sumber ilustrasi: maulanusantara.files.wordpress.com

Oleh: Erlangga Danny Rimba Pradana

Sebagai fajar penghabis kegelapan, di awal abad kedua puluh, berkilaulah sinarnya dalam dunia gelap Indonesia, seorang “de Grote Leider”yang namanya tiada mungkin dilupakan. Soekarno, putra sang fajar yang telah membawa seluruh rakyat Indonesia dari zaman gelapnya menuju sinarnya kemerdekaan.

Pidatonya yang berapi-api dibarengi jiwa revolusionernya senantiasa membangunkan jiwa-jiwa rakyat Indonesia melawan imperialisme Barat saat itu. Hingga wafatnya pada 1970, beliau tidak pernah lelah menanamkan benih-benih persatuan, membangunkan keyakinan, membangkitkan semangat perlawanan terhadap ketamakan bangsa imperialis Barat.

Bung Karno bukanlah seorang yang dogmatis dan kaku dalam memahami Islam, namun sebaliknya progesif dalam Islam. Tatkala ia masih menjadi mahasiswa, ia menulis artikel yang berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme yang dimuat di Suluh Indonesia Muda pada tahun 1926.

Baginya, Islam ialah alat pemersatu ketiga golongan itu bagi bangsa Indonesia dalam melawan kungkungan imperialisme Barat. Walaupun golongan Islam mengecualikan adanya nasionalisme dan konsep materialisme dalam Marxisme, tetapi Islam mengandung semangat persaudaraan umat seperti sabda Nabi s.a.w.”Sesungguhnya semua manusia itu bersaudara”dan sama-sama menentang adanya praktek imperialisme yang pada kenyataannya mengeksploitasi manusia.

“Islam jang sedjati tidaklah mengandung azas anti-nasionalis; Islam jang sedjati tidaklah bertabiat anti-sosialistis, selama kaum Islamis memusuhi kaum nasionalis jang luas budi dan Marxisme jang benar, selama itulah kaum Islamis tidak berdiri di atas Sirothol Mustaqim; selama itu tidaklah ia bisa mengangkat Islam dari kenistaan dan kerusakan tahadi,”(Soekarno, 1964: 10)

Konsepsi persatuan ketiga golongan inilah yang sebenarnya menjadi gagasan Islam progresif Bung Karno. Dari konsepsi ini, lahirlah gagasan nasionalisme, agama, dan komunisme (Nasakom) ketika ia memimpin pada saat demokrasi terpimpin. Namun konsepsi ini dimanfaatkan oleh golongan komunis sebagai yesman Bung Karno untuk kepentingan politik mereka.

Kedua, Islam harus menerima kemajuan ilmu pengetahuan. Bahkan Bung Karno membuktikan alasan kaum pelajar Indonesia tidak mau belajar Islam sebagai berikut:

“…Islam tidak mau membarengi zaman, dan karena salahnja orang-orang jang memprogandakan Islam; mereka kolot; mereka orthodox; mereka anti-pengetahuan; dan memang tidak berpengetahuan, tachajul, djumud, menjuruh orang bertaqlid sahadja orang “pertjaja” sahadjamesum mbahnja mesum!”(Soekarno, 1964: 337)

Ini menggambarkan betapa progresifnya Islam Bung Karno dengan tidak mengharamkan kemajuan IPTEK yang oleh sebagian kalangan umat Islam dianggap sebagai buah pikiran orang Barat. Tentulah ini tidak baik bagi peradaban umat Islam.

Islam is progress. Progress berarti suatu barang ciptaan baru yang tidak mengcopy barang lama. Umat Islam haruslah menerima segala kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tetapi janganlah umat Islam lupa bahwa mereka tiada boleh bersikap taqlid saja menerima kemajuan dan pengajaran yang mereka peroleh tanpa referensi yang logis. Mereka harus melandasinya dengan pemikiran yang kritis.

