Belajar dari Titik Balik Peradaban Barat

0
241
sumber ilustrasi: http://www.italymagazine.com

Oleh: Sholihul Aziz

Berbicara tentang kemajuan dunia barat adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dikaji dan dipelajari lebih dalam lagi, mengingat bagaimana sampai hari ini barat masih mendominasi dalam sengitnya percaturan kemajuan dunia. Sebenarnya bagaimana barat menjadi bangkit dari keterpurukannya selama berabad-abad adalah suatu pelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat Indonesia saat ini yang sedang mencoba bangkit dari keterpurukan paradigma pemikirannya.

Lahirnya peradaban modern barat ditandai dengan masa Renaissance setelah sebelumnya barat mengalami fase kemunduran yang biasa disebut dengan era Dark Age atau masa kegelapan barat. Rennaisance merupakan istilah dari bahasa Prancis dan dalam bahasa latinnya berarti lahir kembali, pada mulanya renaissance diawali di Italia dengan gerakan budayanya bukan pada gerakan politis akan tetapi lama-lama gerakan ini terus berkembang menjadi gerakan perubahan sosial.

Yang menjadi menonjol dari masa ini adalah manusia berani berfikir secara baru, sebelumnya paradigma pemikiran barat terkungkung oleh doktrin pemikiran pasif dari agama yakni bahwa dunia ini hanyalah tempat beristirahat sejenak maka manusia tidak dapat leluasa untuk berbuat seenaknya sendiri. Doktrin gereja yang semacam ini ditolak pada masa renaissance bahwa manusia berhak untuk menentukan nasibnya sendiri (berbuat dan berkreasi) sesuai kehendaknya di muka bumi.

Kebangkitan barat ini disebabkan oleh beberapa faktor internal, salah satunya adalah kuatnya dominasi gereja atas segala aspek kehidupan masyarakat bahkan sampai pada urusan pribadi setiap individu dan banyak sekali faktor internal yang saat itu mempengaruhi dunia barat seperti revolusi industri di Inggris dan lain sebagainya.

Selain internal, ada juga faktor eksternal yang menyebabkan lahirnya masa reneissance, yang pertama adalah dunia barat terinspirasi oleh dunia islam yang sedang berjaya saat itu. Dahulu hubungan antara Islam yang berada di semenanjung Iberia (Spanyol, Portugal dan Francis bagian) dengan sisi eropa lainnya sangatlah terjalin dengan baik sehingga ada beberapa tokoh barat yang belajar di pusat-pusat keilmuan dunia Timur seperti Madrasah Nidzamiyyah dan lain sebagainya.

Yang kedua adalah perang besar antara Islam dengan Kristen yaitu perang salib yang memakan banyak waktu sehingga orang-orang barat yang bersentuhan langsung dengan orang-orang Islam mulai tersadar bahwa ternyata ada peradaban yang lebih maju dan unggul dalam ilmu pengetahuan dari pada peradaban orang barat saat itu.

Yang ketiga adalah penerjemahan buku-buku pengetahuan dalam bahasa arab ke bahasa latin, sehingga dari itu mereka semakin sadar tentang pentingnya makna kebebasan dari kungkungan doktrin gereja. Hal ini sama ketika masa titik balik keemasan islam yang juga disebabkan oleh penerjemahan besar-besaran buku-buku Yunani kedalam bahasa arab.

Yang keempat yaitu banyaknya pelarian perang ketika konstantinopel ditaklukan oleh dinasti Turki Utsmani oleh Muhammad al-Fatih (1435 M), pada awalnya Konstantinopel bernama Bizantium yang menjadi ibu kotanya Romawi Timur kemudian nama diganti menjadi Konstantinopel oleh kaisar Constantin, lalu berganti nama menjadi Istanbul sebagai ibu kota Turki.

Para pelarian yang terdiri dari kaum cendekiawan dan pendeta ini kemudian lari dari kota asalnya dan berkumpul di kota Florence lalu mendiskusikan tentang kebangkitan dunia barat. Dari sini kesadaran tentang pentingnya ilmu pengetahuan mulai memuncak, jika barat mau bangkit dan maju maka yang harus diperhatikan adalahcara berfikir dan pengembangan ilmu pengetahuannya.

Begitulah gambaran bagaimana titik balik kemajuan dunia barat (Reneissance) maka saat ini kita sedang mengalami masa dark age dimana agama masih menjadi sentral pokok bagi kehidupan masyarakat. Ya, kita terus saja berbicara soal modernisme dan perkembangan pembangunan namun selalu melupakan bagaimana posisi pentingnya ilmu pengetahuan.

Akan sangat percuma jika perekonomian, pembangunan, dan modernisasi tanpa memperhatikan aspek pendidikan dan pengetahuan bangsa. Selain itu jika posisi agama masih terus mendominasi pemikiran masyarakat bahkan sampai mengendalikan tapuk kekuasaan di negara ini maka masa Reneissance bagi Indonesia hanyalah omong kosong dan mimpi belaka.