Yerussalem dalam Tiga Agama

0
304
sumber foto: gdb.voanews.com

Oleh: Aminatun RS

Keputusan Presiden Donald Trump terkait penetapan kota Yerusalem sebagai ibukota Israel sepanjang akhir tahun 2017 menjadi suatu berita besar yang menjadi pokok pembahasan di berbagai belahan dunia. Sebut saja, Indonesia, yang pada 17 Desember lalu telah menjadikan Aksi Bela Palestina sebagai bentuk kecaman terhadap Amerika Serikat serta simpati kepada rakyat Arab-Palestina atas implikasi dari keputusan Trump tersebut. Bahkan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang diadakan di Istanbul lalu juga secara khusus membahas mengenai perkara Yerusalem tersebut.

Yerusalem yang merupakan kota penting bagi tiga agama-Yahudi, Kristen, dan Islam, selama ini menjadi fokus konflik antara Israel dengan Palestina. Walau ditengarai bahwa pemindahan ibukota Israel dari Tel Aviv menjadi Yerusalem adalah murni kepentingan politik dan bukan kepentingan agama, namun keputusan tersebut tetap menjadi pembahasan serius di antara agama-agama samawi yang berkaitan dengannya tersebut; karena masing-masing memiliki sejarah dengan Kota Yerusalem yang juga ditegaskan dalam kitab suci mereka.

Letak Geografis Kota Yerusalem

Palestina termasuk wilayah Asia Barat. Di sebelah barat Palestina dibatasi Laut Tengah, bagian timur berbatasan dengan Yordania dan Syria, sebelah utara berbatasan dengan Libanon, sedangkan bagian selatan berbatasan dengan Mesir. Dengan batas-batas tersebut, wilayah Palestina berada dalam kawasan wilayah Arab. Orang-orang Arab Islam secara geografis memandang Palestina sebagai bagian daerah Syria Selatan.

Yerusalem adalah kota yang terletak di persimpangan Israel dan West Bank yang masuk bagian bumi Palestina. Lokasinya berada di antara Laut Mediterania dan Laut Mati, kira-kira 50 km sebelah tenggara ibukota Tel Aviv. Wilayah kota ini luasnya kira-kira 123 km2, tetapi batas-batasnya sering diperselisihkan, terutama sejak pengambil alihan sebagian wilayah Palestina oleh Israel. Sementara itu, wilayah-wilayah yang berbatasan dengan Yerusalem oleh orang-orang Palestina dipandang sebagai wilayah West Bank.

Yerusalem terbagi atas tiga kota yaitu Kota Tua, Yerusalem Timur, dan Kota Baru yang terus berkembang di antara kota lainnya. Kota Tua atau The Old City dikelilingi oleh tembok tinggi yang dibangun pada masa Nabi Sulaiman AS. Tembok ini dimaksudkan untuk melindungi diri daei serangan musuh. Di dalam Kota Tua ini juga terdapat tempat-tempat bersejarah umat Islam, sebab di sana ada tempat yang bernama Bukit Moriah.

Sejarah Yerusalem dalam Tiga Agama: Yahudi, Kristen, Islam

Pada 1000-586 SM, Palestina adalah negara Yahudi merdeka. Secara berturut-turut kemudian menjadi daerah jajahan Babilonia (586-539), Persia (539-330), Macedonia dan kerajaan-kerajaan Yunani (330-143). Setelah merdeka lagi tahun 143-63 SM, Palestina kembali menjadi jajahan kekuasaan Romawi (63 SM-636 M). Pada tahun 636 Khalifah Umar bin Khattab berhasil menduduki Palestina dan sebagian besar penduduknya masuk Islam. Pada 1517, Palestina berada di bawah kekuasaan Turki Usmani sampai 1917. Pasca kekalahan Jerman pada waktu Perang Dunia I (Turki memihak Jerman), oleh karena itu semua wilayah kekuasaan Turki Usmani jatuh ke tangan Sekutu, termasuk Palestina. Oleh karena itu Palestina jatuh dikuasai oleh Inggris pada tahun 1917-1048[i].

Orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam, yang merupakan bagian dari Abrahamic religions, mengakui bahwa Yerusalem merupakan kota suci mereka. Kota ini memiliki situs-situs suci yang berhubungan dengan agama mereka. Yahudi dengan Tembok Ratapan, Kristen dengan Makam Suci mereka, sementara Islam dengan Masjid al-Aqsha-nya.

Nama Yerusalem berasal dari dua suku kata, yaitu Jebus dan Salem. Jebus adalah salah satu nama suku dari rumpun bangsa Kanan, dan Salem adalah sebutan untuk Tuhan Yang Maha Tinggi yang disembah oleh suku tersebut. Kota kecil Jebus ini pada 997 SM diduduki oleh Raja Daud, raja bagi Bani Israel. Raja Daud menetap di Yerusalem, sehingga orang-orang menamai Kota Yerusalem sebagai Kota Daud.

Sejarah kependudukan Yerusalem dalam versi Bibel dimulai dengan kisah eksodusnya Bani Israel dari Mesir yang dibawa oleh Musa. Setelah menjadi budak Firaun (pada masa eksodusnya diperkirakan sebagai Ramses II) dan dipaksa bekerja rodi, sekitar 600.000 orang laki-laki (menurut Keluaran 12:35-38) belum termasuk anak-anak, keluar dari Mesir hingga akhirnya terjadi pengejaran yang dilakukan oleh Firaun dan bala tentaranya yang menyebabkan pasukan raja tersebut tenggelam di tengah Laut Merah. Kemudian selama 40 tahun Bani Israel tinggal di padang gurun sampai Musa meninggal di usianya yang ke 120 tahun, Tuhan berbicara kepada Yosua bin Nun dan memerintahkannya agar membawa Bani Israel ke negeri yang telah Dia tetapkan bagi mereka. Negeri ini kelak adalah Kota Jebus[ii].

Menurut Al-Quran surat Al-Araf ayat 127 sampai 129, Bani Israel ini mewarisi wilayah tanah suci yang mulanya dikuasai oleh raja-raja bawahan Mesir. Tanah suci ini disebut sebagai Kanaan. Dalam sejarahnya tercatat mereka dipimpin oleh Daud dengan puteranya, Sulaiman (Solomon).

Terhitung beberapa kemajuan yang dialami Kerajaan Yahuda (merupakan negara yang ber-ibukota-kan Yerusalem) pada masa Daud ini adalah dengan adanya hubungan bilateral yang baik antara Raja Daud dengan Raja Hiram, pemimpin negeri Tirus. Istana, kuil peribadatan, dan tembok Kota Yerusalem dibangun pada masa itu. Sepeninggal Daud (w. 964 SM), kerajaan tersebut dipimpin oleh Sulaiman namun tidak sekuat ketika pemerintahan Daud.

Setelah memerintah selama 40 tahun, Sulaiman wafat dan kerajaan ini terpecah menjadi dua yang masing-masing dikuasai oleh kedua putera Sulaiman, Rehabeam dan Yerobeam. Masa pendudukan Bani Israel di Kanaan atau Yerusalem tersebut hanya sampai abad ke-6 SM, hingga kemudian pasukan Kerajaan Asyria (Babilonia) di bawah kekuasaan Nebuchadrezzar II (630-562 SM) datang menyerbu dan menghancurkan Yerusalem serta mengasingkan orang-orang Yahudi ke Babilonia[iii]. Sejak saat itulah secara praktis Kota Yerusalem jatuh ke tangan orang Babel, dan akhirnya menjadi puing-puing, bahkan banyak tempat peribadatan yang dirusak. Wilayah Yerusalem kemudian secara berturut-turut jatuh ke tangan kerajaan-kerajaan besar yang telah disebutkan di atas. Sampai bangsa Syria berhasil menaklukkannya dan wilayah Yahuda (atau Judea) berhasil diperluas di bawah kekuasaan keluarga Hasmonean, para peziarah Yahudi dari luar wilayah tersebut datang berbondong-bondong untuk mengunjungi Yerusalem sebagai tempat suci mereka.