Ketiga, menurut Bung Karno, Islam tidak boleh memaksakan suatu sistem pemerintahan yang berdasarkan kekhalifahan pada suatu negara. Menanggapi fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, kita bisa saksikan bahwa dunia Islam benar-benar sterven, kehilangan apinya, jiwanya, dan tiada rohnya. Seperti contoh HTI. Dengan dibungkus dalil agama, mereka menginginkan terbentuknya sistem kekhalifahan di Indonesia. Bung Karno bahkan menolak dengan tegas:

Dalam politik Islam pun, orang … tidak boleh mau mengcopy zamannya “chalifah-chalifah” jang besar. Kenapa toch orang-orang politik Islam disini selamanya mengandjurkan political system “seperti dizamannja chalifah-chalifah jang besar” itu?Tidakkah didalam langkahnja zaman jang lebih dari seribu tahun itu peri-kemanusiaan mendapatkan system-system baru jang lebih sempurna, lebih bidjaksana, lebih tinggi tingkatnja dari dulu?”(Soekarno, 1964: 345)

Sejak 1945, para pendiri bangsa kita telah sepakat bahwa negara kita didirikan atas dasar Pancasila. Bung Karnolah yang pertama kali menawarkan gagasan ini ketika beliau berpidato dalam sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945. Para founding fathers kita melihat fakta kemajemukan bangsa Indonesia dari segi agama, budaya, bahasa maupun adat istiadat bangsa Indonesia, sehingga mereka secara toleran menerima dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Sikap inilah yang menggambarkan watak keislaman Bung Karno yang progresif melampaui zamannya dalam menggali gagasannya, menghasilkan mutiara yang mempresentasikan kemajemukan bangsa Indonesia.

Istilah “Islam Progresif” memang muncul baru-baru ini yang digunakan oleh kaum akademisi untuk melabeli terhadap pemahaman-pemahaman dan aksi-aksi umat Islam yang memperjuangkan humanisme, demokrasi, kesetaraan gender, pembelaan terhadap kaum tertindas, dan pluralisme. Ia muncul sebagai bentuk ketidakpuasan yang menekankan pada kritik-kritik terhadap perilaku umat Islam yang kurang sesuai dengan nilai-nilai humanis dan kemajuan zaman.[1]

Di satu sisi, gerakan Islam progresif lebih memposisikan diri pada gerakan modernis yang lebih menitikberatkan pada kritik terhadap tradisi umat Islam yang bertentangan dengan aspek humanis. Di sisi lain, ia juga bersikap kritis terhadap modernitas yang bertentangan dengan keadilan. Sehingga kalau boleh dikatakan Islam progresif memiliki kecenderungan ke arah kiri.

Lalu kenapa dipilih namaIslam progresif, bukan Kiri Islam? Hal tersebut bukan berarti penolakan terhadap istilah kiri. Istilah inilah yang dibela oleh gerakan Islam progresif dalam merepresentasikan makna revolusioner, oposan, dan perubahan ke arah yang lebih baik; menghadapi kesewenang-wenangan politis, eksploitasi kelas sosial dan tidak mengenal pembedaan gender.[2]

Istilah Kiri telah identik dengan percobaan Marxis yang gagal dan telah dicemari oleh praktek-praktek yang beraneka ragam hingga kehilangan kejernihan maknanya. Oleh karena itulah istilah kiri tidak dipilih untuk menghindari propaganda menyesatkan yang berusaha memadamkan gerakan dengan pelabelan Marxisme.

Demikianlah sebagian pemikiran Bung Karno yang menggambarkan wataknya sebagai seorang Islam yang progresif dan revolusioner. Pemikiran-pemikirannya perlu kita bumikan bagi umat Islam di Indonesia agar Islam menemukan rohnya kembali sehingga terwarisilah apinya Islam itu, bukan abunya. Tugas kita ialah mempelajari, mengkaji, dan merenunginya secara seksama demi kemajuan umat Islam di Indonesia.

Daftar Pustaka

Chapra, M. Umer. 2010 Peradaban Muslim. Terj. Ikhwan Abidin Basri cetakan ke-1. Jakarta: Amzah.

Jursyi, Shalahudin. 2004. Membumikan Islam Progresif. Terj. M. Aunul Abied Shah cetakan ke-1. Jakarta: Paramadina.

Safi, Omid. What is Progressive Islam?. Diambil dari: www.muslimwakeup.com. (Diakses pada 11 Oktober 2017).

Soekarno. 1964. Dibawah Bendera Revolusi jilid 1 cet. ke-3. Djakarta: Panitya Penerbit.

Stoddard, Lothrop. 1966. Dunia Baru Islam. Terj. Panitia Penerbit. Djakarta: Panitia Penerbit

 

 

[1] Lihat Omid Safi, What is Progressive Islam?, Diambil dari: www.muslimwakeup.com, (11 Oktober 2017)

[2] Shalahudin Jursyi, Membumikan Islam Progresif, (Jakarta: Paramadina, 2004), hlm.139