Seluruh pemain dan official TIM SMAN 11 Semarang berfoto bersama seusai menjadi juara satu Turnamen Voli Putri YPK ELSA CUP 2017, di GSG UIN Walisongo, Minggu (17/12). foto: inunk.doc

Justisia.com – Rasa senang dan bahagia memang tidak bisa ditolak ketika meraih sesuatu yang dihasilkan dari semangat kerja keras dan kerja sama, perasaan itu terpatri di aura wajah Pemain voli putri SMA 11 Semarang ketika menjadi Sang Juara liga YPK ELSA CUP, di GSG UIN Walisongo, Minggu (17/12) saat mengalahkan SMK Pancasila Wonogiri di babak final dengan skor 3-0.

Hasil yang diraih bukan tanpa hambatan dan halangan apapun. Untuk menepis halangan tersebut, menurut Kapten Tim SMA 11, harus dilawan dengan membangun rasa percaya diri.

“Permainan kali ini lebih percaya diri, mainnya lebih lepas, meskipun pada set kedua cukup menegangkan karena terjadi salah posisi,” ungkap wanita yang biasa dipanggil Inas oleh rekannya.

Kemenangan pemain merupakan kebanggaan bagi setiap pelatih, begitulah rasa bangga yang ditorehkan oleh Pelatih Tim voli SMA 11 Semarang, Natalia Putri Ayu.

“Senang atas kemenagan ini, meskipun tidak ada persiapan sama sekali, selain waktunya mepet, juga sebagian pemain yang memiliki kualitas tinggi lagi bermain di Kajurnas,” ucap wanita lulusan UNNES tersebut.

Kemenangan lomba voli kali ini, bukan yang pertama bagi SMA 11 Semarang, dengan rasa percaya diri sebagai kunci kesuksesannya, serta doa dipanjatkan oleh setiap pemain.

“Tanpa berbesar hati, kemenangan sudah tidak terhitung kami raih, kuncinya yaitu, percaya diri, berdoa, dan tentu berusaha,” kata seluruh Tim Pemain saat foto bersama.

Lomba voli bukan sebatas mengasah bakat dalam bidang olahraga, namun menumbuhkan sikap saling mengenal satu sama lain, sesuai tujuan diadakannya lomba tersebut, yakni membentuk generasi muda yang toleran dan berprestasi.

Sikap saling toleranpun datang dari tim SMA 11 Semarang, meskipun antara Pelatih dan Pemain berbeda agama, namun menurut salah satu pemain Andini Anggreani Putri, bahwa Pelatih tetap mengajarkan nilai kabaikan pada diri seluruh pemain.

“Meskipun kami dan pelatih berbeda agama, tapi dia mau berbaur dan mengajarkan kami untuk selalu berbuat baik, seperti menyuruh sholat, beribadah, dan lain sebagainya,” tutur satu-satunya wanita dalam satu tim yang mengenakan kerudung.

Wanita yang memang memiliki hobi olahraga voli ini, mengkau kalau mengenakan krudung terisnpirasi dari orang tua, kemudian timbul dari diri sendiri. (red: ink)