sumber ilustrasi: http://islambergerak.com

Oleh: Dyah Hesti W.

Islam Progresif merupakan istilah yang relatif baru dibandingkan dengan terma-terma lain, seperti Islam Inklusif, Islam Transformatif dan Islam Liberal. Istilah Islam progresif ini baru ada dalam kajian Islam kontemporer digunakan oleh para akademisi dan aktivis sejak beberapa tahun terakhir secara substantif tidak jauh berbeda dengan terma lainnya. Istilah ini biasanya dinisbahkan kepada pemahaman-pemahaman dan aksi-aksi umat Islam yang memperjuangkan penegakan nilai-nilai humanis, seperti pengembangancivil society, demokrasi, keadilan, kesetaraan gender, pembelaan terhadap kaum tertindas dan pluralisme[1].

Pandangan kelompok Islam Progresif muncul sebagai kelanjutan dari gerakan Islam Liberal yang muncul sejak kurang lebih seratus lima puluh tahun yang lalu sekaligus ungkapan ketidakpuasan terhadap gerakan Islam Liberal sendiri yang lebih menekankan kritik internal terhadap Islam yang tidak atau kurang sesuai dengan nilai-nilai humanis dan melupakan kiritik terhadap modernitas, kolonialisme dan imprialisme[2].

Perhatian utama Islam progresif antara lain adalah topik-topik sekitar keterikatan dengan tradisi (engaging tradition), keadilan sosial (social justice), keadilan gender (gender justice), dan pluralisme. Mengingat Islam progresif merupakan kelanjutan dari Islam Liberal, Islam Transformatif, dan sebagainya, maka pemikir-pemikir yang dimasukkan dalam kelompok muslim progresif pun tersebar di berbagai negara. Diantara mereka adalah Abdul Karim Soroush dan Shirin Ebadi (Iran), Muhammad Shahrur dan Muhammad Habash (Suriah), Muhammad al-Talibi (Tunisia/Perancis), dan Fathullah Glen (Turki/USA). Dalam konteks Indonesia, sejumlah tokoh seperti Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholish Madjid (Cak Nur) sering juga dimasukkan dalam tokoh pemikir Islam progresif[3].

Menurut Ebrahim Moosa, seorangIslamyang Progresif adalah orang Islam yang perduli terhadap ketidakadilan sosial dan juga sangat mungkin agama dengan tetap menjalankan ritualitas keislamannya, meskipun cara pelaksanaan ritual yangprogresif terkadangsesuai kultural dimana Islam berkembang.Label Progresif diberikan kepada orang atau kelompok yang menghidupkan dinamika evolusi sosial masyarakat dan tidak berpegang kepada ide lama secara taklid buta. Namun demikian, Islam Progresif mempersyaratkan kecenderungan kepada kemajuan.

Gerakan Islam progesif ini juga muncul sebagai gerakan membumikan kultural teutama Islam ala Nusantara atau ke Indonesian. Mereka memiliki basis kultural di dalam struktur-struktur sosial tempat mereka hidup. Basis kultural ini bersifat given, dan seringkali merupakan gejala geografis atau ekonomis semata. Misalnya, kaum Muslim yang berafilisi ke NU pada umumnya adalah mereka yang berasal dari desa, berprofesi sebagai petani, berlatar belakang pendidikan pesantren tradisional (salaf), dan memiliki ketaatan yang masih kuat pada tradisi. Mempertahankan tradisi nenek moyang dan sebisa mungkin memadukan agama dan tradisi yang harmonis dan tidak saling bertentangan.

Kultural sebagai metode dakwah Islam yang dipakai untuk mengajak masyarakat agar memahami dan mentaati segala perintah Allah dengan menggunakan pendekatan-pendekatan kultur atau budaya masyarakat setempat. Islam Kultural memberikan keanekaragaman dalam mengajak masyarakat untuk mencintai Islam dengan cara-cara yang tidak kaku dan menyesuaikan keadaan kebudayaan setempat sehingga Islam tidak lagi agama yang kaku dalam menyebarkannya. Kaku yang di maksud mengamalkan agama Islam tidak harus menggunakan metode atau cara kekerasan atau menyalahkan pihak lain namun dengan humanis serta memperkuat dengan akulturasi budaya yang ada[4].

Oleh karena itu, salah satu hal yang sangat penting yang perlu diperhatikan untuk memahami Islam dalam menentukan identitas dirinya, selain bersumber pada al-Quran dan ilmu pengetahuan (bahasa, sosial, humaniora, dan lain-lain) adalah kesadaran spiritual. Kesadaran spritual yang dimaksudkan dapat digali dari konsep Ihsan. Ihsan dapat dipandang sebagai kesadaran manusia terhadap Tuhan secara vertikal dan horizontal. Dalam tataran vertikal, manusia sadar akan kehambaannya di hadapan Tuhan yang berada dalam kawasan transendental, sehingga ia tidak akan bersombong diri dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Dengan kata lain, ada kontrol diri dalam semua perbuatannya karena sadar akan keberadaan Tuhan. Sedangkan secara horizontal, manusia sadar akan fungsinya di dunia sebagaikhalifatullahdi muka bumi ini untuk menyebarkan kebaikan dan kasih sayang untuk seluruh umat manusia dan alam semesta (Rahmatan lil alamin). Melalui manusia, Tuhan menjadi imanen, dapat dirasakan segala bukti kasih-sayang serta keagungan-Nya.

 

[1]Sahiron Syamsuddin (2007), Islam Progresif dan Upaya Membumikannya di Indonesia, diakses darihttp://nahdliyinbelanda.wordpress.com/2007/09/29/islam-progresif-dan-upayamembumikannya-di indonesia/, pada 11 Oktober 2017.

[2]Safi, Omid. What is Progressive Islam?, diakses dariwww.muslimwakeup.com/main/archieves/2005/04/what_is_progres_1.phpsebagaimana dikutip dalam Sahiron Syamsuddin (2007), Islam Progresif…. pada 11 Oktober 2017.

[3]Sahiron Syamsuddin (2007), Islam Progresif dan Upaya Membumikannya di Indonesia, diakses darihttp://nahdliyinbelanda.wordpress.com/2007/09/29/islam-progresif-dan-upayamembumikannya-di indonesia/, pada 11 Oktober 2017.

[4]Nurcholish Madjid. 2005.Islam Doktrin dan Peradaban, Sebuah Telaah Kritis Tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan KemodernanCet;.V. Jakarta: Paramadina. hlm 106.