Sumber Ilustrasi: pxhere.com

By. Audreana Ivy

 

Pertemuan tidak selalu bermula dari sebuah kesengajaan terkadang ketidaksengajaan dapat menciptakan sebuah pertemuan, dan dari pertemuan itu tercipta lah sebuah takdir yang akan mengikat manusia didalamnya. Percaya atau tidak dari sinilah berbagai takdir lahir.

Ah , biarkan aku menceritakan sedikit kisahnya kepada kalian. Inilah alasan mengapa dia mempercayai bahwa sebuah pertemuan itu dapat mengikat kita dalam sebuah takdir, bahkan takdir yang besar sekalipun, dan berdampak kepada kehidupan manusia didalamnya.

Jadi ,bagaimana jika kita mulai kisah nya ?

London,5th November 2016

Kala itu langit kota sedang tidak bersahabat, udara seolah terasa hendak membekukan kulit hingga ke tulang-tulangnya, terlebih lagi angin musim gugur yang berhembus cukup kencang ke seluruh pelosok kota. Menyebabkan penduduk ibu kota di Inggris itu untuk semakin merapatkan mantel mereka ketika hendak keluar menerpa cuaca dihari itu.

Termasuk seorang gadis berparas cantik berambut coklat legam tergerai mencapai pinggang nya yang ramping tengah duduk sembari menunggu trem yang hendak membawanya menuju kantor pagi itu. Berulang kali dia menggosok kedua tangannya pada cup berisi kopi yang masih mengepul., sesekali gumaman kecil keluar dari bibir mungil yang merah merekah itu. Mengeluarkan sumpah serapah pada bos barunya yang tega membuatnya harus berangkat sepagi itu.

Tak lama kemudian, gadis itu berdiri dan mulai melangkah ketika trem yang dia tunggu telah tiba dan siap membawa nya meluncur diatas dinginnya rel trem yang dia yakini sedingin sikap Robert, bos dikantor barunya itu.

Setelah merasa duduk dengan nyaman dia memasang sepasang earphone di telinganya mencoba mengisi kesunyian di tengah suasana ramainya trem. Namun , tanpa dia sadari manik almondnya mulai menjelajah tiap sudut trem pagi itu. Memperhatikan setiap sudut mulai dari seorang pria dan wanita yang masih terkantuk-kantuk karena selesai lembur, atau seorang gadis berseragam yang tengah fokus dengan buku di tangannya.

Tiba-tiba, manik almond itu bertubrukan dengan sepasang manik kelam seseorang. Seorang pria berparas tampan dengan rambut yang kelam sekelam langit malam dan rahang yang tegas. Pria itu mengenakan pakaian yang kasual, tak lupa sebuah id-card yang menggantung di leher jenjangnya. Dari apa yang dia lihat dapat ditarik kesimpulan bahwa pria itu mungkin seorang wartawan, atau pekerja kantoran tetap, setidaknya pria itu tidak seperti dirinya yang masih menjadi anak magang.

Lama keduanya saling menatap, hanya menatap hingga akhirnya si gadis mengalihkan pandangannya karena jantungnya yang meracau tiba-tiba seperti suara mesin jahit milik grandma nya. Sesekali, dia melihat dari ujung matanya, mencoba memperhatikan pria itu. Entah , pria itu sadar atau tidak jika dia tengah diperhatikan seorang gadis berparas bak boneka.

Berbagai hal muncul dibenak si gadis mulai dari mengagumi paras si pria hingga berharap bahwa mereka akan satu kantor dan pria itu menjadi senior nya disana. Dipagi yang dingin itu benaknya telah sibuk menjelajah karena seorang pria.

Sayangnya penjelajahan itu harus berhenti karena dirinya harus segera turun di pemberhentian yang ditujunya. Sebelum langkahnya meninggalkan trem dia menyempatkan mencari keberadaan si pria. Sudut bibirnya tertarik mengukir senyum manis, bibirnya berucap tanpa suara.

 

“Semoga kita bisa berjumpa lagi.”

 

Entah, karena doa nya atau memang takdir yang mulai terjalin disaat mereka pertama kali bertemu. Gadis itu kembali bertemu si pria masih di tempat dan waktu yang sama pula. Jadilah , gadis itu selalu bersemangat ketika hendak memasuki trem. Dia selalu berharap semoga mereka bisa berbincang dan menjadi dekat.

Namun ,terkadang kenyataan sering kali tidak sesuai dengan ekspetasi. Dirinya tak memiliki cukup keberanian untuk sekedar menyapa atau mengajaknya berbincang. Bagaimana jika dia mengira aku adalah penguntit,pikirnya.

Hari itu adalah hari ketiga, gadis berparas boneka itu menjelajah se-isi trem mencoba mencari sosok yang hampir 2 hari lamanya dia perhatikan. Helaan nafas terdengar , gadis itu merasa kecewa karena sosok itu tidak menampakkan batang hidungnya,.

Gadis itu tiba-tiba terperanjat ketika merasa pundaknya ditepuk seseorang di sampingnya, saat dia menolehkan kepalanya sosok itu disana, tersenyum manis padanya. Seakan waktu tengah berhenti, tatapannya terkunci pada manik kelam sosok itu. Sungguh, ya Tuhan jantungnya serasa hendak mencuat keluar dari tempatnya.

“Hai, morning.”Sapa pria itu, gadis itu bertingkah layaknya orang idiot karena celingukan mencoba memastikan apa benar pria tampan disampingnya itu sedang menyapa nya atau tidak.

Suara tawa pecah menghentikan tingkah konyol gadis itu. Pria itu lalu menunjuk ke arahnya. “Ya, itu anda nona,” ucapnya dengan senyum masih tercetak jelas di parasnya.

