Kebudayaan Masih Tetap Ada

0
375
Sumber Ilustrasi: bapersip.id

Judul : Resfilosofi Kebudayaan, Pergeseran Pascastruktural

Penulis : Syaiful Arif

Penerbit : AR-RUZZ MEDIA

Cetakan : ke-I, 2010

Ukuran : 13,5 X 20 cm

Jumlah Halaman: 360 hlm

Peresessi : Sunandar

Perdebatan panggung kebudayaan hanya dijadikan sebagai pintu masuk dalam ranah politik, manusia, masyrakat , maupun seni. Dengan keadaan seperti ini, jelas akan menyisakan masalah dalam ruang saintivisme kebudayaan, dan tempat kebudayaan sebagai bidang otonom yang berbeda dari struktur politik yang melingkupinya. Menurut Leslie White, reduksi saintifik yang dengan pendekatan psikologi terhadap fenomena budaya, kebudayaan hanya bisa dilihat sebagai bias kausal dari pergulatan individu. Dengan demikian, dengan mengetahui apa yang terjadi dalam diri manusia, maka kebudayaan itu terumuskan.

Kebudayaan terjelma tidak hanya dalam langit supra- struktur marx, melainkan kebudayaan ada bersama bentuk dasar struktur manusia, yang dilekatkan pada aspek mental masyarakat, ideologi, politik, agama, seni dan kesadaran. Artinya, kebudayaan tidak lagi ditempatkan sebagai “ingkaran besar”, dimana gerak politik menjelma “lingkaran kecil” didalamnya. Kebudayaan menjadi sub-sistem dari sistem politik secara keseluruhan yang berfungsi untuk merekatkan integrasi sosial. Dari sini, klaim kebudayaan terpakai. Kedua politik representasional, disini studi budaya kontemporer masuk pada ranah bahasa, dimana kebudayaan tidak lagi merujuk pada akal, tetapi lebih kepada diferensialitas sistem.

Filsafat menempatkan budaya pada aras metafisis yang merujuk pada penempatan nilai sebagai aspek formal intrinsik. Ia tidak berbicara kebudayaan sebagai norma atau bagaimana kebudayaan dibentuk oleh representasi. Kebudayaan lebih berhasrat menggali kebudayaan secara ontologis sehingga ,menemukan inti, dari jiwa, atau hakikat kebudayaan. Dalam hal ini, alam kodrat dilihat sebagai causa formalis yang membentuk kesatuan antara kebudayaan subjektif dengan ruh objektif.

Kebudayaan dalam pendekatan nilai dimaknai sebagai kempurnaan tata hidup, dimana “yang ruhani” menjelma basis dan supra-struktur atas infrastruktur “yang materi”. Dari titik ini, filsafat kebudayaan menyatakan, jika yang mengikuti dinamikanya sendiri, berarti terlepas dari kesadaran akan kebutuhan masyarakat, dan tercabut dari kebudayaan. Nilai ilmu pengetahuan , baik science maupun humanities, dibentuk bukan oleh mutu masing-masing, melainkan oleh kedudukanya dalm seluruh pola kebudayaan. Dengan begitu, nila itu sendiri tetap ada, strukturalisme dan pascastrukturalisme yang bergerak pada domain sistem dan politik bahasa, tidak dengan sendirinya meniadakan secara epistemik , tidak bebas nilai karena tergerus oleh kepentingan pembentukanya.

Pada perkembanganya, setelah kebudayaan terkritik oleh persfektif fungsional, budaya kemudian tergeret oleh strategi kebudayaan. Pergeseran dari “apa kebudayaan”, menjadi “bagaimana kebudayaan” memberikan manfaat bagi masa depan manusia, terkhusus dalam rangka lestarinya kebudayaan itu sendiri. Oleh sebab itu, kebudayaan harus memilik otonomi relatif, sehingga tidak hanya terjebak dalam fungsionalisme melainkan lebih kepada pemahaman atas cara manusia dalam membudayakan lingkunganya.

Menurut Prof Van Peursen, digerakan pada pengelolaan konsep kebudayaan atau peralatan konsep kebudayan. Dengan kedua konspesi ini, filsafat kebudayanan bukan lagi ada untuk tujuan sendiri, melainkan sebuah alat merenungkan kebudayaan. Pengelolaan atau peralatan tersebut dapat diamati dua pergeseran kebudayaan. Dahulu, kebudayaan selalu didefinisikan sebagai manifestasi dari kehidupan luhur dan bersifat ruhani seperti agama, seni dll. Akhirnya muncul cultur bias , ketika bangsa-bangsa yang belum sepenuhnya memiliki budaya adiluhung dianggap tidak memiliki budaya.

Pergeseran yang kedua terjadi pada konsep kebudayaan yang semula merupakan kata benda menjadi kata kerja. Yang mana, kebudayaan bukanlah produk pemikiran estetika dan isntitusi sosial yang sudah jadi dan baku, melainkan kebudayaan lebih dimaknai sebagai kegiatan manusia dalam mengolah hidup. dengan demikian, tradisi dalam kaitanya disini, tidak dimaknai sebagai benda yang harus di elus-elus, tetapi sebuah proses penerimaan, penolakan serta perubahan sesuai kondisi zaman. Bentuk lainya selain otosentrisitas adalah ontologi. Dimana, manusia tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan misits, tetapi secara bebas meneliti segala sesuatu. Disini ia memiliki aspek fungsional karena memahami berarti membebaskan diri dari kepungan, yang mana ada yang begitu saja menimpa manusia. Ghal ini bahkan tidak membeaskan karena manusia tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya,alam dan kehidupan.

