Mahasiswa KKN mandiri Direlokasi

0
210
Ali Imron Saat ditemui di teras Auditorium 2 kampus 3. dok: Ink

Justisia.com-Mahasiswa KKN mandiri UIN Walisongo direlokasi ke daerah lain, padahal jauh hari sebelumnya telah terencana menginisiasi di daerah yang sudah ditentukakan, yakni di Kecamatan Sumowono dan Kecamatan Bergas. pemindahan disebabkan karena lokasi tersebut sudah ditempati kampus lain, berhubung keadaan dharurat, akhirnya pihak LP2M turun langsung memfasilatasi peserta KKN mandiri.

“Sebelumnya mahasiswa sudah mengatur program sendiri, sudah seminar, dan dengan kami sudah di ACC. Kepala desa setempatpun sudah mengijnkan, namun ketika kordinasi dengan Kesbangpol, dan camat terkait, ternyata pada bulan bersamaan di Sumowono ada KKN dari kampus Undip dan Unimus, dan di Bergas ada KKN Undaris. Lalu saat forum, disepakati untuk tidak ditempati KKN,” ucap Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat LP2M, Ali Imron saat ditemui di Auditorium 2 kampus 3, Kamis (11/01).

Menurut pria yang juga sebagai dosen di Fakultas Syariah dan Hukum ini, pemindahan 13 lokasi dari Kecamatan Sumowono, 12 ke Kecamatan Getesan dan satu lagi ke Kecamatan Bringin, begitu juga 9 lokasi yang terletak di Bergas. Tidaklah menjadi masalah atas kelancaran pelaksanaa KKN. “tidak apa apa, karena ini kebijakan dari tingkat tekhnis saja,” katanya.

Masalah relokasi bukan pertama kali terjadi bagi peserta KKN mandiri, sebelumnya sudah pernah dialami, tepatnya di Kabupaten Kendal. Namun pada waktu itu jaraknya masih lama dan longgar.

“Kalau saat ini sangat mepet, kita diundang rapat hari Senin dan diputuskan kalau dua Kecamatan tersebut tidak boleh ditempati KKN, lalu hari selasanya siapkan administrasinya,” ungkap pria yang berdomisili di Kecamatan Mangkang tersebut.

Perihal tidak dibolehkannya menempati dua kecamatan yakni Sumowono dan Bergas, berasal dari kebijakan baru pemerintah daerah, bahwa disatu desa tidak boleh lebih dari 2 kelompok KKN. Ali Imron menyayangkan mendengar keputusan yang dikeluarkan secara mendadak.

“senin tidak diizinkan, kemudian keesokannya langsung berangkat, padahal waktunya mepet sekali,” keluhnya.

Menurutnya jalan satu satunya sebagai alternatif, akhirnya mahasiswa yang direlokasi melalui pola semi mandiri. “hampir mirip KKN reguler, mandiri tapi tidak 100% mandiri. ini merupakan solusi terbaik, kasihan dari pada gagal tidak jadi KKN,” tuturnya. (Rep. Ink)