Warga mengirab sesaji yang akan dilarung di Telaga Ngebel, Kab. Ponorogo, Jatim, Selasa (5/11). Larung sesaji di telaga tersebut merupakan kegiatan budaya yang digelar untuk menyambut Tahun Baru Islam 1435 Hijriyah. Sumber Foto: beritadaerah.co.id

Oleh: Adetya Pramandira

Ajaran Islam yang masuk ke Indonesia khususnya pulau Jawa dibawa oleh para pendakwah dari berbagai belahan dunia. Para pendakwah tersebut diantarannya adalah Walisongo yang bersikap terbuka dan toleran terhadap agama dan kebudayaan yang telah ada. Mereka tidak serta merta mengubah tradisi masyarakat Jawa, namun sedikit demi sedikit memasukan ajaran-ajaran Islam

Hal yang demikian menjadikan Islam mudah diterima dan cepat tersebar di tanah Jawa. Namun, hal itu menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif tersebut adalah timbulnya varian Islam yang disebut agama Islam Jawa atau Islam Kejawen, yang mencampurkan kepercayaan Pra-Islam seperti Animisme, Dinamisme, Hindu serta Budha dengan ajaran Islam.

Hal tersebut didukung oleh Karl Mark yang menyatakan bahwa penduduk Jawa sekarang adalah Kristalisasi dari bermacam-macam agama ke-Tuhanan dan agama Dewa-dewa (Animisme). Ia bukan seorang animis, bukan seorang Hindu, bukan seorang Budha, bukan seorang Kristen dan bukan juga seorang Islam yang sejati. Indonesia menurut alam, tetapi Hindu-Arab dalam pikirannya.[1]

Pemeluk agama Islam di Jawa terbagi kedalam Islam sinkretis dan Islam puritan (murni).[2] Merujuk pendapat Fachry Ali dan Bachtiar Efendi, Sinkretisme memiliki dua pengertian yaitu, bercampurnya agama Islam dengan nilai-nilai adat dan kepercayaan lokal yang telah ada sebelum Islam datang dan juga terjadinya percampuran ajaran Islam dengan nilai-nilai dan tradisi pedagang dari India dan Persia.[3]

Sementara itu menurut Koentjoroningrat Islam puritan adalah mengamalkan ajaran Islam yang taat pada tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah. Sedangkan sinkretisme adalah mencampurkan unsure-unsur pra-Hindu, Budha dan Islam.

Adanya Islam sinkretisme ini menimbulkan budaya-budaya baru dengan nuanasa Jawa bercampur Islam, semisal budaya kesenian Wayang. Agar manusia selalu ingat kepada Allah dan Rasul-Nya,maka para Wali memasukan Syahadat itu dalam cerita wayang dengan nama Jimat Kalimasadha (Jimat adalah sesuatu yang dipundi-pundi atau dijunjung tinggi karena dipercayai bertuah, sedangkan Kalimasadha adalah kalimat Syahadat). Jimat Kalmasadha ini dijunjung tinggi oleh Pandawa, dan disimpan dalam mahkota Puntadewa. Hal ini merupakan simbol pentingnya nilai ajaran Islam yang terkandung dalam kalimat Syahadat.[4] Maka wayang ini terus dikembangkan dan menjai budaya yang dilestarika hingga saat ini.

Pengenalan kalimah Syahadat mealalui gamelan Sekaten (Syahadatain) juga dilakukakan. Sebagai seorang yang cerdas dan memahami budaya masyarakat Jawa, maka ketika akan menyampaikan ajaran agama Islam, sunan Kalijaga bersama Wali lainnya membunyikan gamelan yang dinamakan Sekaten di depan Masjid Demak. Gamelan itu terdiri dari dua macam, yang besar di beri nama Kyai Sekati dan yang kecil diberi nama Nyai Sekati.[5]

Keramaian dengan menabuh gamelan Sekaten itu, hingga saat ini masih dilestarikan oleh Kraton Yogyakarta dan Surakarta untuk memperingati Maulid Nabi dan menyongsong Hari Raya Idul Adha.

Dikalangan masyarakat Jawa yang memeluk agama Hindu, ada pula ritual untuk menghormati ruh nenek moyang dengan memberikan sajian berupa kue pada hari tertentu setelah pembakaran jenazah dan ritual itu dilakukan sampai turunan keenam.[6] Kemudian Islam masuk merubah sebagian ritual ini, yaitu dengan memanjatkan doa-doa kepada Allah SWT berupa tahlillan.

Budaya-budaya Islam Jawa seperti yang telah disebutkan di atas harus kita lestarikan sebagai wujud implementasi Islam terhadap keraifan budaya lokal. Namun, perlu juga penataan kembali struktur budaya Jawa Islam dalam berfikir dan berkarya dalam bidang kebudayaan. Agar budaya yang ada tidak bertentangan dengan ketentuan syariat Islam.

 

 

[1] Tan Malaka, , Menuju Merdeka 100%, (Yogyakarta:Narasi, 2017), hlm. 17

[2] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitaliasi Kearifan Lokal, (Semarang: UIN WALISONGO, 2015) hlm. 67

[3] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalia,.., hlm. 40

[4] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalia,..,hlm. 77

[5] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalia,..,hlm. 79

[6] Sri Suhandjati, Islam dan Kebudayaan Jawa Revitalia,..,hlm. 41