Dari atas filosofis nilai, kebudayaan kemudian terbumikan pada praksi kehidupan. Faktor inilah yang menyebabkan budaya tergeret pada domain antropologis, satu domain yang menahbiskan atas suatu pengkajian budaya. Antropolog sebagai metode pengkajian budaya memiliki ragam usaha, bagaimana cara-kaji sehingga pengkaji mampu menemukan makna hakiki dan prosesw kebudayaan tergerak di masyarakat. antropologis mengalami pembelahan . yang pertama mengacu pada metodologi yang menahbiskan suatu matrealisme kebudayaan, dan kedua merujuk pada simbolisme kebudayaan. Dari situ, kita menyimpulkan, titik sentral kebudayaan antropologis ter;etak pada posisinya sebagai medium bagi manusia untuk berinteraksi dengan kehidupan. Antropologis terlepas dari perbedaan setiap paradigma, dan memosisikan manusia sebagai, hewan maknawi yang berinteraksi dengan alam melalui simbol.

Dari sinilah,bahwa kebudayaanlah yang membedakan manusia dengan binatang. Aspek representasi simbolik menjadi pembeda, karena manusia memiliki filter untuk menyaring dunia sekaligus mengendalikan aspek instingitif yang menyamakanya dengan binatang. Dari sini lahir pendekatan ideasional yang menempatkan kebudayaan, bukan sebagai sistem adaptif, melainkan sebagai sistem simbolik. dari sinilah, antropolog interpreatif menemukan ruangnya. Geertz mendefiniskan kebudayaan sebagai sistem keteraturan dari makna dan simbol, yang dengan makna tersebut , individu mendefinisikan dunia, mengepresikan perasaan, dan membuat penilaian. Agama bagi Greezt adalah sistem simbol. Dimana simbol tersebut mampu mengukuhkan kedalaman nilai terhadap motivasi manusia untuk diformulasikan ke dalam kaidah pemikiran dan formula sosial yang ideal tentang dunia.

Setelah kebudayaan dijelaskan dalam persfektif, fungsional, nilai maupun strategi. Disini akan dijelaskan bagaimana kebudayaan pasca modernitas. Dari sini, antropologi menghadapi postmodernitas. Pergeseran situasi posmodernitas, terkhusus dalam ilmu sosial bisa ditelusuri melalui kritik metodologis yang merujuk pada anti positivisme. Kenapa? Karena modernisme merupakan kritik atas bebrbagai standarisasi nilai yang oleh modernisme dilahirkan oleh adaptasi pengkajian sosial atas ilmu alam. Situasi posmodernisme dari kebudayaan adalah hilangnya aura dalam seni. Aura tertahbis sebagai asosiasi cenderung mengumpul di sekitar objek persepsi. Aura ditandai dengan perasaan reflektif, unik, dan pengalaman akan keabadian dari satu karya seni. Jadi, seni menjadi media kontemplasi yang diletakan dalam wilayah sakral keindahan. Pengalaman ini secara esensial terbentuk melalui gerka ritual yang terpancar dari seni otentik.

Dalam sistem budaya, sering kita menganggapnya sebagai kebenaran awam. Kebudayaan kehilangan rem moral dan orientasi pengajaran totalitas kesempurnaan disebabkan ia ditempatkan di tempat partikular dari sistem politik. Fungsionalisme struktural kemudian menggerkan situasi ini, dimana pergulatan kebudayaan sudah bergeser dari hakikat nilai kepada manfaat nilai. Van Peursen menggerakan strategi kebudyaan fungsional berangkat dari kebutuhan untuk tidak hanya mencari hakikat kebudayaan, tetapi bagaimana memanfaatkanya demi kemaslahatan manusia. Dalam hal ini terjadi pergeseran konsepsi sistem dari orientasi metafisik kepada fungsional. Metafisika, yaitu pengertian lama tentang sistem berintikan suatu subtansi tetap dan tidak berubah,. Sementara orientasi fungsional ialah sistem tidak dilihat sebagai subtani yang menjadi dasar rasional dan batas penyempurnaan.

Pengkajian kebudayaan menemukan titik temu, yaitu ruang. Penempatan ruang otonom dari kebudayaan, yang berbeda dari politik, khusunya negara. Kebudayaan merupakan suatu tatanan fenomena tersendiri, yang memiliki bangunan sistemiknya. Hal ini masuk pembedahan kedua, yakni studi struktur internal filsafat kebudayaan yang dilakukan melalui penggalian nilai-nilai kultural yang tidak melulu mengacu pada penceraha Eropa. Jadi, apa yang disebut Timur bukan sekedar “geografi Imajinatif” yang dilahirkan untuk me-liyan kanmasyarakat non-Barat, sebagai yang terbelakang, tak beradab, oleh karenanya perlu di modernisasikan. Setiap masyarakat memiliki energi dan mekanisme modernitasnya sendiri, sehingga tak semata mencerminkan dari modernisme universal, penggalian tentang nilai lokal yang secara apistemik terbedakan dengan nilai mainstream, akan semakin mengukuhkan kuasa kebudayaan, karena ia mampu menggelarkan kekayaan nilai spiritual yang ada disetiap lekuk kebudayaaan masyarakat. Oleh sebab itu, kesimpulan dari tema ini adalah kebudyaan lingkaran besar, dimana segenap sub-sektor kehidupan harus tunduk pada lingkaran itu, tunduk pada filosofis kebudayaan. Dari sinilah letak perbedaan studi kebudayaan dengan sebuah metodologi dengan kajian kebudayaan.