Setelah mengalami kemunduran, pasukan Romawi di bawah kepemimpinan Pompey pada tahun 63 SM berhasil menaklukkan Yerusalem. Berbagai kuil dibangun kembali oleh Romawi. Antara tahun 26-36 M, di kota ini pula, Pontius Pilate memvonis Jesus untuk disalib karena alasan pengkhianatan. Ada banyak pemberontakan dan peperangan yang dilakukan Romawi dengan bangsa Yahudi yang merasa tertekan atas kesewenang-wenangan bangsa besar tersebut. Kuil-kuil peribadatan dihancurkan dan jumlah penduduk Yahudi menurun drastis. Hingga kemudian Hadrian, kaisar Romawi yang memimpin pada tahun 129-139 M, membangun kembali kota ini dan mengubah namanya dari Yerusalem menjadi Aelia Capitolina. Hadrian kembali menghidupkan Palestina dan menghapus semua memori yang berhubungan dengan Yahudi, Judea, dan Yerusalem. Pada masa kemudian kota ini menjadi tempat tujuan ziarah orang-orang Kristen, dan Gereja Holy Sepulchure dibangun pada masa Konstatin the Great (303-337 M). Dukungan pemerintahan Romawi terhadap gereja dan lembaga-lembaga keagamaan menjadikan wilayah Yerusalem itu memiliki nilai tinggi di mata orang-orang Kristen[iv].

Baitul Maqdis (Yerusalem) ini memiliki nilai tersendiri di mata Muslim. Yaitu dengan sejarah Isra, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sampai salat berjamaahnya para nabi di masjid tersebut. Setelah jatuh ke tangan Islam pada tahun 638 M di bawah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab secara damai, Yerusalem kemudian dipimpin oleh Gubernur Amr bin Ash.

Di bawah kepemimpinan kaum Muslimin, gereja dan penduduk yang beragama Kristen tidak pernah diganggu. Begitu pula dengan orang-orang Yahudi yang semula dilarang berziarah kemudian diizinkan untuk berziarah bahkan menetapi Kota Daud tersebut. Pada masa Muawiyah para peziarah dari bangsa dan agama apapun diizinkan untuk mengunjungi Yerusalem. Sejumlah bangunan monumental diperbaiki arsitekturnya, termasuk Masjid Al-Aqsha. Kehidupan beragama antara Muslim, Kristen, dan Yahudi berjalan baik kecuali pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah di tanah tersebut. Namun setelahnya kaum Muslimin harus kehilangan Yerusalem akibat dari Perang Salib I pada 1099 M[v].

Wilayah tersebut berkali-kali berpindah tangan dari pasukan Tentara Salib kembali pada Muslim di bawah Shalahuddin al-Ayyubi. Sampai pada Perang Salib kesekian, wilayah ini masih dikuasai umat Islam, namun setelah Perang Salib Keenam (1229 M), Yerusalem kemudian berpindah ke tangan Kristen oleh Raja Frederick Barbarossa dari Jerman. Namun lagi-lagi wilayah ini harus kembali jatuh ke tangan Muslim, yakni di bawah kekuasaan Dinasti Turki Usmani (1517 M), hingga kemudian Dunia Islam harus menelan kepahitan dengan jatuhnya wilayah Palestina ke tangan Sekutu sebagai akibat dari Perang Dunia I. Peralihan kekuasaan Palestina ke tangan Sekutu pada 1917 M inilah yang menandai gejolak pertempuran Arab Palestina-Israel yang berlangsung hingga sekarang[vi].

