Desember: Kelahiran Dua Cahaya Pembebasan Umat

0
421
Sumber ilustrasi: mahad-assalafy.com

Oleh: Ainul Yaqin

Bulan Desember nampaknya bulan yang tidak kalah mulia dibanding dengan bulan Ramadhan. Jika bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan, kenikmatan, serta penuh ampunan. Lain halnya dengan bulan Desember, yang bisa dikatakan sebagai bulan penuh dengan kebahagiaan dan awal lahirnya pembebasan.

Mungkin para pembaca bertanya-tanya kenapa bulan Desember dinyatakan demikian? Mungkin pembaca bisa melihat dan mencermati kalender bulan Desember terlebih dahulu sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut jika pembaca masih penasaran.

Ya, dalam kalender tertera dua tanggal merah yang sangat mencolok di antara warna hitam lainnya. Tidak hanya warna merahnya saja yang mencolok, tetapi peringatannya pun ditunggu-tunggu dan disanjung-sanjung oleh dua umat besar dunia. Lahirnya Isa Al-Masih yang kemudian diperingatinya dengan Natal dan lahirnya Nabi Muhammad SAW yang dirayakan sebagai peringatan Maulid Nabi.

Peristiwa Kelahiran

Setiap anak yang terlahir ke dunia ini sudah pasti mempunyai ayah dan ibu. Seorang anak tidak mungkin lahir tanpa ayah atau ibu. Memang ada anak yang lahir di luar pernikahan. Namun demikian, anak tersebut tentunya mempunyai orang tua biologis. Mustahil seorang anak lahir tanpa orang tua biologis.

Tetapi, hanya ada satu pribadi yang pernah hadir di muka bumi ini tanpa seorang ayah, yaitu Isa Al-Masih. Kelahiran-Nya yang ajaib membuktikan bahwa bagi Allah maha Kuasa, tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Isa Al-Masih, Kalimat Allah, lahir dengan ajaib ke dunia. Kelahiran Isa Al-Masih yang ajaib ini dicatat dalam Al-Quran Surat Maryam (19):20, sebagaimana berikut:

Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

Hal serupa juga terdapat dalam Injil, “Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?”(Injil Rasul Lukas 1:34)

Natal sendiri berasal dari bahasa Latin yang berarti lahir. Peringatan Natal baru tercetus antara tahun 325-354 oleh Paus Liberius, yang ditetapkan pada tanggal 25 Desember yang kemudian oleh Kaisar Koonstantin disahkan sebagai kelahiran Yesus.

Perayaan Natal pada tanggal 25 Desember yang diyakini sebagai hari kelahiran Yesus, sesuai yang diberitakan oleh Bibel sebagaimana dalam Lucas 2:1-8 tentang kelahiran Yesus, Matius 2:1,10,11. Keduanya menolak kelahiran Yesus tanggal 25 Desember. Penggambaran kelahiran yang ditandai dengan bintang-bintang di langit dan gembala yang sedang menjaaga kawanan domba yang dilepas bebas di padang rumput beratapkan langit dengan bintang-bintangnya yang gemerlapan, menunjukkan kondisi musim panas sehingga gembala berdiam di padang rumput dengan domba-domba mereka di malam hari untuk menghindari sengatan matahari.

Hal ini juga diungkapkan oleh Al-Quran dalam Surat Maryam (19):23-25 yang berbunyi:“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: “Aduhai, Alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan”. Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: “Janganlah kamu bersedih hati, Sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu”.

