Perempuan yang Kehilangan

0
298
sumber iluatrasi: https://cdn.idntimes.com

Oleh; Alhilyatuz Zakiyah Fillaily

Angin berdesir keras, menyisakan nalar rindu yang mendadak kelu. Kening meruntun, sebab bertarung kemampuan untuk menatap. Keadaan ini yang jika dinilai adalah sebuah kejutan dari Tuhan. Biasanya kejutan selalu identik dengan kebahagiaan yang tak dibuat-buat, benar-benar bahagia sesuai harapan bahkan lebih dari yang diharapkan. Aku pun tiba-tiba merasa diriku tiada, aku hilang. Sesungguhnya tak ada aral melintang untuk lari, pengecut. Pelan-pelan ia menghampiri dengan senyum yang tak silau kemilau seperti dahulu. Aku pun mendengar suara separuh dari diriku.

“Han,” aku takluk pada bola mata itu.

Dia duduk di sampingku. Kami diam. Aku curiga. Dia begitu kuat. Aku merasa kehilangan dia yang sesungguhnya. Dia semakin cantik, sudah berapa lama ia pergi ke kota lipstik? Waktu tak dapat seluruhnya menanggalkan kenangan. Serpihan kaca yang telah pecah masih mungkin ditemukan, bahkan digunakan.

“Kalau aku tak menyapa, kau pasti memalingkan muka bukan. Daripada berputih tulang lebih baik berputih mata. Han, kau tahu peribahasa itu, ya, lebih baik mati daripada menanggung rasa malu.”

“Apa yang terjadi kepadamu?” timpalku, aku mati kutu.

“Wajahmu bagai bulan kesiangan, Han. Ah kau selalu seperti itu kurang tidur,” sambil tertawa seakan tak ada beban hidup.

Tiba-tiba banjir menggenangi ayu-nya. Sayang, hidup ini begitu keras. Kalau diingat-ingat pertemuan kami yang sangat jarang tetapi selalu membahagiakan. Andai seribu andai dapat ku lakukan, tangan kananku rasanya ingin sekali bergerak segera mendarat di rambutnya yang kadang luruh di bahuku kala itu.

Aku tidak sedang bersedih. Mataku sedang lelah, sering berair. Barangkali juga bertemu kawan lama sepertimu membuatku merasa terharu.

Suara yang lain bunyinya, sangat pahit. Rapi sekali permainan yang sedang dilakoninya, hebat. Ia tak memulai membicarakan yang aku tahu sangat ia nanti-nantikan. Sampai sekarang pun tak ada lelaki di sampingnya. Ia mati-matian menghabiskan waktu di perpustakaan, buku, kampus, kafe, flat, semua sendiri.

“Kau masih suka kopi kan?” tanyanya.

“Iya.”

“Han, aku selalu bermain bersama kopi seperti orang bijak berkata 1 cangkir kopi jika tidak tahu harus memulai dari mana. 1 cangkir kopi jika ingin mengubah suasana hati. 2 cangkir kopi jika ingin memecahkan masalah. 4 cangkir kopi jika ingin mengetahui semua hal tentang kopi.”

“Wah, hebat masih hafal.”

Ia tertawa, ia berusaha menghiburku yang dipenuhi tanda tanya yang belum sampai hati untuk memiliki ceritanya. Sudah terlalu lama tidak berjumpa. Layaknya perempuan yang berideologi tinggi, ia sampai lupa akan usia juga aku yang tak ingin dicobanya untuk berkata sesuatu. Tanpa kata, hanya melalui bola mata dan gerak-gerik semua terbaca. Aku pun tahu.

“Aku ada kenalan seorang dokter di Sleman. Kamu berkenan ke sana?”

Ia tersenyum, melalui sedotan putih yang menambah keanggunannya ia menyeduh kopi. Ia selalu nampak anggun, selalu. Ia telan sergahanku yang mendadak mencampuri pribadinya. Apa aku salah berkata, ucapanku bagai angin yang tiada berkesan barangkali. Ia melempar pandangan ke arah danau. Mungkin ia sedang berkata sesuatu pada danau itu, ya jawaban yang disiapkan untukku.

“Kamu baik-baik saja kan?” tanyanya.

Aku ingin menantang matanya, hendak meyakinkan seperti dulu kerap ku lakukan. Itu bukan jawaban sesungguhnya. Belum sempat menjawab ia meneruskan.

“Apa kabar anak dan isterimu? Sekarang keinginanmu sudah terwujud, bukan. Memillih Jogja, juga isteri yang mendampingimu di sini seperti apa yang kau ceritakan dahulu.”

“Kau juga masih ingat tempat ini kan? Tujuh tahun lalu kau begitu menggebu untuk diajari sebuah gitar, katamu supaya jadi obat rindu kalau di Amerika,” aku kembali bertanya.

“Ya, dan aku sudah jarang mengingat-ingat, sebab aku terlalu banyak tugas.”

