Bulan Depan, Desember !

0
385
sumber ilustrasi : maxresdefault

Bulan Depan, Desember !

November, Rain !

Hujan rintik di depan fakultas tak menghalangi semangat para mahasiswa untuk masuk ke kelas. Menunggu dosen sambil duduk . Terlihat dari kejauhan ia terpogoh-pogoh menggendong tas hitam berisikan komputer jinjing berisi lembaran absen. Peci hitamnya tampak pudar warnanya. Celana hitamnya tak lagi klimis akibat cipratan air di depan kantor dekanat.

Dingin amat dekat dengan hujan. Namun, airnya tak selalu menghasilkan kedinginan. Angan setiap orang, hujan identik dengan udara dingin. Hawa itu tak berlaku bagi insan-insan terdidik yang tengah duduk santai di gedung perkuliahan. Ia kelewat panas melihat bulan depan. Bulan Desember.

Warung-warung kopi mendadak ramai dari hari-hari biasanya. Kantor-kantor birokrat mahasiswa mendadak di isi oleh orang-orang penting. Pamflet bergambar orang-orang terpilih terpampang dari pohon ke pohon. Papan pengumuman menjadi santapan tim sukses. Bulan Desember menarik untuk kita tunggu.

Besok ulangan akhir semester, kata dosen sambil menutup perkuliahan. Ekspresi mahasiswa berbeda-beda. Dipojok sana mereka duduk santai karena ulangan hanya mengulang materi yang sudah dipelajari. Di tengah kelas belasan mahasiswa berembug merencanakan saling tukar makalah. Ada pula mahasiswa keluar dari kelas sambil terbayang. Ini bulan Desember.

Ketika duduk di kantin kampus ditemani segelas kopi dan sebatang rokok. Tak sengaja selembar kertas jatuh lalu terinjak oleh seorang wanita yang kulihat juga wajahnya di depan kampus. Ku ambil dan kubersihkan selembar kertas itu. Logo dipojok kanan atas berbentuk kotak itu bertuliskan Komisi Pemilihan Mahasiswa kuberikan kepada si empunya. Aku teringat, ini bulan Desember.

Tak berlama-lama dikantin, aku berjalan menuju taman di seberang kampus. Tiba-tiba dari kejauhan tampak sebuah gawai tergeletak ditengah jalan. Pikirku, pemiliknya tak menyadari telepon genggamnya jatuh. Gawai pabrikan Cina itu selalu berbunyi nada dering pesan whatsapp masuk. Beruntung aku dapat membuka karena tak terkunci pola. Kucoba menghubungi salah satu kontak tersering dikirim pesan pribadi. Disaat itu, aku melihat jumlah pesan whatsapp masuk bernamakan partai kontestan pesta demokrasi. Kembali ingatanku melayang pada bulan Desember.

Genderang itu akan segera. Ditabuh. Dipukul. Diresmikan. Dinyatakan. Dipilih. Diresmikan. Hingga dilantik. Semuanya bermula di bulan Desember.

Tak perlu berkecil hati di akhir bulan November. Menikmati hujan disetiap sore meski sesekali kelabakan kala jemuran lupa diangkat dari tempatnya. Kedinginan obatilah dengan secangkir kopi ditemani sebatang rokok. Jika kantuk menyerang, taruhlah badan sejenak di atas kasur lantai.

Bersikap dewasa dari hari ke hari, minggu ke minggu, hingga bulan ke bulan. Meski Maulud istimewa dikalangan khalayak mahasiswa genderangnya tak sekencang bulan Desember. Berdebatlah hingga dahaga dan kreativitas itu tercurahkan. Bertarunglah selagi tubuh dan jiwa selaras. Bersalamanlah dikala peluit akhir pertandingan ditiup wasit.

Desember akan tetap hujan meski tak mendinginkan pikiran.