Merindu di Sewindu Guru Bangsa

0
260
hadirin saat menyanyikan lagu Indonesia raya Di gedung Balai Kota Semarang, (22/12)

Justisia.com – Suasana haru menyelimuti malam gedung Walikota Semarang, dinginnya malam menepi dan berganti kehangatan rasa persatuan dalam lingkaran Bapak Plurarisme, Abdurrahman Wahid. Pembacaan tahlil menjadi acara pembuka dalam rangka perayaan haul ke 8 tokoh legendaris di Gedung Balai Kota Semarang, tadi malam Sabtu (22/12).

Masyarakat dari setiap elemen antusias menghadiri acara, bukan dari kaum agama Islam saja sebagaimana agama yang dipeluk olehnya, tetapi hadir pula umat agama lain untuk duduk bersama mendoakan dan memberi testimoni tentang sosok pria yang nyentrik dengan statement fenomenalnya “gitu aja kok repot”.

Musikalisasi puisi berpadu mesra dengan alat musik yang didendangkan mengharukan suasana romansa malam perdamaian, kumpulan insan heterogen bersapa syahdu mengalir mengikuti alunan ritme musik pengantar puisi. Bagaikan perbedaan yang mau hidup rukun bertetangga menghargai satu sama lain. Karena menurut lelaki yang disapa Gus Dur ini, perbedaan tidak bisa dibantah keberadaannya.

“Kita banyak berbeda, namun perbedaan bukanlah kemauan kita, kita dilahirkan dari orang Islam bukanlah kemauan kita, begitupun saudara kita yang berbeda agama dengan kita,” ucap Hanif Ismail menirukan apa yang disampaikan Gus Dur saat menyampaikan testimoni.

Sewindu lamanya Indonesia ditinggal oleh pria yang menjunjung nilai kemanusiaan diatas segala galanya, namun nama dan jasanya melekat dihati bangsa ini dari berbagai latar belakang ras, suku maupun agama yang berbeda. Salah satunya warga Tionghoa bernama Halim, meskipun ia tidak pernah bertemu dengan Gus Dur, namun ia mengakui peran besar Gus Dur terhadap tanah airnya.

“Dengan adanya Gus Dur, kita dapat mengenal nasionalisme dan arti kemanusiaan,” tuturnya

Gus Dur memiliki peran berarti yang telah ia torehkan bagi Indonesia dan masyarakatnya yang hidup ditengah keberagaman. Baik orang yang pernah bertatap muka secara langsung dengan Gus Dur ataupun tidak sama sekali bertemu. Hal itu disampaikan oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi melalui Sekrataris Daerah, Adi Tri Hananto.

“Saya tidak pernah bertemu Gus Dur, tapi saya mengakui beliau sosok yang hebat, sosok yang mencintai keberagaman, pembela kaum minoritas, dan sosok yang tidak terima pancasila dilecehkan,” kata surat yang ditulis Wali Kota saat dibacakan oleh yang mewakili, Adi Tri Hananto.

Adi Tri Hananto mengajak, untuk mencintai keberagaman yang ada di Indonesia seperti yang telah diajarkan Gus Dur. Mencintai keberagaman adalah bentuk menghidupkan kembali pemikiran Gus Dur untuk diaplikasikan. “jangan karena tidak ada gus dur, kita tidak mencintai keberagaman,” pungkasnya. (red. Ink/ed: Ruri)