Sumbe Ilustrasi: edunews.id

Oleh: Ainun Nisa

Jilbab, biasa orang menyebutnya, sudah menjadi bagian gaya hidup kaum hawa saat ini. Perkembangan dunia fashion modern menuntut jilbab untuk turut berevolusi dengan zaman, demi tetap mendapat hati para penggunnya. Jibab sebagai fashion lahir sebagai ekspresi menutup diri (aurat) di kalananagn Islam.

Rambut Wanita (Jilbab)

Dalam masalah jilbab, al-Asymawi mengomentari pendapat Thantawi yang mengatakan bahwa dirinya (Said al-Asymawi) mengabaikan penafsiran firman-Nya yang artinya “Dan janganlah mereka menampakkan hiasan mereka, kecuali apa yang tampak darinya,”(QS.an-Nur:31). Sesungguhnya argumentasi yang menunjukkan kewajiban hijab adalah redaksi ayat tersebut menurut Thantawi maknanya adalah larangan bagi wanita-wanita yang telah dewasa untuk menampakkan dirinya terhadap selain suami dan mahram mereka, kecuali wajah dan telapak tangan.

Dalam jawaban terhadap pendapat Muhammad Sayyid Thantawi di atas, al-Asymawi bahwa memang secara tegas penggalan ayat tersebut melarang wanita-wanita mukminah (perempuan mukmin) menampakkan hiasannya kecuali apa yang tampak darinya. Tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang makna mazhahara minha yang artinya apa yang tampak darinya.

Said al-Thantawi mengatakan, perbedaan para pakar hukum itu adalah perbedaan antara pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam konteks situasi zaman dan kondisi masa serta masyarakat mereka, bukannya hukum agama yang jelas, pasti, serta tegas. Ada diantara pakar hukum Islam yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan apa yang tampak dari mereka adalah celak mata, pacar tangan, dan cincin.

Tentu saja, apa yang dinamai oleh al-Asymawi “pandangan nalar dan runtutan pemikiran logis” di atas tidak dapat diterima oleh logika semua orang, karena membolehkan sebagian hiasan untuk terbuka, bukan berarti membolehkan terbukanya semua hiasan. Membolehkan yang sebagian itu, disebabkan karena mengharuskan ketertutupannya mengakibatkan kesulitan yang memberatkan wanita. Sungguh sangat sulit kehidupan ini dijalani oleh setiap orang, kalau wajah pun harus ditutup.

Kisah Muslimah Dalam Berhijab

Seperti telah saya sebutkan di atas, bahwa tak jarang wanita berjilbab dipengaruhi karena trending fhasion dan ingin turut dalam aktifitas sosial media. Tapi tak jarang pula wanita mengenakan jilbab atas niat dan keinginan sendiri untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang yang beragama Islam.

Bagi wanita yang hanya mengenakan jilbab diwaktu tertentu saja atau bahkan belum pernah memakai sama sekali, memandang wanita muslimah yang telah memantapkan diri dalam berjilbab, yaitu nyinyir seraya berkata “buat apa berjilbab kalau masih melakukan maksiat, munafik!”tentu berjilbab bukan berarti kita tak pernah berbuat kesalahan.

Jilbab dan akhlak itu dua hal yang berbeda. Seorang muslimah menggunakan jilbab karena ia merasa perlu memperbaiki diri dan sadar bahwa menutup aurat itu wajib hukumnya bagi pandangan Islam. Dan akhak ialah tergantung seseorang itu baik atau buruk. Namun, perlu kita ingat bahwa meskipun jilbab dan akhlak dua hal yang berbeda, haruslah kita sesuaikan keduanya dengan perlahan-lahan.

Begitu banyak keuntungan menggunakan jilbab, salah satunya adalah menjadi muslimah yang terlihat anggun dalam kesehariannya.