Kapitalisasi Aurat

0
562

Jilbab sebagai simbol tidak saja merupakan pengaruh dari beberapa aspek . Pada dasarnya perubahan ini bukan saja terjadi karena suatu rasa tidak tepat dengan keadaan dan budaya persesuaian antara pakaian dan konteks. Lebih dari itu, yakni berupa barang produksi. Tentu di sini kita tidak bisa memandangnya dengan sederhana, karena di dalam hal ini kita harus memikirkan batas-batas tersebarnya simbol jilbab tertentu dalam sebuah wilayah.

Soal mengapa kita tidak menggunakan konteks yang lain, misalkan suatu norma di dalam budaya tertentu, karena hal itu sama saja menjelaskan sesuatu kemudian membuatnya tercecer di lagi, dan kita harus melakukan hal yang serupa selama dua kali untuk melelanjutkan penjelasan lain.

Sebagai penyedia busana, perusahaan memegang peran sentral di dalam menyebarkan simbol-simbol yang menunjukkan suatu kelas tertentu. Penyebaran informasi tentang busana model baru secara bebas dapat dikatakan berpotensi membikin suatu kotak-kotak tertentu, yang merupakan batasan-batasan konseptual yang diwakili oleh simbol-simbol tersebut.

Sedikit menyinggung media, bahwa iklan-iklan yang terpampang membuat masyarakat mengalami percepatan melek busana, di mana kesempatan ini dimanfaatkan oleh para produsen pakaian untuk menyebarkan ide-ide tentang mode yang mempengaruhi perilaku berbusana. Pada tataran tertentu, perilaku berbusana ini merupakan simbol nyata, dalam menandai kotak-kotak persebaran konseptual dalam masyarakat tentang busana.

Perilaku berbusana jilbab merupakan suatu konvensi yang khusus dalam suatu wilayah. Seperti di kampus, di mana keumuman hampir menjadi suatu keharusan untuk membuat dirinya merasa percaya diri. Hal ini berkaitan dengan produksi jilbab, meskipun alibi umum dalam menciptakan perilaku berdasarkan melek busana adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia-manusia fashionable.

Perkawinan antara budaya komunikasi dan budaya industri (industri mode) memberikan pengaruh cukup signifikan dalam persebaran ide-ide stereotipe. Seperti definisi awal soal aurat, bahwa aurat berkembang karena stereotipe budaya yang mengikat suatu komunitas masyarakat, di mana pada permulaannya berasumsi sebagai bagian tubuh, namun selanjutnya sampai pada mode itu sendiri, yakni perasaan malu ketika tidak menggunakan busana seperti sekitar.

Produksi “Aurat”

Hal ini sekilas terlihat konyol, akan tetapi ketika moral semakin terdegradasi, aurat akan berpindah dari menampakkan bagian tubuh menjadi persesuaian busana, dan ketika busana sama-sama mengalami degradasi, maka hal itu juga akan menarik seseorang yang ada di dalamnya menuju ke grade terbawah dari suatu stereotipe yang kita miliki tentang berpakaian yang pantas.

Oleh sebab itu, produksi menentukan arah di mana aurat berkembang dalam konteks kapitalisme busana. Karakter dominasi berdasarkan ekspansi pasar menentukan bagaimana perilaku masyarakat mendukung penjualan produknya dan menguntungkan di sisi ekonomi dan kebudayaan. Di sini, dalam antitesis yang dikemukakan Marx, di mana dapat juga dikatakan sebagai struktur dominasi yang mengarah kepada penindasan budaya antar kelas.[1]

Nilai-nilai atas kepentingan produksi kapitalis ini dikatakan telah menguasai outline-outline mendasar tentang aurat dan busana. Jadi, pada tataran ini seseorang memang telah dikendalikan di dalam perilaku busananya secara keseluruan.

Perkembangan aurat dan busana merupakan digerakkan oleh struktur budaya dan historis di masyarakat. Pada asalnya memang aurat hanya sebatas anggota tubuh yang dinilai memalukan ketika ditapakkan. Beranjak dari psikologi fashion yang membicarakan rasa percaya diri dan tidak dalam memakai busana dalam konteks persesuaian budaya berpakian pada yang umun dan berkaitan dengan nilai budaya masayarakat.

Namun seiring perkembangan struktur ekonomi kapitalisme yang semakin menghegemoni, nilai-nilai aurat berkembang mengikuti tren mode pakaian yang diproduksi. Langkah pertama yang terjadi adalah kaum kapitalis menyeberkan nilai-nilai yang berhubungan dengan makna pakaian, lalu menyerambah dengan mengeluarkan produk-produk yang sesuai dengan perkembangan lebih lanjut dari nilai yang mereka sebarkan sendiri.

[1] James A. Caporaso dan David P. Levine, Theories pf Political Economy. Edisi Indonesia diterjemahkan oleh Saifuddin Zuhri Qudsi dengan judul Teori-teori Ekonomi Politik, (Yogyakarya: Pustaka Pelajar, 2nd.ed: 2015), hal 128.

 

(Salah satu tulisan di Jurnal Justisia “Dekonstruksi Aurat” Edisi 45, berjudul “PERKEMBANGAN AURAT DAN BUSANAHubungan Konsep Aurat dengan Busana Sebagai Budaya Produksi”oleh Mustakim)