Si Pelampau Masa

0
319
Cover buku "Peci Miring" karya Aguk Irawan. sumber ilustrasi: kaurama.co.id

Judul Buku : Peci Miring

Penulis : Aguk Irawan

Tebal buku : 404 halaman

Penerbit : Javanica PT Kaurama Buana Antara

Tahun terbit : 2015

Cetakan : I

ISBN : 978-602-72793-1-5

Resentator : Harlianoor

Sejak dari ia masih belia, Ad-Dakhil sudah merasakan sejuknya udara pesantren. Ia adalah putra dan cucu dari kiai besar dan sangat terkenal. Namanya Abdurrahman ad-Dakhil yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Abdurrahman Wahid, namun lidah kita lebih akrab memanggilnya dengan “Gus Dur”.

Ad-Dakhil merupakan orang yang paling berbeda dari teman-teman seusianya. Ia mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam dalam berbagai ilmu. Dari sekedar humor hingga filsafat yang sanggup mengerutkan dahi. Selera humor yang bagus sekaligus mendalam tak mungkin dimiliki oleh seseorang yang tidak memiliki keluasan ilmu serta pengetahuan, cakrawala berfikir yang maju karena buku-buku, serta pergaulan yang melintasi batas-batas.

Semakin bertambahnya umur, bertambahnya jenis dan tema buku yang dibacanya, bertambah pergaulan dan pengalamannya, bertambah hobi dan kegemarannya, dia melesat jauh dari anak-anak seusianya. Bahkan ia juga melesat melebihi senior-seniornya. Siapa pun yang mengenal pesantren, hidup di lingkungan pesantren, dan mengenyam pendidikan pesantren, akan tahu kultur pesantren. Sesama santri saling berhubungan dengan cara tertentu, saling mengenal dengan cara tertentu pula. Ia yang berasal dari keluarga kiai, apalagi kiai besar dan amat terkenal, akan dipandang secara istimewa dan ditempatkan pada kedudukan yang istimewa pula.

Setelah ia merasa kehabisan bahan bacaan dan tanah air belum mampu mengobati rasa hausnya akan ilmu pengetahuan, ad-Dakhil kemudian bertekad untuk mengembara di tanah Firaun, Mesir. Ia butuh tantangan baru, yaitu mempelajari buku-buku dan kitab-kitab di perpustakaan. Semua itu mampu ditaklukannya. Tak hanya itu, ia bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia dan Kedutaan Besar Indonesia di Mesir. Dari dua lembaga itu ia mendapatkan tantangan menjadi seorang jurnalistik, yang setiap waktu dituntut menyajikan laporan kritis, serta mengungkap peristiwa-peristiwa yang susah diungkap.

Kemudian ia kembali mengembara ke Baghdad dan Eropa. Bagaimana kisah pengembaraan ad-Dakhil yang penuh lika-liku? Cerita-cerita unik dan menarik lainnya tentang ad-Dakhil tertuang dalam buku berjudul Peci Miring ini.

Di dalam buku ini penulis menjelaskan cerita kehidupan tokoh dengan kemasan yang menarik. Bahasa yang digunakan pun sangat sederhana sehingga pembaca bisa menangkap dengan mudah maksud dari penulis. Tak hanya itu, penulis juga membubuhkan cerita-cerita klasik yang bermakna hikmah sehingga pembaca mendapatkan wawasan lain tidak hanya terpaku pada topik yang dibicarakan. Apalagi ditambah dengan tulisan-tulisan Gus Dur seperti surat yang ditulis untuk Gus Mus sehingga buku ini menambah daya tarik kepada pembaca agar selalu mendalami tulisan demi tulisan dari penulis.

Namun, akan lebih bagus jika diakhir tulisan dari sub judul, penulis bisa mencantumkan cerita secara lengkap sehingga pembaca bisa menangkap isi tulisan secara utuh tanpa ada rasa penasaran yang tanpa jawaban. Juga, sebaiknya penulis bisa menemukan fakta pendukung cerita sehingga permasalahan tokoh dapat diketahui oleh pembaca.