Problematika Anak Masa Kini

0
382
Sumber ilustrasi: smutplay.com

Oleh: Farikha Khoerunnisa’

Fenomena Kids Zaman Now sedang booming-booming-nya, karena lugu dan polos, anak zaman sekarang patut menjadi sorotan utama. Keingintahuan yang tinggi membuat anak kecil yang semestinya waktu mereka hanya untuk bermain dan belajar, tergantikan dengan persoalan orang dewasa.

Peristiwa ini didukung oleh teknologi yang semakin maju dan merata keseluruh penjuru daerah. Di era saat ini, semua mampu mengakses informasi, media sosial, salah satunya yang berperan penting untuk membagikan berbagai informasi sampai ke seluruh dunia. Sejauh dari Sabang hingga Marauke terasa begitu dekat. Dunia seakan dalam genggaman, handphone yang sangat multifungsi dan serba guna.

Hal demikian menjadi bumerang bagi anak yang belum cukup usia. Ketika mereka telah menggunakan Smart Phone, segala keinginan mereka dengan mudah dapat dicari dengan berselancar di internet. Banyak hal yang membuat mereka penasaran terhadap hal baru. Dari yang positif, seperti mencari materi pembelajaran, hingga yang negatif, yakni melihat konten-konten yang khusus orang dewasa.

Fenomena ini yang membuat orang tua geleng-geleng melihat kelakuan buah hatinya yang dewasa sebelum waktunya. Mula-mula si ortu mau membuat bahagia anaknya, dengan membelikan smart phone, eh bukan kebahagiaan yang dilihat, tapi kebobrokan moral yang terlihat.

Apalagi saat ini yang menjadi viral adalah status di media sosial, Facebook contohnya, yang menjadi tempat curahan anak di bawah usia, seperti menyatakan tentang cinta antar teman sekelas atau sekolah, atau bahkan pelampiasan kekecewaan mereka kerena diputusin pacarnya dan lain sebagainya. Padahal itu semua belum waktunya mereka bicara persoalan cinta.

Lebih parahnya, tersebarnya video di media sosial, salah satunya Instagram. Didalam video itu berlatar ruang kelas, didalamnya adalah murid SMP yang menonton teman laki-laki mereka dari belakang membawa sekuntum bunga menghampiri pujaan hatinya didepan kelas. Sontan teman-temannya bersorak-sorak dengan diberi backsound lagu-lagu cinta.

Dalam membedakan katagori orang dewasa dan anak-anak. Penulis melihat pasal 47 ayat (1) UU perkawinan yang menyatakan batasan usia 18 tahun, selanjutnya pasal 1 ayat (1) UU perlindungan anak, batasan usia 18 tahun. Jika anak SMA saja belum mencapai umur 18 tahun, maka dibawah tingkat SLTA masih dikategorikan sebagai anak-anak. Sehingga mereka sudah seharusnya masih dibawah kontrol orang tua, guru, dan keluarganya.

Imbasnya para pelajar, gedung sekolah bukan lagi sebagai tempat pembelajaran lagi, tetapi gedung sekolah sudah menjadi wadah untuk ajang mencari pasangan atau hanya sekedar bersenang-senang dengan teman-teman mereka. Andai mereka dibiarkan begitu saja tanpa adanya pengawasan yang serius baik guru maupun keluarga.

Selanjutnya, faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan sosial yang terjadi karena tontonan yang mereka lihat di televisi. Banyaknya sinetron yang memberi tema tentang cinta, film layar lebar tentang cinta. Ini yang membuat anak-anak zaman sekarang mencontoh apa yang mereka lihat. Apalagi mereka menonton televisi tanpa ada dampingan dari orang tua

Jadi semua ini masih menjadi PR besar untuk lembaga-lembaga yang bersangkutan serta peran orang tua sendiri dalam mendidik dan mendampingi anak-anak mereka dalam menonton siaran yang ditayangkan televisi. Sehingga mereka dapat membedakan mana perilaku yang patut mereka tiru dan mana perilaku yang harus mereka hindari.

Dengan ini, dapatlah terkontrol perilaku anak-anak dengan baik apabila dari orang tua dan lingkungan sekitar agar memberi ketegasan dalam memberi aturan dan arahan kepada anak mereka. Sehingga tidak ada pertanyaan pada benak anak-anak mengapa mereka tidak diperbolehkan sesuatu. Seperti tidak diperbolehkan memegang handphone pada umur-umur sekolah, sehingga mereka fokus belajar dan tidak memikirkan apa yang belum patut untuk dipikirkan.