Salah seorang pengunjung sedang melihat-lihar berbagai karya karkarikatur yang di pamerkan di Auditorium II, Kamis (7/11). foto: Tolkhah.doc

Justisia.com – Wajah-wajah tokoh nasional dan mancanegara tampak lucu penuh makna hadir hadir dalam pameran karikatur nasional bertajuk “Guru Bangsa” dalam rangka ArtFest Multikultural 2017 di Auditorium II UIN Walisongo Semarang. Pameran yang diselenggarakan oleh BEM Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan ini berlangsung selama tiga hari (6-8/12).

Pameran itu menghadirkan rupa imajiner dari wajah-wajah publik figur dalam bentuk karikatural, mulai dari tokoh agama, politisi, sampai seniman kondang. Antara lain, wajah KH. Hasyim Asyari yang bersanding dengan wajah KH. Ahmad Dahlan, menyiratkan rasa hormat sang kartunis pada dua sosok pendiri ormas Nahdlatul Ulama dan Muhamadiyah. Tampak juga wajah sosok sastrawan WS. Rendra karya Rossem, seorang kartunis dari negeri Malasyia. Di sudut lain, tampak wajah Bunda Teresa karya Romeo Jerico, Jakarta dan juga karikatur Anne Avanti, desainer kondang Semarang. Beragam dan mengundang senyum.

Dari berbagai karya yang hadir, pameran karikatur itu tampaknya sengaja dibuat sebagai medan tafsir pagi seniman karikatur untuk bebas menerjemahkan visi estetiknya

Membedakan Kartun dan Karikatur

Selama ini masyarakat awam cenderung mencampuradukan pengertian antara karikatur dengan kartun. Menurut Abdullah Ibnu Thalhah, dosen pendidikan seni UIN Walisongo sekaligus kurator pameran, karikatur merupakan karya deformasi wajah, melalui pembesaran, pengecilan, pemiuhan bentuk rupa.

Bila dalam kartun tokoh-tokohnya merupakan buah rekaan seniman alias fiktif, maka dalam karikatur, wajah-wajah tokoh yang digambar merupakan tokoh nyata, real, ada dalam kehidupan kita. Karenanya, dalam karikatur, masyarakat mudah mengenali sang wajah yang digambar yang merupakan publik figur dalam masyarakat. Di sinilah asiknya menikmati karikatur, melalui garis wajah yang dideformasi sedemikian rupa, kita bisa melihat wajah sang tokoh dari cara pandang yang tak biasa, yakni cara pandang imajinasi, yang acapkali menerbitkan selera humor.

Bagi Thalhah, kekuatan sebuah karya karikatur sebenarnya bukan sekedar soal kepersisan atau kemiripan gambar dengan wajah asli tokoh. Namun lebih dari itu, karikatur yang baik mampu menghadirkan karakter tersembunyi atau jiwa tokoh yang digambar. Karena kalau melulu soal persis atau mirip, itu sudah selesai dalam seni fotografi.

“Melalui pameran karikatur ini , kita diajak untuk menyelami keanekaragaman kehidupan kebangsaan kita dari sudut pandang sisi kebaikan dan kemuliaan manusianya,” terang Thalhah.

Dekan FITK UIN Walisongo, Dr. Raharjo, M.Ed. St., berharap kegiatan apresiasi seni ini mampu mendukung program pembelajaran dalam membentuk mahasiswa yang memiliki kompetensi multikultural, yang menjadi visi pendidikan nasional. Kompetensi multikultural merupakan kesadaran dan kecakapan mahasiswa dalam mengapreasi dan turut merawat kehidupan bangsa yang majemuk yang selalu menghadapi tantangan.