Sumber Ilustrasi: medianews.com
Sumber Ilustrasi: medianews.com

Oleh:: M. Nur Arif Afendi

Budaya Timur telah khas melekat pada masyarakat di Indonesia. Peradaban mereka semakin berkurang bahkan hampir menghilang. Berkembangnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) ada beberapa dampak yang timbul dan mempengaruhi keadaan sosial yang ada dalam masyarakat. Sehingga menimbulkan beberapa tindakan yang tidak semestinya dilakuakan seorang anak terhadap orang tua.

Semakin ke arah zaman sekarang tidak dapat dipungkiri bahwa IPTEK sangat berkembang dari berbagai macam cabang ilmu pengetahuan. Salah satu dampak pada masyarakat atas berkembangnya IPTEK adalah gadget atau sering dikenal dengan HP. HP atau gadget selain berdampak positif juga banyakn sekali dampak negatifnya terhadap masyarakat. Pengguna dari handpone (HP) di masyarakat sudah tidak lagi mengenal usia dari anak-anak, remaja, dan orang-orang dewasa.

Dampak buruk yang timbul dari semua itu menjadikan kemalasan bagi para pemuda untuk melakukan kegiatan atau aktivitas diluar. Mereka lebih nyaman dengan dunianya daripada mendengarkan perkataan orang tua mereka. Bahkan beberapak kali saya menemukan di media sosial ada beberapa pemuda bahkan anak-anak baik wanita maupun laki-laki terekam membantah orang tua mereka bahkan berani memukul dan melawan orang tuanya. Di zaman Now anak-anak kecil bertindak tidak sewajarnya seperti anak kecil, remaja pun begitu mereka dengan santainya memperlihatakan perbuatan atau pergaulannya dengan lawan jenisnya. Tontonan mereka sudah melebihi batas mereka, dan itu sangat merusak moral bangsa Indonesia.

Meskipun banyak juga dampak postif yang di timbulkan dari berkembangnya IPTEK, kita bisa dibuat mudah dengan aplikasi-aplikasi mereka, untuk mengakses apa yang kita butuhkan atau kita tuju. Namun, tak sedikit moral para generasi bangsa yang telah rusak, salah satunya dengan semakin berkembangnya teknolgi di Dunia. Sering menjumpai dan mendengar dari tempat nongkrong bahkan waktu kuliah atau diskusi, seakan-seakan dunia ini sudah dikuasai dengan teknologi. Manusia bukan lagi penggerak atau menguasai teknologi, teknologilah yang sekaranag menguasai diri dan menggerakkan manusia. Dan, manusia pun sangat tenang dan terlena sehingga manusia lupa dengan apa yang seharunya mereka lakukan atau kerjakan. Parahnya, mereka tidak lagi bisa membedakan mana teman, keluarga, dan orang tua mereka, dari situ kadang timbul kontak fisik yang dilakukan anak terhadap orang tua, atau ketika mereka diluar lingkup keluarga ketika dengan orang yang lebih dewasa dari mereka, merka anggap sebagai adhik mereka atau lebih muda dari mereka.

Tindakan seperti itu juga sering jumpai di beberepa tempat yang saya kunjungi dan singgagi baik ketika perjalanan atau ketika menjumpai di jalan. Ketika di jalan sekilas melihat mereka nogkrongdengan teman-temannya namun, mereka tunduk dan fokus dengan apa yang mereka pegang. Banyak anak-anak remaja yang benar-benar melawan dengan orang tua, dan menurut saya tindakan itu benar-benar berani, itu di beberapa daerah Jepara. Daerah Pun saya juga pernah menjumpai dimana banyak anak-anak dan remaja yang selalu melawan orang tua, bahkan orang dewasa dimainkan dengan mereka. Bukan maksud yang dewasa harus di angungkan atau dihoramati, melainkan dimana andhap ashor (sopan santun) mereka terhadap yang lebih tua dari mereka itu yang seharusnya dilakukan atau diterapkan dalam sehari-hari.

Di dalam kitab Talimul Mutaalim sebagaimana yang dikatakan atau diterangkan, tindakan yang lebih muda terhadap yang lebih dewasa. Sebaliknya, yang lebih dewasa tindakannya kepada yang lebih muda itu bagaimana, jika itu terlaksana dengan baik, namun pada kenyataanya tidak. Malah yang sering terjadi itu siapa yang kuat itulah yang berkuasa tidak pandang siapa orangnya dan tidak pandang usia, semua di sama ratakan.

Tergesernya Sopan Santun

Dari kenyamanan manjadi kehilangan teman hanya karena suatu benda yang beratnya tidak mencapai 1Kg. Bukan hanya teman atau sahabat, karena terlena atau sudan nyaman dengan dunia seakan tidak mengetahui mana orang tua mana musuh atau lawan. Sehingga orang tua terkadang menjadi ajang pelampiasan anak ketika sang anak kurang puas atau yang lainnya.

Orang tua yang dulu selalu menjadi tempat untuk mengadu dan menangis, sekarang menjadi tempat untuk pelampiasan kurang kepuasan mereka. Bukan berarti salah orang tua yang selalu memanjakan anak-anaknya, tapi orang tua hanya ingin anaknya selalu bahagia dan bisa seperti teman-teman yang lainnya. Kebiasaan yang sebelumnya berubah kea rah negatif, setelah mengenal atau merasakan bagaimana enaknya bermain dengan gadget dan kumpul dengan teman-teman di luar, seakan lupa dengan rumah.

Sopan santun yang dahulunya diangakat dan diutamakan baik di dalam rumah maupun di luar rumah, hal tersebut adalah unsur yang sangat penting dalam menjalin silaturrahim. Sopan santun bukan hanya dalam lingkup keluarga dan halaman sekitar rumah atau lingkup bermain saja. Melainkan, kemana pun kita pergi dimana pun kita berhenti atau bertahan hidup, sopan santun sangat penting untuk kita bawa dalam berdialog dan tingkah laku kita dimana pun kita berada

Islam pun sudah mengatur bagaiaman akhlak kepada orang tua dll. Seperti yang dikatakan dalam AL-Quran “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ah dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”, (QS Al-Isra : 23-24).

Dalam ayat yang lain Allah juga memrintahkan kita untuk selalu berbuat baik kepada orang tua kita “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”, (QS Luqman : 14).

Manusia semoga selalu menjalankan dan megikuti apa yang dikatakan dan diperintahkan oleh Allah. Dan, selalu menjaga keharmonisan dalam menjaga kekluargaan dan silaturrahim, sebagaimana anak dan orang tua mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Terutama orang tua dan lingkup keluarga adalah peran terpenting dalam membangun karakter anak mereka.