sumber karikatur : 4.bp.blogspot.com

 

Pendidikan merupakan salah satu bentuk pemberdayaan manusia yang terbaik. Kualitas masyarakat akan ternilai dari sebuah pendidikan yang terselenggara dengan baik. Indonesia dalam proklamasi kemerdekaan 1945 mengamanatkan tentang perwujudan masyarakat yang cerdas. Masyarakat yang cerdas berarti masyarakat yang pancasilais, memiliki cita-cita dan harapan masa depan, demokratis dan beradab, menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dan bertanggunng jawab, kooperatif dan kompetitif, berakhlak mulia, tertib dan sadar hukum serta mempunyai kesadaran dan solidaritas antargenerasi dan antarbangsa. (Tilaar, 2000:32)

Reformasi pendidikan selalu digembar-gemborkan dan bahkan menjadi wacana yang tak pernah berujung. Terkait dengan wacana reformasi pendidikan, salah satu tujuan dari terselenggaranya pendidikan nasional tertuang dalam Tap. MPR RI No. IV/MPR/1978 dan TAP MPR RI No. II/MPR/1983tentang GBHN dirumuskan, bahwa pendidikan nasional berdasarkan pancasila bertujuan untuk meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, keterampilan dan kecerdasan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangun yang dapat membangun dirinya sendiri dan bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.

Penyelenggaraan pendidikan nasional selalu dilandasakan dan didasarkan pancasila, sehingga akan timbul pertanyaan tentang bagaimana pendidikan nasional yang sesuai dengan pancasila?. Disamping itu, dalam halnya pembangunan sumber daya manusia,proses pendidikan sangat berperan didalamnya. Sehingga masyarakat pancasilais akan terbentuk dari sebuah proses pendidikan yang baik. Oleh karena itu, pertanyaan keduanya ialah bagaimana kriteria pendidikan yang baik?

Demi mewujudkan pendidikan yang berkualitas Indonesia telah mengalami berbagai reformasi perihal pendidikan. Mulai dari kurikulum, sistem pendidikan dan bahkan akhir-akhir ini sedang geger soal Full Day School. kesemuanya belum bisa mencapai puncak dari sebuah pendidikan, bahkan pendidikan yang terselenggarakan telah pudar dari nilai-nilai pancasila. Perlu diketahui jika keberadaan pendidikan tak lepas dari keberadaan manusia, yang mana komponen dari pendidikan diantaranya peserta didik dan pendidik. Jadi, hakikat dari pendidikan sendiri berkenaan dengan hakikat manusia.

Selama ini pendidikan hanya berkisar pada guru yang mengajar, murid yang menerima pelajaran. Seperti mengisi air dari dalam gelas, murid hanya menerima dan tidak ada kebebasan untuk dirinya sendiri. Mirisnya, di Indonesia sendiri pendidikan bukan diarahkan untuk pembebasan diri dari penindasan malahan untuk developmentalisme yang berorientasi ekonomis. Model pendidikan seperti itu pernah dipraktikkan pada masa orde baru, orientasi dari pendidikan masa itu untuk memenuhi target-target tertentu seperti pengentasan buta huruf, pelaksanaan wajib belajar 9 tahun atau 12 tahun. Pendidikan developmentalisme ini pada akhirnya mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi. (Tilaar, 2000:34)

Berangkat dari permasalahan tersebut, teori-teori tentang hakikat pendidikan tumbuh subur dikalangan para filosof. Salah satu tokoh yang mencetuskan teori pendidikan ialah Paulo Freire, pemikirannya didasarkan pada realitas sosialdan penindasan yang harus dihapuskan melalui pendidikan. Cara pandang Paulo Freire seperti ini membuahkan pendidikan yang berorientasi pada pembebasan.