seminar nasional dengan tema, "Teologi dan Technologi" di Audit 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang Jumat, (24/17). Foto: Inunk.doc

Justisia.com Peradaban masyarakat mengalami perubahan di setiap waktu, mulai dari masyarakat perdagangan, pertanian, industri, hingga masyarakat saat ini yang dikenal dengan masyarakat informasi. Pada masyarakat informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi memberikan dampak tersendiri terhadap teologi keagamaan.

Menurut Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humainora UIN Walisongo Mukhsin Jamil, mengatakan, bahwa otoritas keagamaan pada era technology mengalami kemerosotan, dikalahkan dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat.

“Sebelum adanya kecanggihan teknologi seperti saat ini, dahulu masyarakat dalam memberi nama anaknya ataupun acara-acara lain yang berkenaan dengan keagamaan, melibatkan pemuka agama disuatu tempat, namun pada saat ini cukup bertanya pada goggle,” ulasnya saat menjadi pembicara seminar nasional dengan tema, “Teologi dan Technologi” di Audit 2 kampus 3 UIN Walisongo Semarang Jumat, (24/17).

Ia menambahkan, seiring berkembangnya technology, agama sudah menjadi ladang bisnis yang diperjual belikan.

“Seperti fashion, pakaian yang menawarkan dengan memainkan peran agama, apalagi di moment bulan Ramadhan,” ungkapnya.

Disamping itu, pada era informasi keterbukaan publik seiring pesatnya tekhnologi, dan tersedianya beragam media yang gampang diakses, maka menjadi senjata yang mudah untuk menyebarkan apa saja, tak lepas yang berujung pada konflik kekerasan. Seperti beredarnya hoax.

Pendeta Izak Lattu sebagai pembicara dari UKSW Salatiga menjelaskan, bahwa Perang salib yang terjadi masa itu dikarenakan sikap kebencian yang diproduksi oleh hoax

“Seseorang pada menganggap orang lain sebagai musuh yang termakan oleh hoax,” terangnya,

Sebagai Informasi, Dr. Izak Lattu menggatikan Rektor UKSW, Prof. Jhon Tittely yang berhalangan hadir sebagai pembicara. (red: Ink/ ed: Muft)