulat dalam benak para penonton.

Genap lima hari sejak tanggal 5-10 Januari Motherdance berlangsung. tugas akhir menyibukan Mathori Brilyan seorang mahasiswa ISI untuk merancang teater dengan sensasi yang berbeda. Tanggal 10 Rabu Januari adalah akhir dari pementasan Motherdance, tema yang diusung dari pengalaman empiris yang di rasa oleh kreator memilih ruang outdor yakni makam Istana Kematian sebagai latar tempat pementasan. Pengalaman empiris atas kehilangan seorang Ibu bagi mahasiswa teater yang kerap di sapa Brily ini menuntunya pada kisah Ratu Malang (seorang sinden) sebagai seorang perempuan yang rindu akan sang suaminya ki Panjang Mas (seorang dalang kerajaan Mataram pertama) untuk memilih jalan kematian.

Peristiwa terjadi tidak semata-mata hanya karya yang disajikan akan tetapi bagaimana pertemuan antara penonton dengan aku yang menggagas teks tersebut, penonton dengan tempat bersejarah tersebut, penonton dengan kisah sejarah tersebut. Seakan menjadi pemantik para penonton. Sebuah peristiwa teater bukan hanya sebuah karya yang di sajikan tetapi bagaimna pertemuan ketiga point diatas. Teater adalah seni peristiwa, dengan peristiwa tersebut penonton mengetahui apa yang ingin saya sampaikan alasan kreator memilih tempat outdor ternyata memiliki filosofi tersendiri, yang dapat tertanam dalam memori penonton akan karya yang ia suguhkan.

Acara yang digelar tepat di area pemakaman Nyi Ratu Malang di hadiri banyak penonton baik dari warga sekitar pemakaman, mahasiswa ISI, Dosen ISI, masyarakat umum dan mahasiswa dari berberapa perguruan. Secara garis besar, sang kreator memiih tiga tema yang menurutnya sangat sederhana dalam cerita perjalanan hidup Nyi Ratu Malang yakni Cinta, Kematian, dan Kerinduan. Meski agak melebar dari cerita sejarah dengan pengambilan pecahan-pecahan peristiwa namun tidak menghilangkan esensi dari cerita sejarah tersebut. Sedang garis besar dari cerita sejarah tersebut kreator menggabungkan kisah perjalanan cinta Nyi Ratu Malang dengan Ki Panjang Mas dan kematian Ki Panjang Mas yang memantik kerinduan Nyi Ratu Malang dengan keberakhiran kematian Nyi Ratu Malang. Meski banyak versi dari literatur sumber cerita, aku lebih memfokuskan pada sumber lisan, yakni pada juru kunci makam Nyi Ratu malang bernama Pak Jipto. Yang juga membantu saya dalam proses tugas ini. ungkap Brily.

Terselip lakon pewayangan dalam cerita Motherdance ini, sebagai dalang diperani oleh actor utama (Brily) atas refleksi cerita Ki Panjang Mas sebagai dalang semasa hidupnya dan seorang tokoh perempuan sebagai Nyi Ratu Malang yang menjadi sinden menemani Ki Panjang Mas dan beberapa pengikut Ki Panjang Mas yang diperankan teman-teman Brily dari teater ISI. Sedangkan lakon pewayangan yang dipilih yaitu jalur kematian prabu Saleo dan Setyowati. Refleksi dari cerita Prabu Saleo dan Setyo wati sendiri dengan Ki Panjang Mas dan Nyi Ratu Malang mempunyai titik berat yang sama yakni ditinggalnya sang suami kealam baka yang memantik kerinduan sang istri didunia untuk menyusul dengan cara kematian yang ia inginkan sendiri.

Dengan suasana hujan yang menyelimuti, serta bertepatan hampir magrib (surup) Acara di akhiri dengan sholat di sendang yang dikelilingi obor, tempatnya di bagian atas pemakaman. Pemilihan waktu tak terlepas dari ide-ide yang digagas sang kreator yakni saat pergantian waktu. saya sengaja memilih waktu sore karena adanya transisi terang ke gelap yangmana seseorang, menurut saya semua orang lah pasti memilliki memori-memori khusus yang pada saat itu akan muncul, juga kalau dalam istilah jawa dikatakan surup itu ada tradisi kalau anak-anak dilarang keluar rumah ketika waktu transisi itu yang diyakini sandikolo keluar dalam diwaktu itu. Sedangkan hubunganya dengan cerita yang dipilih agar menyatu dengan alur ceria dari terang yang diibaratkan kehidupan dan gelap ibarat kematian terang Brily. Imbuhnya meski ada dua atau tiga penonton yang merasa tidak nyaman dengan transisi waktu itu namun tidak menjadi penghalang lancarnya acara.

Mustika Wati, 14 Januari 2018