Jadi, menurut Al-Quran, Nabi Isa A.S (Yesus) dilahirkan pada musim panas disaat pohon-pohon kurma berbuah dengan lebatnya. Untuk itu perlu kita cermati pendapat sarjana Kristen Dr. Arthus S. Peak, dalam Commentary on the Bible seperti yang dikutip buku Bible dalam Timbangan oleh Soleh A. Nahdi (hal. 23): “Yesus lahir dalam bulan Elul” (Bulan Yahudi), bersamaan dengan bulan Agustus-September. Sementara itu Uskup Barns dalam Rise of Christianity berpendapat bahwa, “Kepercayaan, bahwa 25 Desember adalah hari lahir Yesus yang pasti tidak ada buktinya. Kalau kita percaya cerita Lukas tetang hari lahir itu di mana gembala-gembala waktu malam menjaga di aham di dekat Behtelehem. Maka hari lahir Yesus tentu tidak di musim dingin di saat suhu di negeri pegunungan Yudea amat rendah sekali sehingga salju merupakan hal yang tidak mustahil. Setelah terjadi banyak perbantahan tampaknya hari lahir terseut diterima penetapannya kira-kira tahun 200 Masehi”.

Sedangkan sejarah Nabi Muhammad SAW sendiri, para sejarawan mengatakan bahwa nama Muhammad tidak biasa dipakai di kalangan bangsa Arab, hanya tiga orang sebelum Rasulullah yang menggunakan namanya. Ibnu Faurak menyebutkan, mereka adalah Muhammad bin Sufyan bin Mujasyi (nenek moyang al-Farazdaq sang penyair), Muhammad bin Uhaihah bin al-Julah bin al-Harits bin Jahjaba bin Kulfah bin Auf bin Amr bin Auf bin Malik bin al-Aus, dan Muhammad bin Humran bin Rabiah. Dalam al-Raudl al-Unuf, Imam al-Suhaili menjelaskan:

لَا يُعْرَفُ فِي الْعَرَبِ مَنْ تَسَمَّي بِهَذَا الْإِسْمِ قَبْلَهُ-صلي الله عليه وسلم-إِلَّا ثَلَاثَةٌ طَمِعَ آبَاؤُهُمْ حِيْنَ سَمِعُوا بِذِكْرِ مُحَمَّدٍ وَيَقْرَبُ زَمَانُهُ وَأَنَّهُ يُبْعَثُ فِي الْحِجَازِ….

“Tidak diketahui di kalangan Arab seseorang yang menggunakan nama ini (Muhammad) sebelum Rasulullah SAW kecuali tiga orang yang ayahnya menjadi tamak ketika mendengar kenabian Muhammad, kedekatan masanya dan bahwa dia diutus di Hijaz…..”(Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 151).

Menurut Ibnu Faurak, tiga orang itu telah mendatangi sebagian kerajaan yang memiliki pengetahuan tentang kitab-kitab agama terdahulu dan mengabarkan kepada mereka kehadiran seorang nabi beserta namanya yang membuat mereka berwasiat kepada keluarganya, “in wulida lahu dzakar an yusammiyahu muhammadan, fa faal dzalika”-jika dilahirkan seorang anak laki-laki, namai dia Muhammad, kemudian mereka pun melakukannya.” (Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 152). Mengenai asal nama Muhammad, Imam al-Suhaili mengemukakan:

وَأَمَّا مُحَمَّدٌ فَمَنْقُوْلٌ مِنْ صِفَّةٍ أَيْضًا, وَهُوَ فِي مَعْنَي مَحْمُوْدٌ. وَلَكِنْ فِيْهِ مَعْنَي الْمُبَالَغَةِ وَالتِّكْرَارِ, فَالْمُحَمَّدُ هُوَ الَّذِي حُمِدَ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ كَمَا أَنَّ الْمُكَرَّمَ مَنْ أُكْرِمَ مَرَّةً بَعْدَ مَرَّةٍ

Adapun nama Muhammad diambil dari isim sifat juga, maknanya adalah Mahmud (yang dipuji). Akan tetapi, di dalamnya mengandung makna mubalaghah (menunjukkan arti sangat) dan tikrar (terus-menerus), dengan demikian Muhammad adalah orang yang dipuji secara terus menerus, seperi halnya orang yang dimuliakan, yaitu orang yang dimuliakan secara terus-menerus.”(Abdurrahman al-Suhaili, juz 2, hlm 153).

