Revitalisasi Progresifitas Kajian Fikih Santri Salaf

0
496
Sumber ilustrasi: bp.blogspot.com

Oleh: Ali Masruri

Melihat kenyataan hari ini, di mana saya mulai mengenal banyak persoalan dan istilah yang bermunculan pada dunia era post-modern. Saya jadi berpikir bahwa seharusnya para santri yang konsen di dalam dunia Islam ala pesantren mulai harus diperkenalkan dengan kenyataan persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar mereka yang semakin aktual.

Saat ini santer diperbincangkan di kalangan intelektual Islam kontemporer seperti Abdullah Saeed yakni “Muslim Progresif” Saeed mengatakan “muslim kontemporer harus dapat menyelesaikan persoalan hidupnya dengan menggunakan metodologi keilmuan kontemporer sekaligus melakukan reinterpretasi nash-nash atau konstruksi pemikiran muslim masa lampau”.

Persoalan diksi dalam sebuah istilah sudah sangat membingungkan bagi kalangan santri salaf, apa itu reinterpretasi, dan juga, siapa itu Abdullah Saeed? Nama dan istilah tersebut masih kurang familiar ditelingan kalangan santri salaf (klasik).

Santri memang bisa dikatakan terkesan tertutup (eksklusif) terhadap persoalan aktual yang viral dan berkembang, serta kurangnya perbendaharaan istilah kekinian yang biasa dikatakan oleh para generasi milenial. Penting tidak penting, problem semacam ini cukup menggangu dalam proses kelancaran sebuah pendalaman ilmu, terkait dengan sebuah penelitian untuk menghasilkan produk hukum yang progresif dan kontemporer.

Oleh karena saya meyakini ilmu-ilmu yang diajarkan di pesantren memilki kemanfaatan dan kontribusi yang besar bagi bangsa ini, perlu kiranya para santri perkenalkan kepada istilah-istilah dan persoalan yang sedang berkembang hari ini. Supaya mereka bisa mempersiapkan diri dengan matang untuk menghadapi persoalan mengenai kebutuhan bangsa ini dalam persoalan agama.

Saya menemukan dalam pendidikan pesantren terlihat masih membatasi diri dalam kebebasan berpikir, sehingga sering ditemukan kebuntuan dalam memberikan sebuah solusi persoalan hukum, contohya dalam persoalan bunga bank yang masih dipersoalkan, bagaimana masyarakat modern saat ini hampir tidak bisa melepaskan diri dari hubungannya dengan pihak perbankan sedangkan persoalan hukum bunga bank masih belum selesai.

Kekurangan dalam dunia pesantren adalah pendalamannya terhadap kajian usul fiqh, sehingga masih ditemukan kebingungan pada diri santri dalam mengkontekstualisasikan kajian hukum fikih kedalam persoalan real-nya. Hal ini adalah problem yang harus dibenahi.

Perlunya Reinterpretasi Kajian Fikih Klasik

Bagi saya, tidak bisa dipungkiri progresifitas sebuah keilmuan mutlak dibutuhkan, untuk menjawab persoalan baru yang muncul dengan sangat deras pada sekarang ini. Akan tetapi masalahnya adalah jika seseorang yang belum memiliki kapabilitas keilmuan baik secara pengetahuannya terhadap produk keilmuan yang sudah ada, atau manhaj-nya (metodologi) melakukan reinterpretasi dan menelurkan produk pemikiran baru, atau bahkan manhaj baru.

Dalam dogmatis santri salaf menyatakan bahwa seseorang baru diperbolehkan keluar dari sebuah dogma keilmuan atau madzhab dengan melakukan reinterpretasi terhadap al-Quran atau Hadis secara langsung, jika seseorang tersebut sudah mencapai derajat Mujtahid. Persoalannya adalah untuk menjadi seorang mujtahid tidak seperti menjadi profesor, yang dengan melakukan penelitian terhadap satu hal, lalu melahirkan satu produk pemikiran baru setelah dilakukan uji kompetensi dihadapan para ahli.

Tingkat progresifitas santri tidak harus sampai pada tingkatan mujtahid yang mampu melahirkan metodologi terbaru dalam usul fiqh, seperti yang dilakukan oleh para pemikir kontemporer seperti Abdullah Saeed, Ahmad Syahrur, Fadlur Rahman dan lain-lain. Akan tetapi lebih diarahkan kepada pemahaman terhadap bagaimana manhaj seorang mujtahid dalam melakukan qiyas al-hukm (analogi hukum).

Mengkaji secara khusus metode qiyas, istihsan, maslahah mursalah dan pemahaman terhadap pemetakan antara permaslahan qothi dan dzanni, harus dilaksanakan menjadi mata pelajaran tersendiri serta mulai membuka diri terhadap metode disiplin ilmu kontemporer yang berkembang pesat saat ini.

Kajian terhadap kitab kuning harus mulai memakai perspektif histori dan geografi, supaya lebih mendukung terhadap pemahaman usul fiqh sehingga diharapkan para santri menjadi mampu memetakan mana yang usul dan yang furu. Ketakutan santri dalam melakukan reinterpretasi adalah persoalan kekeliruan dalam memandang sebuah masalah, apakah masuk dalam ranah ijtihadi atau qathi.

Para santri harus mulai diarahkan kepada persoalan bagaimana seorang mujtahid mencetuskan sebuah hukum, ini haram, itu halal dengan pengetahuan usul fiqh dan pertimbangan histori sosiogeografi. Saya kira hal ini akan meningkatkan jiwa kritis santri sehingga pondok pesantren menjadi penyuplai terbesar produk-produk intelektual muslim yang selama ini menjadi harapan bangsa se-majemuk Indonesia ini.