Feminisme Bukan Untuk Memarginalkan Kaum Adam

0
392
sumber ilustrasi: http://lakilakibaru.or.id

Oleh: Adetya Pramandira

Selama berabad-abad lamanya peradaban manusia telah membuat gambaran mengenai perempuan yang ambigu dan paradoks. Perempuan selalu dijunjung, disanjung dan dianggap sebagai representasi dari sifat ke Maha Indahan Tuhan, namun dilain sisi, perempuan direndahkan, dianggaap pembawa sial, dan juga dianggaap mahluk lemah yang hanya menjadi pelengkap kehidupan. Tubuh perempuan dinilai sebagai benda yang penuh dengan daya pesona dan kesenangan, tapi dalam saat yang sama ia juga dieksploitasi demi hasrat diri dan keuntungan.

Berkaitan dengan hal tersebut, budaya patriarki memainkan peran dalam munculnya pandangan terhadap konstruksi antara laki-laki dan perempuan. Di negara barat, wilayah Eropa barat bahkan sampai ke Indonesia, budaya dan ideologi patriarki masih sangat kental mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat. Budaya patriarki yang selalu menganggap bahwa laki-laki berada di atas perempuan dan laki-laki sebagai pemegang kendali atas perempuan nampaknya membawa dampak malapetaka terhadap eksistensi perempuan. Perempuan menjadi tersubordinasi dan semakin termarginalkan.

Dalam perkembangannya, patriarkhisme tengah menghadapi tantangan-tantangan dari kebudayaan modern yang mendasarkan diri terhadap demokrasi dan hak asasi manusia. Demokrasi meniscayakan sistem yang tidak ada struktur yang hirarkis, sistem kehidupan yang sama bagi setiap individu dan berlaku sama bagi semuanya. Sedangkan hak asasi manusia menuntut dihapuskanya praktik-praktik diskriminasi terhadap semua makhluq termasuk perempuan di dalamnya.

Berdasarkan pandangan tersebut maka munculah gerakan-gerakan yang ingin membebaskan perempuan dari belenggu patriarkhisme, seperti gerakan kesetaraan gender, yang biasa dikenal dengan feminisme. Pada kesempatan kali ini kita tidak akan membahas secara Panjang lebar, karena akan memerlukan waktu yang lama. Pembahasan kali ini hanya terfokus sebatas pada isu feminisme yang dianggap turut memarginalkan laki-laki.

Sejarah Gerakan Feminisme

Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi dan kesamaan peran atas laki-laki dan perempuan. Feminisme merupakan gerakan yang bukan hanya sekedar ingin mengangkat perempuan kepermukaan dan diakui keberadaanya untuk menyamakan kasta dengan laki-laki, melainkan lebih jauh lagi peran kaum feminis adalah untuk melepaskan perempuan dari belenggu-belenggu budaya patriarki.

Lebih dari itu adanya feminisme bukanlah untuk menyalahi kodrat perempuan. Kodrat perempuan pada dasarnya adalah sesuatu yang dibawa atau dimiliki perempuan sejak ia dilahirkan. Semisal perempuan menstruasi, mempunyai kelenjaar susu, bisa melahirkan, dan lain sebagainya. Selebihnya seperti kewajibaan perempuan mengurus rumah tangga, perempuan dilarang menjadi pemimpin, perempuan dianggap sebagai penggoda, itu hanyalah doktrin dari pada budaya patriarki.

Dalam kacamata sejarah, gerakan feminisme lahir dari awal kebangkitan perempuan untuk menggeser status sebagai makhluk kedua setelah laki-laki di dunia ini. Gerakan feminisme berkembang pada abad pertengahan Eropa, yaitu pada abad 16-18 M. Pada periode awal tersebut perempuan dianggap tidak rasional (yang selalu menggunakan perasaan sebagai tolak ukur). Lebih mengenaskan perempuan dianggap sebagai pencari nafkah utama dan laki-laki hanya sebagai pelindung. Namun baru pada abad ke-19 kata feminisme ditemukan oleh seorang sosialis berkebangsaan Perancis, bernama Charles Fourier.

Gerakan feminisme gelombang pertama secara luas diketahui terjadi antara tahun 1880 dan 1920. Gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran Mary Wollstonecraft lewat bukunya yang berjudul Vindication of the Rights of Women. Feminisme gelombang pertama ini memfokuskan perhatian untuk memperoleh hak-hak politik, dimana mereka menuntut hak suara dalam pemilihan umum. Selain itu, mereka juga menuntut akses pendidikan, kesempatan ekonomi yang setara bagi kaum perempuan, memiliki hak pernikahan dan cerai. Kaum feminisme berargumentasi bahwa perempuan memiliki kapasitas rasio yang sama dengan laki-laki.

Gerakan feminisme sempat melemah ketika terjadi perang dunia pertama dan kedua. Gerakan ini menguat kembali pada akhir tahun 1960an dan awal tahun 1970an. Meskipun menguat kembali pada akhir tahun 1960an, kemudian gelombang kedua muncul pada tahun 1949, hal ini ditandai dengan munculnya publikasi Simone de Beauvoir yang berjudul Second Sex. Pada fase ini titik fokus gerakan feminisme adalah persamaan dalam lapangan pekerjaan, baik dalam mendapatkan upah maupun mendapatkan kedudukan dalam tempat kerja, tuntutan dalam pendidikan, dan masalah pekerjaan rumah tangga.

Gerakan feminisme berlanjut sampai muncul gelombang ketiga pada awal tahun 1990an. Pada gelombang ketiga, gerakan ini memfokuskan sesuatu yang tidak terdapat pada tuntutan gelombang kedua. Gerakan ini masih melihat adanya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam ras, etnis atau bangsa tertentu. Mereka menuntut kesetaraan mendapatkan hak antara orang kulit putih dan hitam, karena dalam sejarah, perempuan kulit hitam lebih menderita daripada perempuan kulit putih.

Feminisme Menuntut Keadilan

Banyak orang berfikir bahwa adanya feminisme adalah untuk memarginalkan atau meminggirkan kaum laki-laki. Feminisme bukanlah perjuangan emansipasi perempuan di hadapan laki-laki saja, karena mereka juga sadar bahwa laki-laki (terutama kaum ploretar) juga mengalami penderitaan yang diakibatkan oleh dominasi, eksploitasi serta represi dari sistem yang tidak adil. Pada intinya gerakan feminisme adalah perjuangan dalam rangka mentransformasikan sistem dan struktur yang tidak adil, menuju sistem yang adil bagi perempuan dan laki-laki.

Dalam perkembangnnya tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan feminisme tidak hanya kaum perempuan, melainkan laki-laki bisa menjadi feminis. Keterlibatan laki-laki dalam feminisme sangat diperlukan. Bagaimanapun juga perbedaan laki-laki dan perempuan adalah suatu keindahan yang akan terwujud kesejahteraan bila digandeng dengan prinsip keadilan dan kesetaraan.

Namun dalam perkembangannya, feminis laki-laki masih sangatlah minim. Hal ini dipengaruhi karena masih kuatnya anggapan bahwa gerakan feminisme hanya menjadi tanggungjawab dan wilayah kerja perempuan. Hal ini tentunya menyulitkan gerakan feminis yang sebenarnya ditunjukan untuk mewujudkan keadilan bagi semua kalangan.

Untuk mencapai kesetaraan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan memang harus melalui deskontruksi maskulinitas, namun hal ini bukan berarti menjatuhkan ataupun merendahkan derajat laki-laki. Feminisme ada ialah untuk memperbaiki relasi gender agar tercipta keseimbangan dan keadilan bagi umat manusia.