 

” Ha? Anda menyapa saya ?” tanya si gadis sambil menunjuk dirinya sendiri, karena masih merasa tidak yakin. Pria itu memberikan anggukan sebagai jawabannya.

 

“Bukankah, anda sedang mencari saya?” pertanyaan pria itu membuat gadis bermanik almond itu terdiam. Tamatlah riwayatmu, rutuknya di dalam hati.

 

” Tidak apa-apa, nona. Toh , saya juga ingin berkenalan dengan gadis yang berparas seperti boneka yang selama ini memperhatikan saya.”

Perkataan pria itu sukses mencetak semburat merah di kedua pipi putih si gadis, menciptakan rona merah yang justru membuat gadis itu nampak makin manis di pandangan nya.

 

“Luke Darwenne.” Pria itu menyodorkan tangan nya, si gadis yang semula hanya menatap tangan itu akhirnya menerima nya tak lupa senyuman manis khas nya dia berikan.

” Samantha Rowley.” Ucap gadis yang bernama Samantha itu ketika menerima tangan Luke.

 

Setelah kejadian itu, Samantha dan Luke saling menceritakan diri mereka sepanjang perjalanan. Tidak hanya itu saja, malam selepas bekerja mereka makan malam bersama di salah satu restoran dekat kantor Samantha.

Sungguh, malam itu adalah malam terindah bagi Samantha. Tuhan seolah mendengar segala doa serta mengabulkan harapannya. Bahkan , esok pagi mereka akan sarapan pagi bersama di dekat kantor Samantha. Dan seperti hari-hari sebelumnya , di trem yang sama itulah mereka akan bertemu.

Pagi itu paras gadis bak boneka itu tak henti-hentinya tersenyum, berulang kali dia melihat pantulan dirinya di layar ponselnya, memastikan riasannya masih baik-baik saja. Padahal pagi itu adalah pagi yang sangat dingin, cuaca yang sama seperti saat pertama kali mereka bertemu.

Samantha segera melesat masuk ketika pintu trem terbuka, kepala gadis itu sibuk mencari sosok pria bermanik kelam itu. Senyumnya kian merekah ketika menemukan sosok Luke yang tengah melambai padanya.

” Morning, Luke” sapa nya ceria, Luke tersenyum mengangguk lalu memberikan sebotol kopi yang tampaknya dia beli dari mesin minuman sebelum dia naik.

” Hari ini cuacanya tidak begitu bersahabat, kamu harus menjaga tubuhmu tetap hangat” Luke membuka penutup botol kopi baru setelah itu menyodorkannya kembali ke arah Samantha. Sementara , Samantha tersenyum sembari mengangguk.

Mereka pun memulai perbincangan pagi itu, segalanya berjalan lancar hingga tiba-tiba trem yang mereka tumpangi berguncang membuat para penumpang berteriak histeris.

 

Luke segera mendekap Samantha, bahkan mereka terjungkal ke depan dan bertubrukan dengan penumpang lain. Segalanya berlangsung sangat cepat, seakan hanya hitungan detik . Jeritan terdengar hingga memekakan telinga. Badan trem terguncang hebat, dan sempat berguling beberapa kali.

Suara lirih terdengar ditiap sudut trem yang hampir tak berbentuk, mencoba meminta pertolongan meskipun tidak yakin apakah terdengar. Sungguh pemandangan yang memilukan hati.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya seorang pria yang tak lain adalah Luke sesaat setelah dia memejamkan matanya, gadis didepannya itu tersenyum dan mengangguk. Luke ikut tersenyum ketika mengetahui gadis itu baik-baik saja.

Luke mencoba memindahkan tubus gadis itu dari atasnya karena posisi mereka sekarang yang terjepit. Namun sayang sekali usaha nya sia-sia. Dia sama sekali tidak bisa bergerak

 

“Hei, Sekarang aku tau Tuhan mempertemukan kita agar aku bisa melindungi sosok yang membuatku jatuh hati meskipun hanya sesaat, namun aku sangat bahagia.,”ucap nya tiba-tiba, dia berusaha menarik nafas sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang kini terasa sesak.

 

“Terima kasih, aku bisa menjadi bagian takdir seseorang dan terima kasih sudah mengubah takdir ku, karena itulah aku bisa merasakan indahnya cinta meskipun hanya sesaat. Semoga kita bertemu kembali di kehidupan selanjutnya.”

 

Manik kelam itu terbelalak ketika melihat darah mengalir dari pelipis sosok dihadapan nya , tak hanya itu dia menjadi kian panik ketika melihat sosok itu terbatuk dan mengeluarkan cairan merah. Kemudian , barulah sadar dia baru saja dilindungi dengan tubuh sosok itu. Dia bisa melihat pecahan kaca trem yang ternyata telah tertancapa pada punggung dan lengan sosok didepannya, menciptakan bercak merah di kemeja putih yang kini bernoda merah.

“Hei, jangan bercanda ini tidak lucu!”

“Sampai jumpa,” lirihnya, segurat senyum lemah terukir di paras nya yang kini memucat.

Tak lama kemudian, suara jeritan pilu terdengar beserta tangis sembari terus memanggil nama sosok yang kini telah memejamkan mata, layaknya dia hanya tertidur. Tidur dalam waktu yang saaangaatt lamaa, mungkin selamanya.

 

London, 9th November 2016 sebuah trem terbalik di sebuah terowongan di Corydon,London Selatan,Inggris. Insiden ini terjadi di halte Sandilands, Addiscombe Road. Terdapat 40 orang terluka, 5 orang terjebak didalamnya, dan seorang korban yang diketahui bernama Samantha Rowley.

 

 

” Sometimes, a meeting can change and bear a fate of someone. It can create you to feel love, happiness, pain and hurt in the same time.”

  • The devil from the heaven