Yerusalem Setelah Perang Dunia I

Pasca kekalahan Jerman dalam PD I (Turki memihak Jerman pada saat itu), semua wilayah Turki Usmani jatuh ke tangan Sekutu, termasuk wilayah Palestina. Oleh karena itu Palestina jatuh ke tangan Inggris pada tahun 1917-1948 M. Kaum Zionis Yahudi mendekati kerajaan Inggris untuk melancarkan tujuannya memperoleh kekuasaan atas Palestina. Sebelum itu, Theodore Herzl sebagai bagian dari Zionis Yahudi sempat mendekati Sultan Hamid I untuk berdiplomasi sebagai upaya untuk mendapatkan Palestina, yang kemudian ditolak dan gagal.

Melalui Inggris, Deklarasi Balfour dibacakan pada 20 November 1917 yang menyatakan bahwa Yahudi memiliki hak untuk mendirikan pemerintahan di wilayah Palestina. Usai deklarasi ini dibacakan, terjadilah peperangan Arab Palestina dengan Israel.

Berbagai upaya untuk mempertahankan Yerusalem dan Palestina terus dilakukan. Negara-negara Arab berusaha membantu melalui kekuatan pasukan tentara, yang kemudian mendapat tanggapan PBB untuk membagi Palestina menjadi tiga wilayah; Negara Arab, Negara Yahudi, dan Ibukota Yerusalem. Rencana ini sudah dibacakan pada 29 November 1947, namun bangsa Arab Palestina menolaknya dengan jalan perang. Mereka kalah dan pada akhirnya penduduk Yahudi Palestina memiliki negara nasional, yaitu Israel dan berhasil menguasai sebagian besar wilayah Palestina[vii].

Kemudian rakyat Arab Palestina memilih untuk melakukan gerakan gerilya atas nama PLO (Palestine Liberation Organization) yang didirikan pada tahun 1964. di bawah kepemimpinan Yasser Arafat, perjuangan PLO mendapatkan hasil dan PBB mengukuhkan hak rakyat Palestina untuk bernegara kembali ke Palestina. Kemudian tahun 15 November 1988 para pemimpin Palestina memproklamirkan kemerdekaan Palestina di Aljazair. Walau sudah mendapat dukungan dari 20 negara termasuk Indonesia, namun Palestina masih belum mendapat kekuasaan secara de facto karena belum memiliki pemerintah dan wilayah, yang sebagian daripadanya masih dikuasai Israel.

Ada beberapa tanggapan terkait merdekanya Palestina. Di kalangan pemimpin Israel yang diwakili Partai Buruh, mereka setuju untuk melepas Gaza dan Tepi Barat untuk Palestina. Namun kelompok kanan yang diwakili Partai Likud dan Partai Kach justru cenderung mengintegrasikan Gaza dan Tepi Barat ke negara Israel. Meskipun perundingan telah dilakukan namun sulit untuk menemukan titik temu untuk menyelesaikan permasalahan Palestina. Bahkan sampai sekarang konflik antara rakyat Palestina dengan Israel masih sering terjadi dan menemui jalan buntu[viii].

[i] Isawati, Sejarah Timur Tengah, (Yogyakarta: Ombak, 2013), hlm. 75.

[ii] Louay Fatoohi, Shetha Al-Dargazeli, Sejarah Bangsa Israel dalam Bibel dan Al-Quran, (Jakarta:Mizan, 2007), hlm. 40.

[iii] Fatoohi, Sejarah,.., hlm. 253.

[iv] Ajat Sudrajat, dalam artikelnya yang berjudul Jerusalem: Kota dalam Sengketa, diunduh dari laman http://eprints.uny.ac.id/ pada 21 Desember 2017 pukul 13.45 WIB, hlm. 7.

[v] Sudrajat, Jerusalem, .., hlm. 9.

[vi] Sudrajat, Jerusalem, .., hlm. 12.

[vii] Isawati, Sejarah, .., hlm. 84.

[viii] Isawati, Sejarah, .., hlm. 89.