Mataku tertuju pada liontin merah yang ia kenakan. Bukankah itu dariku dulu, gaji pertamaku yang aku hadiahkan untuk membeli kado teruntuknya. Seakan diawasi, ia segera menggerakkan tubuhnya mengubah posisi duduk, sambil mengajak arah pandanganku pada rembulan juga bintang-bintang di langit. Dan aku lihat lagi liontin itu kini tersembunyi di balik renda baju. Tangan kirinya berhasil menutupi. Aku menyadari ia perempuan yang baik, aku menyesal bertanya tentang masa lalu padanya. Bukannya ia melupakan, bukan.

Ingin rasanya membawa dia pulang ke rumahku, memberikan kasih sayang sebaik-baiknya. Sebagaimana ia berperangai kepadaku. Tak pernah bertutur, ataupun berlaku kasar terhadapku. Barangkali memang benar, jatuh cinta itu takdir, menikah itu nasib.

“Han, aku dulu begitu dibutuhkan sampai kehilangan waktu untuk diriku sendiri.”

Ia mengagetkan renunganku. Aku tahu ia memulai bicara yang sesungguhnya. Ya bicaralah pinta batinku. Aku sesegera menatap bola mata bening itu. Bola mata yang tetap saja sama. Biasanya bertambahnya usia nampaklah semakin keruh kecokelat-cokelatan yang mengawan. Bagi para sufi itu merupakan pertanda kesucian diri. Barangkali dia memang tak banyak dosa.

“Aku kerjakan semua yang harus ku kerjakan. Aku selalu berdoa sebelum melaksanakan tugasku. Meja hijau, dan dunia kampus selalu menjamahku laksana pejabat tinggi. Semua itu tentu karena keseriusanku dalam belajar. Semenjak itu ya, ketika aku dan kedua kawanku laki-laki sedang sidang terakhir. Tiba-tiba seorang suami yang berkelakuan bejat mengeluarkan sebilah pisau yang membuat mantan isteri mandi darah. Sebagai satu-satunya hakim perempuan, seketika nuraniku menjerit melawan laki-laki itu. Meskipun pada akhirnya mantan isteri itu meninggal, aku beruntung masih bernyawa menemuimu saat ini.”

“Mulanya aku sangat terpukul, sebelumnya kabar tersiar pernikahanmu tak ku hiraukan. Aku menyesal tak bisa datang. Kau pun juga tak memberiku kabar, ku kira kau ya. Beberapa hari kemudian terjadilan peristiwa itu. Meski aku menangis sampai berdarah-darah, tak akan mengembalikan apa-apa. Ya, tak kan mengembalikan orang-orang yang semula mencintaiku. Juga pekerjaan yang ku impikan. Aku juga kadang berpikir kapan aku akan diuji, ternyata tibalah juga ujian Tuhan datang kepadaku.”

“Alisa!” kedua mataku mencoba memasuki mata juga hatinya. Ia acuh denganku, lalu berbicara. Ia memang sedang ingin bercerita, juga sedikit kekecewaanya terhadapku. Terpaan-terpaan itu sungguh menyayat batinku, sesal mendalam.

“Kau punya isteri dan anak yang membuat batin juga raga senantiasa hidup. Tujuan kehidupan nampak dengan kariermu saat ini. Kita yang tak pernah menanamkan apa-apa, berarti kita tak pernah kehilangan apa-apa. Ah begitu kan surat terakhir Soe Hok Gie pada perempuan. Aku bahagia melihat sahabat-sahabatku sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Termasuk kau, Han. Kau masih ingat aku saja aku sudah sangat bersyukur, orang-orang memang mudah melupakan. Meskipun orang yang dulu dicintainya.”

Aku bagai tersambar petir. Remuk. Begitu lalu, ia menanggalkanku dengan menghabiskan secangkir kopi-nya. Lagak yang baru darinya karena ia biasa memain-mainkan sendok dengan tangan kanan yang tak lagi dilakukannya. Tangan kirinya superior, ia memang baik, terlebih ia sangat cerdas. Namun aku tak dapat berbuat apa-apa. Sebuah perasaan yang dinomorduakan akibat pendidikan. Aku menyanyanginya. Dia beranjak pergi, kerudung yang dikenakan seakan bergabung apalagi ditambah rintikan hujan yang datang. Semakin anggun kau kekasih yang selamanya setia, hatiku kau perkaya dan aku luluh lantak tiada tara;

Titik hujan belum juga lepas dari tubir daun itu;

Ditunggang kita lewat. Ku pandang ke atas;

Sebutir jatuh di bulu matamu, yang lain meluncur di pelipismu.

Pohon itu kembali menatapmu, hanya selintas.

Diberkahinya tanganku yang ingin sekali mengusap basah

Yang mendingin di wajahmu. Kau seperti ingin melakukan sesuatu.

Aku pun mendadak menghentikan langkah

Sejenak-jangan tergesa, agar bisa kau baca niat titik hujan.

Butir-butir hujan menderas dari sudut-sudut daun itu

Tepat ketika kita lewat. Ku pandang ke atas.

Pohon itu tak lagi menatapmu. Membasahi kerudungmu,

Meluncur ke pundakmu. Dibiarkannya kita melintas.

Kita pun bergegas agar segera sampai ke ujung jalan tanpa bicara.

Tak lagi berniat menafsirkan titik hujan?*

 

NB: * Sonet 13 karya Sapardi Djoko Damono