Ketidakpuasan pelayanan fasilitas kesehatan dialami oleh Hilda Yusri Abdha (20) saat mengalami kecelakaan tunggal di kampus III UIN Walisongo. Ia mengalami kesulitan ketika ingin meminjam ambulan di Poliklinik Walisongo untuk mengantarkannya ke RSUD Tugurejo saat kritis.

Pria asal Batang itu mengaku, ketika ingin meminjam mobil ambulan untuk mengantarkan dirinya yang mengalami pendarahan akibat terbentur aspal ke RSUD Tugurejo. Justru pihak kampus mengatakan supir mobil tidak ada ditempat

“Padahal waktu saya kecelakaan sudah tidak jam istirahat,” kata Hilda sapaan akrabnya saat dihubungi reporter justisia.com melalui whatshapp, Selasa (02/01) malam.

“Pas itu aku sedang kritsi-kritisnya. Di Poliklinik Walisongo, hanya dilihat saja lukanya. Terus dari klinik langsung suruh ke RSUD Tugurejo. Luka tidak dibersihkan dahulu atau diperban agar pendarahan yang keluar tidak terlalu banyak. Ini tidak sama sekali, coba,” ungkap mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum itu.

Hal itu dibenarkan oleh Haby Luthfi Ulul Arham saat meminta pertolongan ambulan ke Poliklinik Walisongo untuk Hida. Ia mengaku, pihak kampus mengatakan untuk langsung dibawa ke RSUD Tugurejo karena alasan prosedur peminjaman fasilitas kesehatan.

“Langsung pakai motor saja, mas. Aku menimpali, waduh bu itu keadaan sedang parah. Wajah dia sudah berdarah semua. Malah dibilang, mas disini peminjaman ambulan itu sulit prosedurnya harus ke bagian rumah tangga dahulu,” cerita pria asal Blora.

Habi sapaan akrabnya, mengira fasilitas kesehatan untuk mahasiswa sudah memenuhi standar operasional prosedur kesehatan yang telah ada. Namun, realitanya tidak seperti itu

“Kita seperti didiskriminasilah hak menerima fasilitas kesehatanya. Kampus belum maksimal menangani persoalan ini,” tambah mahasiswa semester V jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum itu.

Senada dengan Habi, Hilda yang kala itu menjadi korban mengharapkan fasilitas kesehatan kampus segera diperbaiki. (rep.Lesen)