sumber ilustrasi: www.dictio.id

Oleh : Hasan Ainul Yaqin

Sudah sekian abad lamanya kita sebagai umat Islam ditinggal oleh pembawa agama Islam itu sendiri. Namun sosok, kepribadian, sifat, dan syafaatnya tidak pernah hilang ditelan bersamaan kewafatannya. Harapan mendapatkan syafaatnya selalu menjadi dambaan bagi umat Islam untuk menolong kehidupan di dunia, hingga sampai pada hari kiamah nanti. Itulah beliau, baginda agung sang legendaris Islam Nabi Muhammad SAW.

Semoga saja apa yang diharapkan oleh umat ini, dapat diraih dengan meneladani sikapnya baik yang bersifat ketuhanan ataupun kemanusiaan, meskipun yang terakhir ini sering kali dicampakkan, sehingga banyak diantara umatnya yang hidup pada zaman sekarang, lebih menekankan pada aspek ketuhanan tetapi lalai pada aspek kemanusiaan. Bahkan tidak sedikit yang menyerang, menghasut, dan menghantam sesama manusianya dengan dalih atas nama tuhan. Kesemuanya dapat kita temui di negara kita yang mayoritas penduduknya beragama Islam.

Perayaan Maulid Nabi besar Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Robiul awal sudah menjadi agenda rutinan untuk diperingati oleh sebagian masyarakat Islam disetiap penjuru dunia, termasuk Indonesia, demi menghormati hari lahirnya, langgar (baca: mushola) yang awalnya sepi dari penghuni, tiba tiba bergotong-royong bahu membahu untuk berkumpul merayakan hari ulang tahunnya. Masjid yang sebelumnya hanya ayat al-Quran dan lantunan dzikir yang dibaca, kini sholawat untuk menyebut namanya mulai terkumandang.

Sebagai manusia pilihan yang diutus Allah ke muka bumi, tidak lain dan tidak bukan, tugas beliau tidak hanya pada tataran teologi, melainkan pada hubungan secara horizonal yaitu untuk mengangkat derajat manusia menjadi insan yang lebih bermartabatif. Berdiri sendiri tanpa penghisapan, bebas merdeka dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan .

Peran yang sedemikian, menunjukkan bahwa nabi bukan hanya penyandang gelar kerashulan yang menyampaikan wahyu ilahi, tetapi Nabi Muhammad juga seorang politisi ulung dan sosiolog handal untuk mengatur hidup kemasyarakatan pada suatu wilayah ataupun negara.

Banyak bukti sejarah yang menunjukkan, bahwa Nabi Muhammad adalah seorang politisi sekelas Preseden, salah satunya, pada tahun kesebelas masa kenabian, terjadi perjumpaan antara nabi dengan 6 orang dari suku Yastrib dan suku Khazraj. Suku Yastrib berkata kepada nabi, bahwa penduduk ditempatnya sering kali terjadi permusuhan dan pertikaian antar suku, dalam hal ini suku Khazraj dan suku Aus.

Mereka berharap bahwa perang antar suku untuk segera dihentikan melalui peran nabi Muhammad. Setelah itu, mereka berjaji kepada nabi, bahwa mereka tidak akan menyekutukan allah, tidak aka menghiananti nabi, dan akan berjuang bersama nabi. Begitupun nabi Muhammad berjanji untuk hidup dalam perdamaian (Nur Syamsuddin, 2015:2). Perjanjian inilah dikenal dengan kontrak sosial, (baca:politik) antara nabi dan masyarakat setempat. Yang kemudian memilih nabi sebagai pemimpinnya

Sebagai pemimpin, nabi menduduki posisi yang sangat sentral untuk mengatur hidup masyarakat menuju pada arah yang lebih maju, dari segi politik, sosial, ataupun ekonomi. Tonggak kepemimpinan dan visi misi yang begitu revolusionernya, kehadiran nabi di kota Mekkah tidaklah berjalan mulus tanpa hambatan. Masyarakat kapitalis Mekkah yang hidupnya bergelimang harta saat itu dan rakus kekuasaan menolak habis habisan kedatangan nabi Muhammad.

Visi yang Membebaskan

Masyarakat Mekkah berupaya Menolak bukan karena alasan teologis yang mereka khawatirkan, melainkan kedatangan nabi dengan visi membebasan manusia dari ketertindasan dari sikap semaunya tuan terhadap budak, dari kaum kapitalis terhadap orang biasa inilah yang mereka takuti. karena Mereka merasa terancam tidak lagi dapat berbuat untuk meraup keuntungan ekonomi sebanyak banyaknya demi memenuhi kepentingannya (Haidar Bagir, 2017:203). Sebab prinsip ekonomi Islam yang dibawanya bertentangan dengan prinsip ekonomi kapitalis yang diaplikasikan pada kaum pemodal Mekkah.

Salah satu prinsip ekonomi dalam Islam, bahwa setiap tahun harta itu harus dizakatkan. dengan demikian, bahwa konsep ekonomi Islam yang dibawa Nabi menjadi senjata yang jitu untuk meminimalisir bahkan membebaskan manusia dari garis kemiskinannya, karena bagaimanapun juga, sesungguhnya alam raya dan seisinya sejatinya adalah milik Allah yang didalamnya juga terdapat hak orang miskin atas apa yang dimiliki oleh orang kaya (Nurcholis Madjid, 2013:140).

Belum lagi visi nabi Muhammad yang membebaskan perempuan dari belenggu masyarakat Mekkah yang mengistimewakan budaya patriarkhi. Pada masa arab pra Islam (baca: sejarah Islam), kedudukan perempuan ditempatkan dibawah laki laki. Seperti halnya pembagian waritsan, perempuan tidak mendapat bagian. Semuanya diserahkan kepada anak laki laki yang memiliki tenaga yang kuat dan juga dewasa.

Namun datangnya nabi dengan Islam yang dibawanya, kedudukan perempuan diangkat untuk mendapatkan bagian harta waristan. Meskipun saat ini masih banyak dijumpai pendiskriminasian terhadap kaum perempuan oleh khalayak manusia.

Perayaan hari lahir nabi, menjadi lebih bermakna jika kita lebih luas memaknainya, disamping membaca sholawat dengan barzanji untuk memuja namanya agar dapat syafaatnya kelak, namun sikap teladan dan tanggung jawabnya sebagai nabi dan pemimpin yang membebaskan, perlu kita telusuri, agar perayaan maulid nabi bukan dimaknai hanya sebagai ritus ritual saja.

Melainkan dapat dijelma dalam kehidupan nyata, terlebih terhadap pemimpin umat Islam yaitu ulama sebagai pewaris nabi, sudah saatnya memberi bimbingan dan pemahaman yang bertambah sekaligus menyadarkan akan hak dan kewajiban manusia, sehingga nilai universalitas Islam yang dibawa nabi tidak mengalami kemunduran dan kemerosotan yang disebabkan karena ketidak tahuan umat Islam saat ini.