sumber ilustrasi: 3.bp.blogspot.com

Oleh: Farikha Khoirunnisa’

Indonesia adalah negara kaya akan budaya. Hal ini dibuktikan dengan keanekaragaman suku bangsa, ras, dan agama. Banyaknya perbedaan ini tak membuat masyarakat Indonesia terpecah belah, bahkan dengan adanya perbedaan ini membuat masyarakat dapat bersatu tepat saat proklamasi kemerdekaan.

Karena banyaknya perbedaan antar masyarakat, hal ini membuat masyarakat Indonesia harus memilliki tenggang rasa yang kuat antar sesama. Seperti halnya pada saat masyarakat agama Islam mengadakan Sholat Idul Fitri berjamaah di Masjid Istiqlal, yang secara kebetulan Gereja Katederal juga bersebelahan dengan Istiqlal, sehingga orang Kristen ikut mengawal keamanan di area Masjid.

Hal ini menjadi bukti adanya rasa toleransi antar agama di Indonesia. Suatu hal yang saat ini sangat di gertakkan oleh pemerintah sampai-sampai toleransi sendiri dimasukkan pada kurikulum sekolah. Agar supaya masyarakat Indonesia dapat belajar menghargai perbedaan kita kepada siapa saja, walaupun orang tersebut berbeda agama.

Kerukunan Berbangsa yang selama ini kita bangun, seakan dicemari dengan adanya permusuhan yang mengatasnamakan agama. Mereka menganggap kepercayaan dan keyakinan dari salah satu mereka yang paling benar. Hal ini memicu peperangan dan retaknya hubungan antar agama.

Seperti halnya kasus etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar. Konflik ini menyebabkan terjadinya berbagai serangan dari pihak keamanan Budha dan milisi Rohingya. Para pengungsi menuduh aparat keamanan Myanmar dan kelompok militan Budha membakar desa mereka. Tuduhan itu menciptakan bentrokan antar masyarakat dan pihak sipil yang sampai saat ini tak kunjung reda. Etnis Rohingya pun mengungsi dimana-mana dan termasuk hingga di Indonesia, Aceh tepatnya.

Perpecahan agama itu diperkeruh oleh konflik yang ada Seperti di Poso, Sulawesi Selatan. Perseteruan antara umat Islam dan umat Nasrani yang dari tahun 1998 sampai tahun 2000 yang kunjung membaik. Dan akhirnya pada tanggal 20 Desember 2001 diadakannya Perjanjian Malino atas inisiatif Jusuf Kalla. Tapi hingga kini masih belom dapat teratasi.

Apabila kita melihat negara Indonesia sendiri, Indonesia termasuk negara majemuk. Bahkan masyarakat Indonesia dengan ideologi Pancasila yang pada sila pertama menyatakan Ketuhanan Yang Maha Esa, namun masyarakat belum memahami makna sila pertama ini.

Makna sila pertama ini sendiri adalah menjamin keamanan masyarakat Indonesia dalam memeluk agama mereka masing-masing dan beribadah menurut agamanya. Sehingga toleransi amat ditekanka, untuk menciptakan suasan tidak ada permusuhan antar agama.

Walau di Indonesia mayoritas Islam, namun bukan berarti Indonesia dapat disebut Negara Islam. Tetapi terkadang masyarakat awam salah kaprah hingga mengatakan bahwa karena Indonesia mayoritas Islam, sehingga pemerintahan juga harus menerapkan hukum-hukum Islam.

Padahal didalam Islam sendiri juga ada perbedaaan antar umat. Seperti contoh sederhana pada pondok pesantren satu dengan yang lain dalam mengadakan Dzibaan (tradisi pesantren), pasti ada perbedaan alur dalam pembawaannya. Sehingga apabila santri pondok A pindah ke pondok B pastilah mengalami kesulitan ketika Dzibaan.

Lebih luas lagi, seperti kaum minoritas Cina yang bermukim di Indonesia. Hal ini membuat orang-orang Cina merasa terkucilkan karena dikelilingi oleh umat Islam. Namun pada masa pemerintahan era Gus Dur, beliau mengangkat keberadakan etnis Cina dan mengakui kebudayaan Tionghoa di Indonesia. Perkembangan pesat agama Konghucu tanpa ada kekangan dari pihak mana pun. Gus Dur memberi perlindungan kepada kepercayaan atau keyakinan di luar aliran agam-agama besar yang disebtkan dalam konstitusi.

Ada juga konflik yang disebabkan karena suatu ucapan yang menurut suatu kaum menindas kepercayaan atau keyakinan mereka. Semisalnya peristiwa Ahok yang mengatakan terang-terangan prihal kepemimpinan non muslim.

Tak tanggung-tanggung, Ahok pun menyinggung dalil Al-Quran surah Al-Maidah Ayat 51, yang menyulut emosi para muslim di Indonesia menganggap pidato Ahok sebagai “Penistaan Terhadap Agama”. Sampai-sampai terjadinya demo besar-besaran yang dihadiri oleh berbagai macam Ormas (Organisasi masyarakat) se-Indonesia di depan Bundaran HI.

Hal ini memicu perpecahan diantara masyarakat Indonesia. Padahal pahlawan terdahulu dengan susah payah menyatukan pulau demi pulau agar menjadi negara kesatuan. Karena adanya masalah harus diselesaikan dengan baik, bukan menjadi suatu aksi brutal yang memprihatikan.

Akhirnya demo dimana-mana menggambarkan kurangnya komunikasi antara masyarakat dan pemerintah. Apabila adanya suatu masalah yang menyangkut toleransi antar agama, seharusnya dari pemerintah menyelasaikan permaalahan tersebut dari berbagai pihak. Sehingga masyarakat dapat memahami dan menerima hasil peradilan dengan baik apabila di jelaskan kepada masyarakat luas.

Dengan melihat perbedaan yang ada di Indonesia, seharusnya masyarakat saling memahami karakter orang Indonesia yang berbeda-beda dan menghormati perbedaan pendapat, dan saling menghargai pendapat orang lain dan tidak mencampuri urusan yang bukan menjadi urusan kita, seperti hak dalam beragama.

Dengan adanya toleransi, kita dapat menjadikan Indonesia menjadi negara yang mempunyai tenggang rasa yang kuat antar sesama. Agar tidak ada lagi pertengkaran dan permusuhan yang disebabkan oleh perbedaan. Agama ada untuk menciptakan perdamaian dan persatuan antar umat, bukan malahan saling menjatuhkan dan menyakiti.