sumber ilustrasi: https://4.bp.blogspot.com

Oleh: Farikha Khoirun Nisa’

Munculnya filasafat tak pernah lepas dari peran Yunani Kuno. Apalagi munculnya filsafat modern ditengah-tengah masyarakat. Munculnya filsafat modern ini juga sebagai sikap kritik terhadap filsafat tradisional yang tidak sesuai dengan perkembangan pemikiran masyarakat pada saat itu.

Pada masa itulah kemudian dibagi menjadi tiga zaman, yaitu zaman pra-modern, modern, dan post-modern. Di ketiga zaman ini mempunyai perbedaan atau ciri khas tersendiri.

Pada zaman modern sendiri juga terdapat perbedaan antara modernista dan modernisme. Modernista adalah realitas sosial, ekonomi, politik dan budaya yang muncul karena sekulariasi di segala bidang.

Latar belakang terjadinya Zaman Modern sendiri yaitu adanya Renaisance, Hemanisme, Rasionalisme, dan Empirisme. Paham-paham inilah yang menjadi tolak ukur berkembangan filsafat modern pada masa itu

Pada masa Renaisance sendiri sering disebut dengan zaman Humanisme atau Autoposentris. Humanisme sendiri dibagi mejadi dua, yaitu humanism klasik dan humanisme renaisance. Masa ini juga lepas dari pembahasan agama atau tidak mau diatur oleh agama. Masa ini juga sring diartikan dengan masa lahirnya kembali suatu kejayaan. Ada juga yang mengatakan bahwa makna sebenarnya adalah kembalinya pemikiran mereka pada animal rational atau secara singkatnya, pemikiran meraka kembali pada filsafat masa Yunani Kuno. Ciri terakhir adalah adanya paham Empiris dan paham Rasionalisme.

Paham empirisme sendiri menyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Sedangkan paham Rasionalisme berdasarkan pada kepastian-kepastian yang bersifat a prio. Dengan demikian, kedua paham ini saling bertolak belakang dalam hal paradigma.

Rasionalisme adalah salah satu aliran filsafat utama yang meletakkan landasan konseptual epistemologi. Pandangan pada penganut rasionalisme denganproses nalar, yaitu melalui penalaran, pengetahuan dapat dicapai secara absah dan benar. Kemudian munculnya dilatar belakangi untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik).

Empirisme berpendirian bahwa sebenarnya seseorang hanya bisa memperoleh pengetahuan melalui pengalaman dengan mengunakan indra lahiriyah. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkret.

Pembahasan filsafat lainya juga menyinggung tentang solidaritas, bahwa solidaritas sendiri dibagi menjadi dua bagian, yaitu solidaritas mekanik dan juga solidaritas organik.

Solidaritas mekanik sendiri terjadi pada bagi orang-orang modern. Pada saat ini juga agama bukanlah hal yang penting. Sikap individualisme yang kuat terasa pada saat ini. Sedangkan solidaritas organik terjadi kepada orang-orang tradisonal atau orang-orang zaman kuno. Kuatnya tenggang rasa antar sesama menjadi pegangan kuat pada saat itu, sehingga banyaknya orang yang berkelompok dan saling bahu membahu.

nb: materi di atas adalah riview yang di sampaikan dalam kelas filsafat studies LPM Justisia