Terjadi perbedaan pendapat tentang kapan Rasulullah SAW lahir. Namun demikian, pendapat yang diketahui secara luas bahwa Rasulullah lahir di hari Senin, tanggal 12 Rabiul Awwal, tahun GajahImam al-Kinani menshahihkan pendapat ini. (Imam Izuddin bin Badruddin al-Kinani, al-Mukhtashar al-Kabir fi Sirah al-Rasul, Amman: Darul Basyir, 1993, hlm 22). Hal ini didasarkan pada riwayat Imam Ibnu Ishaq dari Sayyidina Ibnu Abbas:

وُلِدَ رَسُولُ اللَّهِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ، لِاثْنَتَيْ عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ شَهْرِ رَبِيع الْأَوَّلِ، عَام الْفِيلِ

“Rasulullah dilahirkan di hari Senin, tanggal dua belas di malam yang tenang pada bulan Rabiul Awwal, Tahun Gajah.”(Imam Ibnu Hisyam, juz 1, hlm 183).

Sang Revolusioner

Kehadiran para Nabi yang membawa suatu ajaran (agama) sangatlah revolusioner dalam arti pembebasan. Salah satunya adalah kehadiran Muhammad yang merupakan teladan bagi kaum tertindas yang berhadapan dengan konglomerat (elit Quraisy) dalam perjuangan menegakkan masyarakat yang bebas, penuh kasih, persaudaraan dan egaliter.

Risalah yang diturunkan kepada Muhammad berkaitan dengan penyeruan tauhid, baik dalam pengertian membebaskan manusia dari penghambaan selain Tuhan penciptanya, juga penghambaan dalam arti hancurnya solidaritas sosial (saat itu semangat individualisme muncul sangat kuat akibat serakahnya manusia dalam menumpuk harta untuk mengukuhkan status quo). Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran utamanya adalah kaum musyrikin, terutama elit dan pedagang Quraisy. Masyarakat Makkah dalam wujud teologis adalah penyembah berhala, dan dalam wujud sosialnya merupakan bangunan masyarakat yang secara ekonomi, sosial dan politik dalam kendali dan hegemoni elit Quraisy yang eksploitatif. Pesan-pesan yang dibawa oleh Muhammad adalah untuk membongkar sistem kepercayaan palsu dan sistem sosial hegemonik Quraisy.

Di sini, misi utama Islam adalah pembebasan, yaitu membebaskan manusia dari segala pengekangan, penindasan, ketidakadilan, kepercayaan palsu dan semua yang menghambat manusia untuk hidup sesuai dengan fitrahnya. Sehingga secara eksistensial, kehadiran Islam hendak mengembalikan manusia kepada perannya, khalifah Allah di muka bumi.

Apabila di Makkah misi utama Nabi terkonsentrasi pada pembebasan (liberasi), maka di Madinah lebih pada pembangunan dan memperkuat solidaritas sosial yang lebih transenden dan mempertemukan mereka dengan latar belakang sosial yang berbeda. Di sini, Nabi menyatukan kaum Muhajirin, Anshor, Yahudi, dan Nashrani dengan sebuah kontrak sosial yang dikenal dengan “Piagam Madinah.” Menurut Robert N. Bellah dalam bukunya “Beyond Belief”(Paramadina. 2000), kontrak sosial yang dibentuk oleh Muhammad merupakan model kontrak modern dan demokratis pertama dalam sejarah umat manusia. Di bawah kepemimpinan Muhammad, masyarakat Arab telah membuat lompatan jauh ke depan dalam kecanggihan sosial dan kapasitas politik.

