Heri Mujiono, salah satu penghayat kepercayaan Ngesti Kasempurnan di Kab Magelang. Foto: Rais.doc

Justisia.com – Pancaran senyum menggambarkan kebahagiaan laki-laki berumur 32 tahun itu. Setelah membaca berita putusan Mahkamah Konstitusi yang dibagikan oleh kawannya melalui grup whatsapp Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) Provinsi Jawa Tengah.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XIV/2016 yang disahkan pada Selasa 07 November 2017 berimplikasi pada penghayat kepercayaan berhak menuliskan kepercayaanya di kolom agama atau keperayaan pada Kartu Tanpa Penduduk Elektronik (KTP-el) dan Kartu Keluarga (KK) yang sebelumnya dilarang oleh peraturan.

Kebahagian yang dirasakan Heri Mujiono (32) beriringan dengan harapan bahwa kepercayaan Ngesti Kasampurnan yang selama ini ia anut mendapatkan pengakuan mutlak dari pemerintah. Sebagaimana agama-agama di Indonesia. “Kepercayaan batin juga agama, kan Ngesti Kasampurnan sama-sama mengajarkan bertindak yang baik seperti agama lainnya. Asli nusantara pula,” ucapnya.

Muji, panggilang akrabnya, mengaku seringkali mendapatkan cerita dari teman-teman penganut lainnya dicibir oleh masyarakat sekitar karena kolom agama pada KTP-nya bertuliskan strip. “Kadang kupingnya panas, Mas. Dibilang begitu terus,” lanjutnya.

Sambil duduk sila dan mendekatkan asbak ke reporter Justisia.comPria asli kelahiran Magelang itu, melanjutkan pembicaraannya. Keresahan kolom agama tersebut kini sudah terjawab oleh putusan MK, dirinya menginginkan kolom agama tertulis kepercayaan yang dianutnya, Ngesti Kasempurnan. Akan berdampak pula pelayanan pemerintah terhadap penghayat dan tidak ada cerita diskriminasi karena alasan kepercayaan tidak diakui secara administratif.

“Udah tidak ada lagi cerita seperti dulu,” ungkapnya.

Sebelum keputusan MK, Muji (32) berulangkali menerima aduan dari warga kepercayaan terkait pembuatan KTP tanpa kolom agama. Permasalahan seperti itu MLKI Kabupaten Magelang langsung turun tangan menyelesaikan ke dinas terkait. Langkah ini dinilainya baik serta memberikan pengetahuan kepada aparatur sipil negara bahwa kepercayaan itu ada. “Kalau pemerintah dikasih tahu, kita jadi sering bertemu,” tegasnya sambil mengepulkan asap rokok sambil meneruskan perbincangan dikediamanya yang terletak di Dusun Kalibening, Desa Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Selasa (14/11) siang.

Ngesti Kasempurnan salah satu kepercayaan yang tercatat di Pemerintahan Kabupaten Magelang. Terdapat delapan kepercayaan lainnya, Kepribaden, Kejawen Urip Sejati, Pahoman Sejati, Sapto Darmo, Sumarah, dan Cahyo Buana.

Wahyu dari Parang Tritis

Jumlah penganut Ngesti Kasampurnan sekitar 300-an tersebar kecamatan Kaliangkrik, Bandungan, Sawangan, Ngablak, Pakis, Secang, Mertoyudan, dan Dukun. Di delapan kecamatan Kabupaten Magelang ini, terdapat dua sanggar peribadatan. Masing-masing terletak di Dukuh Mungkidan, Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan serta Kecamatan Candimulyo.

Selain di Kabupaten Magelang, Ngesti Kasampurnan juga tersebar di Kabupaten Purworejo, Semarang, Sleman, Bantul, Kota Magelang. Terdapat juga di luar jawa, seperti di Lampung dan Sulawesi Selatan. “Istri saya juga Ngesti Kasampurnan asal Sulawesi Selatan,” sambil melempar senyum pada istrinya yang baru ia persunting satu tahun lalu.

Ajaran yang digawangi oleh Romo Panutan yang bernama lengkap Rama Resi Pran-Soeh (RPS) Sastrosoewignjo yang kemudian disebut Rama Panutan-. Ia lahir di Dusun Banyu Temumpang, Kecamatan Sawangan. Putra dari Kyai Noto Trisula cucu dari Kyai Wiropati yang menjadi tangan kanan Pangeran Diponegoro. Ia (Rama Panutan) juga pernah menjadi juru tulis di Keraton Yogyakarta di masa Sultan Hamengkubuwono VII.

Ngelmu Kasampurnan didapatkan oleh Rama Panutan di Gunung Syeh Maulanan Parang Tritis, Yogyakarta pada 29 Agustus 1890 yang kemudian hari berdirinya Ngesti Kasampurnan setiap tahunnya. Kemudian, wahyu kedua ia dapatkan berupa Ilmu Kasukman Tiga Perangkat 29 Maret 1918. Mulai 1921 hingga 24 Oktober 1957, ajaran Ngeshti Kasampurnan disebarkan berupa Ilmu Kasukman Tiga Perangkat,”tulis Ki R. Poedjijo Prawirohardjono dalam buku Ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa Ngesti Kasampurnan.

Ajaran Ngelmu Kasampurnan berbuah menjadi Ngesti Kasempurnan, Pransoh, Adam Makrifat, Makrifat Batin dan Sabar Impen. Kesemuanya dibubarkan ketika isu Komunis mencuat pada tahun 1965. “(Oleh Orde Baru) disangka Komunis, karena tak bertuhan dan beragama,” kata Muji melirihkan suaranya. Ngesti Kasampurnan salah satu dari tiga organisasi yang mendeklarasikan organisasi pada 29 Agustus 1971, bertahan hingga kini dan mendaftarkan ke pemerintahan.

Ngesti Kasampurnan resmi terdaftar di Direktorat Binyet Dirjen Kebudayaan Depdikbud RI Nomor: I.177/F.3/N/1.1/1981 pada 31 Maret 1981. Enam bulan kemudian kepercayaan yang berpusat di Magelang ini mendapatkan Piagam Keanggotaan dari Himpunan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME (HPK) Pusat nomor 139/WARGA/HPK-P/VIII/1981 pada 17 Agustus 1981. Setahun kemudian, lahir Surat Keterangan Kejaksaan Negeri Kota Magelang nomor SKET.03/K.3.Mg.3/I/1982 di 28 Januari 1982. Pada tahun 2012 Paguyuban Ngesti Kasampurnan (Pangesti) resmi mendapatkan surat keterangan dari Kabupaten Magelang nomor 00-13-1319/0011/X/2012 tanggal 31 Oktober 2012.

Hari besar Ngesti Kasampurnan jatuh pada 29 Agustus sebagai pertama kali mendapatkan wahyu serta didirikannya Ngesti Kasampurnan dan 29 Maret pada wahyu kedua. Perayaanya di Sanggar Nuting Wahyu Kapisan. Perayaanya menggelar wayang kulit serta sembahyangan di sanggar.

Pria kelahiran tahun 1982 itu, menuturkan, pada 29 September juga dirayakan hari kelahiran Romo Panutan. “Perayaanya tidak setiap tahun. Nanti kita dikira memperingati Gerakan 30 September,” jelasnya sambil mengajak menyantap hidangan makan siang kepada reporter Justisia.com. Jika tidak digelar di sanggar, para penganut Ngesti Kasampurnan merayakannya secara pribadi di rumah salah satu penganut yang terdapat di dusun tersebut. (Red: Lesen / ed: Muft)