Model Makkah dan Madinah yang terdiri dari konsep pembebasan dan pembangunan inilah dapat dijadikan salah satu contoh bagaimana Islam menjadi spirit perubahan sosial. Untuk mencapai perubahan itu diperlukan kesadaran kolektif mengenai masalah yang dihadapi, dan diharapkan dapat membawa subjek pada kesadaran akan situasinya. Kesadaran tersebut akan membawa pada kepercayaan bahwa suatu realitas bisa diubah. Hal ini dikarenakan realitas sosial merupakan realitas terlibatnya manusia dalam proses sejarah.

Menurut penulis, kiranya Muhammad SAW bukan hanya sekedar insan pembebas saja, melainkan juga sebagai insan penentang kemungkaran. Al-quran sendiri dengan jelas dan tegas menyerukan perlawanan kepada segala bentuk kezaliman yang ada di bumi. Hal ini sebagaimana yang tertuang dalam surat an-Nisa: 75, “Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”.

Dalam hadis Nabi SAW juga telah disebutkan tuntutan untuk melakukan perubahan dan perlawanan terhadap kelaliman, “Barang siapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan. Jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman”(Shahih Muslim: 70).

Di sini perlu kiranya ditekankan pula bahwa dalam sejarah Islam sendiri sebagian besar as-sabiqun al-awaalun (pemeluk Islam generasi pertama) tidaklah berasal dari golongan elit di masyarakat. Di antaranya adalah Bilal bin Rabah dan Ammar bin Yasir yang berasal dari golongan budak. Nabi Muhammad SAW sendiri meskipun berasal dari kabilah Quraisy, kabilah yang terpandang di antara kabilah-kabilah lainnya, tidak dapat dikatakan berasal dari keluarga kaya. Banyaknya kelas proletar memeluk Islam dikarenakan mereka yakin Islam akan membawa perubahan dalam masyarakat. Islam akan membawa masyarakat kepada kesetaraan dalam segala aspek. Karena itulah, penolakan kaum musyrik terhadap tauhid tidak hanya karena enggan meninggalkan agama leluhurnya saja, namun juga karena adanya ketakutan akan terjadinya revolusi sosial yang dapat meruntuhkan tatanan sosial yang ada: derajat tuan borjuis akan sama dengan budaknya yang proletar, kedudukan laki-laki akan sama dengan perempuan.

Kondisi yang sama juga ditampilkan oleh Yesus Kristus. Kehadiran Yesus mengubah tatanan sosial masyarakat. Kaum Zelot menentang Yesus sebagai raja pembebas seperti yang dinubuatkan Nabi Yesaya. Yesus anak tukang kayu dari Nasaret tidak mewakili gambaran seorang raja pembebas yang ada di benak kaum Zelot. Yesus dianggap menista Taurat yang dijunjung tinggi kaum Farisi. Oleh kerajaan, Yesus adalah pemberontak. Sebagai konsekuensinya, Yesus disalib[1], suatu hukuman terkutuk saat itu. Semasa hidupnya, Yesus mengubah tatanan sosial masyarakat yang kuat lagi “seimbang”. Dia menerima “pendosa” (pemungut cukai, pelacur, orang Samari). Ia menyembuhkan orang buta, membangkitkan orang mati, mengusir setan, serta berkunjung ke rumah pemungut cukai. Yesus menentang pengilahian kaisar.

Dalam Lukas 14: 26, Yesus sendiri berkata bahwa “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” Dari nats ini kita boleh mengambil nilai bahwa perlunya membangun komunitas egalitarian atau kesederajatan, di mana ikatan-ikatan primordial menjadi hal yang sekunder. Ide egaliter tersebut yang dibangun Yesus untuk merombak tatanan sosial Yahudi yang cenderung tidak adil. Dengan semangat egaliter, penindasan kolektif bisa dilawan secara kolektif pula.

Yesus sangat membenci hierarki. Ingatlah Dia bersabda: “Barang siapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, dia akan ditinggikan”. (Mat. 23:11). Bagi Yesus semua manusia setara. Tidak boleh ada kelas-kelas yang menempatkan manusia ke dalam lapisan-lapisan tinggi-rendah sehingga yang tinggi bisa memeras si rendahan. Sama rata sama rasa, itulah ajaran Yesus. Mengapa penghotbah tidak menghotbahkan ayat ini? Karena mereka teruntungkan ole keadaan.

Peristiwa Jumat Agung (Peringatan Wafatnya Yesus Kristus) setiap kali diperingati dengan demikian menjadi penanda bahwa Yesus Kristus telah selesai menjalani bagiannya dan membuka jalan perlawanan lewat tindakan akseleratifnya di kayu salib. Alih-alih menjadi lambang kekalahan, salib telah menjadi katalisator kebangkitan gerakan di tengah-tengah segala kemustahilan karena himpitan imperium yang ganas. Peristiwa Jumat Agung dan Paskah menjadi undangan bagi kita bergabung di dalam gerakan revolusi kontra imperium yang telah terlebih dahulu diteladankan Yesus .

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”-Lukas 9:23

Dari analisa historis, sungguh sulit untuk mengingkari peran dan jasa Muhammad serta Yesus sebagai “aktor” sejarah yang telah meletakkan dasar moral dan visi kemanusiaan, yang di kemudian hari menjadi acuan perilaku miliaran umat beragama. Bagaimana mereka dengan bangganya menindas, menganiaya, bahkan merampas dan membunuh sesama makhluk Tuhan, sembari berteriak bahwa ia meneladani Muhammad dan Yesus? Bagaimana seseorang yang menjadikan kedua tokoh tersebut sebagai acuan bisa melontarkan kebencian, provokasi dan pelecehan terhadap agama lainnya?

Penulis menyimpulkan bahwa bilamana sosialisme secara longgar diartikan sebagai faham yang mengutamakan keadilan dan perasaan antar manusia, dan bila sosialisme adalah faham yang menghendaki dihapusnya praktek-praktek penghisapan manusia oleh manusia dan dijadikan manusia tanpa sekat-sekat kelas antara kamu pemilik dan orang tak-berpunya maka tidak perlu ahli tafsir lulusan doktor Teologi untuk sampai pada kesimpulan bahwa Muhammad SAW dan Yesus adalah sosialis.

Masih tersimpankah “ruh” suri tauladan Muhammad SAW dan Yesus dalam diri kita yang mengaku sebagai umat beragama? Atau jangan-jangan semuanya telah melebur bersama dengan segala nafsu akan keserakahan kita terhadap dunia? Silahkan anda merenungkannya masing-masing.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan perayaan Natal bersama.

 

[1] Bentuk salib, yang direpresentasikan dengan huruf T, mulai digunakan sebagai meterai atau simbol Kekristenan Awal sejak abad ke-2. Pada akhir abad ke-2, sebagaimana tertulis dalam Octavius, Marcus Minucius Felix menolak klaim yang diajukan para pencelanya kalau orang Kristen menyembah atau memuja salib. Salib (crucifix, stauros dalam bahasa Yunani) pada periode tersebut direpresentasikan dengan huruf T. Tertulianus yang hidup sezaman dengan Klemens juga menolak tuduhan bahwa orang Kristen adalah crucis religiosi (yaitu pemuja/penyembah tiang gantungan), dan membalikkan tuduhan tersebut dengan cara mempersamakan penyembahan berhala pagan dengan penyembahan tiang pancang atau tonggak. Dalam bukunya De Corona, ditulis tahun 204, Tertullian menceritakan sudah adanya tradisi orang-orang Kristen berulang kali menggerakkan tangan membuat tanda salib di kening mereka. Meskipun salib telah dikenal sejak awal mula Kekristenan, krusifiks baru muncul pada abad ke-5. Pakar dan sejarawan Medieval Perancis M. M. Davy telah menjabarkan secara rinci Simbolisme Romawi (Romanesque Symbolism) berkaitan kemunculan krusifiks ini dalam perkembangan Abad Pertengahan di Eropa Barat.